Liputan6.com, Jakarta - Finalisasi perjanjian dagang Indonesia–Amerika Serikat (AS) dengan penetapan tarif resiprokal sebesar 19% diperkirakan memberi dampak berbeda bagi emiten berbasis ekspor. Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai sejumlah sektor saham berpotensi mengalami tekanan, khususnya yang memiliki eksposur besar ke pasar AS.
Sektor tekstil dan garmen menjadi salah satu yang paling rentan. Selain itu, industri manufaktur tertentu, termasuk produsen ban dan komponen seperti GT radial yang memiliki pangsa pasar besar di Amerika Serikat, juga berisiko terdampak penurunan volume ekspor.
Advertisement
"Tentunya juga merupakan efek, misalnya dari adanya penetapan resiprokal tarif sekitar 19%. Apalagi terhadap produk-produk yang terkena itu kan biasanya kan tekstil dan garmen, belum lagi manufacturing. Kita juga produksi GT radial, misalnya di Amerika Serikat. Yang memiliki pangsa-pangsa terbesar di Amerika Serikat, tentunya ini juga berefek,” ujar Nafan kepada Liputan6.com, Senin (23/2/2026).
Tak hanya itu, sektor perikanan dan udang turut menghadapi tantangan. Dengan adanya tarif tersebut, daya saing harga produk Indonesia di pasar AS berpotensi tergerus, sehingga bisa menekan kinerja emiten yang selama ini bergantung pada ekspor ke Negeri Paman Sam.
"Lalu juga ada fisher sector, sektor perikanan maupun juga udang,” ujarnya.
CPO dan Energi Justru Berpeluang Cuan
Di tengah potensi tekanan pada sejumlah sektor, ada pula industri yang dinilai justru diuntungkan. Nafan menyebut komoditas crude palm oil (CPO) dikecualikan dari kebijakan tarif tersebut, sehingga berpeluang mempertahankan bahkan memperluas pangsa pasar di Amerika Serikat.
Sektor Lainnya
Dia menuturkan, CPO Indonesia memiliki keunggulan efisiensi dibandingkan minyak nabati lain seperti bunga matahari maupun kedelai. Dengan pengecualian tarif, produk sawit domestik bisa lebih kompetitif dan memberi sentimen positif bagi emiten perkebunan.
"Tapi setahu saya, CPO dikecualikan dari penetapan tarif. Sehingga semuanya bisa memberikan benefit bagi produk CPO kita untuk bisa diterima oleh pasar di Amerika Serikat,” ujarnya.
Selain itu, sektor energi juga dinilai berpotensi mendapatkan angin segar. Permintaan terhadap energi konvensional seperti batu bara dan gas dinilai masih kuat, sehingga dapat menopang kinerja emiten-emiten energi di tengah dinamika kebijakan perdagangan global.
Emiten Konsumsi dan Perbankan
Nafan juga menyoroti emiten konsumsi yang memiliki basis pasar kuat, baik domestik maupun ekspor. Produk makanan dan minuman dari perusahaan seperti Indofood Sukses Makmur dan Mayora Indah dinilai relatif tangguh karena tidak hanya bergantung pada satu pasar ekspor.
“Untuk sektor lainnya yang fokus ke ekspor juga ada. Misalnya kalau kita punya Indofood, itu juga bisa. Dia ekspornya kuat. Lagi pula sebenarnya secara domestik juga kuat. Ada juga produk Mayora juga. Kalau tidak salah produknya ekspor juga,” ujarnya.
Di sisi lain, sektor perbankan juga disebut memiliki likuiditas yang memadai sebagai bantalan menghadapi sentimen global.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual saham. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.