Ramadan: Operator Liga Australia Kembali Dukung Pemain yang Berpuasa

A-League dan PFA kembali menegaskan komitmennya untuk mendukung pemain serta ofisial pertandingan yang menjalankan ibadah puasa Ramadan.

oleh Harley IkhsanDiterbitkan 27 Februari 2026, 14:00 WIB
Tim kasta tertinggi Liga Australia, Brisbane Roar. (Izhar KHAN / AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Operator kompetisi sepak bola Australia, A-League, bersama dengan Asosiasi Pesepak Bola Profesional Australia (PFA), kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung para pemain dan ofisial pertandingan yang menjalankan ibadah puasa Ramadan. Dukungan ini diwujudkan melalui kebijakan jeda khusus di tengah pertandingan, sebuah inisiatif yang pertama kali diperkenalkan pada musim 2023/2024.

Kebijakan ini bertujuan untuk memastikan kesejahteraan atlet Muslim tetap terjaga selama periode puasa, sekaligus menciptakan lingkungan yang inklusif di dunia sepak bola Australia. Ramadan tahun ini, yang diperkirakan dimulai pada 28 Februari 2025, akan menjadi periode penting bagi banyak individu yang terlibat dalam A-League.

Langkah progresif ini diharapkan dapat membantu para pemain dan ofisial untuk tetap fokus pada performa terbaik mereka, tanpa mengesampingkan kewajiban ibadah yang sangat penting bagi mereka. Kebijakan ini akan berlaku selama putaran-putaran krusial dalam jadwal liga, baik untuk kategori pria maupun wanita.

Kebijakan Jeda Khusus Selama Ramadan

ilustrasi

Kebijakan jeda khusus ini memungkinkan klub atau ofisial pertandingan untuk mengajukan permintaan jeda singkat setelah matahari terbenam. Jeda ini diberikan agar pemain atau ofisial yang berpuasa dapat berbuka puasa di tengah pertandingan, sebuah praktik yang sangat penting selama bulan suci Ramadan. Prosedur permintaan jeda ini telah ditetapkan dengan jelas untuk menjaga kelancaran jalannya pertandingan.

Permintaan jeda harus disampaikan kepada Match Commissioner paling lambat 90 menit sebelum kick-off. Permohonan ini dilakukan bersamaan dengan penyerahan 'daftar pemilihan pemain' untuk pertandingan yang berlangsung selama waktu matahari terbenam di sepanjang periode Ramadan. Hal ini memastikan bahwa semua pihak terkait telah mengetahui dan menyetujui adanya jeda tersebut.

Jeda yang diberikan akan berlangsung sekitar 90 detik, cukup untuk memenuhi kebutuhan berbuka puasa secara singkat. Waktu jeda akan disepakati bersama, disesuaikan dengan jadwal matahari terbenam, dan hanya akan dilakukan saat bola tidak dalam permainan serta berada di posisi netral. Selama jeda, pemain atau ofisial yang berbuka puasa diwajibkan untuk tetap berada di lapangan, dan waktu yang dialokasikan untuk jeda ini akan ditambahkan sebagai waktu tambahan (extra time) di akhir babak.

Pentingnya Inklusivitas dalam Olahraga

Ilustrasi sepak bola (Abdillah/Liputan6.com)

CEO A-League, Steve Rosich, menegaskan bahwa Ramadan merupakan perayaan yang sangat penting bagi banyak pemain, penggemar, dan ofisial pertandingan. Menurut Rosich, kebijakan jeda ini krusial untuk menjaga kesejahteraan pemain dan ofisial yang berpuasa. Lebih dari itu, inisiatif ini menunjukkan komitmen berkelanjutan A-League untuk menciptakan lingkungan di mana setiap orang merasa diterima dan disertakan dalam permainan.

Dukungan ini juga disambut baik oleh para pemain. Ali Auglah dari Central Coast Mariners, salah satu pemain yang menjalankan ibadah puasa Ramadan, menyatakan bahwa puasa adalah praktik yang sangat penting baginya, keluarganya, dan seluruh umat Muslim. Ia menambahkan bahwa jeda selama pertandingan sangat membantu mendukung performanya di lapangan. Auglah menyampaikan terima kasih kepada A-League, klub, dan PFA atas kerja sama mereka dalam mendukung pemain Muslim di liga.

Chief Executive PFA, Beau Busch, turut menyuarakan dukungan kuat terhadap kelanjutan jeda dalam permainan bagi pemain yang berpuasa Ramadan. Busch menekankan pentingnya inisiatif yang mengakui bahwa pemain adalah manusia terlebih dahulu. Tujuannya adalah untuk memastikan semua pemain merasa didukung dan dihormati di A-League, mencerminkan nilai-nilai sportivitas dan kemanusiaan.

Periode Ramadan di A-League

Ilustrasi Sepak Bola. (Photo by Emilio Garcia on Unsplash)

Periode Ramadan untuk A-League putra musim ini akan berlangsung antara Putaran 18 hingga 21. Ini mencakup beberapa pertandingan penting di mana para pemain akan menjalankan ibadah puasa sambil tetap berkompetisi di level tertinggi. Penyesuaian jadwal dan kebijakan jeda ini akan sangat membantu mereka dalam menyeimbangkan kewajiban agama dan profesional.

Sementara itu, untuk A-League putri, periode Ramadan berlangsung pada Putaran 18 dan 19. Meskipun durasinya lebih singkat dibandingkan dengan kategori putra, dukungan yang sama tetap diberikan untuk memastikan para atlet wanita juga dapat menjalankan ibadah puasa dengan tenang dan nyaman. Fleksibilitas ini menunjukkan perhatian A-League terhadap keberagaman dalam komunitas sepak bola mereka.

Kedua liga berkomitmen untuk memastikan bahwa semua pertandingan selama periode ini berjalan lancar, dengan tetap menghormati praktik keagamaan para peserta. Koordinasi yang erat antara A-League, PFA, klub, dan ofisial pertandingan menjadi kunci keberhasilan implementasi kebijakan ini. Hal ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi liga olahraga lainnya di seluruh dunia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya