Liputan6.com, Jakarta - Bacaan Sholawat Asyghil merupakan salah satu shalawat yang populer di kalangan masyarakat Muslim Indonesia, khususnya di lingkungan Nahdlatul Ulama dan pesantren. Shalawat ini rutin dilantunkan dalam berbagai majelis istighasah, acara keagamaan, bahkan menjadi pujian sebelum igamah salat di masjid-masjid.
Keistimewaan shalawat ini terletak pada redaksinya yang tidak hanya berisi pujian kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi juga mengandung doa perlindungan dari kejahatan orang-orang zalim.
Advertisement
Merujuk studi berjudul 'From Ritual to Resistance: Salawat Asghil in the Environmental Sturggle of The Wadas Community', oleh Sakehu, dkk sholawat Asyghil pertama kali dicetuskan oleh Imam Ja'far ash-Shadiq (w. 138 H), ulama besar dan cucu keturunan Rasulullah SAW yang hidup di akhir masa Dinasti Umayyah dan awal era Abbasiyah. Imam Ja'far rutin membaca shalawat ini saat doa qunut Subuh bersama jamaahnya sebagai bentuk perlindungan dari gejolak politik yang melanda.
Berikut ini adalah bacaan sholawat asyghil, maknanya yang mendalam, keutamaan hingga implementasinya dalam kehidupan komunitas masyarat.
Bacaan Sholawat Asyghil Teks Arab, Latin dan Artinya
Shalawat ini diabadikan dalam kitab kumpulan shalawat Al-Kawakib Al-Mudhi'ah fi Dzikr Al-Shalah 'ala Khair Al-Bariyyah karya Habib Ahmad bin Umar Al-Hinduan Ba'alawy (w. 1122 H), sehingga masyhur pula dengan nama Shalawat Habib Ahmad Al-Hinduan.
Berikut ini adalah bacaan sholawat asyghil lengkap arab latin dan artinya:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Latin: Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad
Artinya: Ya Allah, berikanlah sholawat kepada pemimpin kami Nabi Muhammad
وَأَشْغِلِ الظَّالِمِيْنَ بِالظَّالِمِيْنَ
Latin: wa asyghilizh zholimin bidz zholimin
Artinya: Dan sibukkanlah orang-orang zalim dengan orang zalim lainnya.
وَأَخْرِجْنَا مِنْ بَيْنِهِمْ سَالِمِيْنَ
Latin: wa akhrijna min bainihim salimin
Artinya: Selamatkanlah kami dari kejahatan mereka.
وَعَلَي الِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
Latin: wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in
Artinya: Dan limpahkanlah sholawat kepada seluruh keluarga dan para sahabat beliau.
Makna Mendalam Sholawat Asyghil, Analisis Linguistik dan Teologis
Untuk memahami kedalaman makna Sholawat Asyghil, mari kita telaah setiap frasa:
a. "Allāhumma shalli 'alā sayyidinā muhammad"
Bagian ini adalah sholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Frasa ini mengandung pengakuan akan keteladanan Nabi (uswah hasanah) yang selalu membela kebenaran dan menentang kezaliman. Dengan membaca bagian ini, seorang Muslim menegaskan komitmennya untuk mengikuti jejak Nabi dalam melawan ketidakadilan.
b. "Wa asyghiliẓ zhālimīna biẓ zhālimīn"
Ini adalah inti doa yang unik. Kata asyghil berasal dari akar kata shaghala yang berarti "menyibukkan" atau "mengalihkan perhatian". Doa ini memohon agar Allah menyibukkan para penguasa zalim dengan urusan sesama mereka sendiri, sehingga mereka tidak sempat mengganggu orang-orang lemah.
Para ulama menjelaskan bahwa doa ini mengandung hikmah bahwa kezaliman pada akhirnya akan menghancurkan dirinya sendiri. Ketika orang-orang zalim saling bertikai, umat Islam bisa bernapas lega.
c. "Wa akhrijnā min baynihim sālimīn"
Doa ini memohon keselamatan. Umat Islam tidak ingin terlibat dalam kekacauan yang ditimbulkan oleh orang-orang zalim. Mereka memohon kepada Allah untuk dikeluarkan dari situasi berbahaya tersebut dalam keadaan selamat, baik secara fisik maupun iman.
d. "Wa 'alā ālihī wa shahbihī ajma'īn"
Penutup sholawat ini mendoakan keluarga dan sahabat Nabi, sebagai bentuk penghormatan kepada mereka yang telah berjuang bersama Nabi menegakkan kebenaran.
Riwayat Sholawat Asyghil
Sholawat Asyghil berasal jauh pada masa akhir Dinasti Bani Umayyah yang berkuasa tahun 41 — 133 H/ 661 — 750 M dan awal berdirinya Dinasti Bani Abbasiyyah. Pergantian tampuk kekuasaan menjadikan kehidupan politik, sosial bahkan keagamaan menjadi terguncang. Ketidakstabilan politik berimbas kekacauan di mana-mana.
Pencetus sholawat ini adalah adalah cucu Rasulullah SAW yaitu Jafar bin Muhammad bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali Al-Murtadlo suami dari Fatimah Az-Zahra putri Rasulullah. Dia adalah cucu urutan kelima dalam silsilah garis keturunan Nabi Muhammad SAW.
Imam Jafar ini kemudian terkenal dengan Jafar Ash-Shadiq. Beliau merupakan induk sanad dari Abu Hanifah (pendiri Madzhab Hanafi) dan Imam Malik bin Anas (pendiri Madzhab Maliki). Sanad Imam Syafii merujuk pula kepada Imam Malik bin Anas.
Oleh karenanya, pencipta sholawat ini merupakan induk keilmuan yang legitimate dalam dunia Islam. Selain seorang cucu Rasulullah, Imam Jafar Ash-Shadiq juga orang yang sangat berilmu. Shalawat Asyghil dahulu tidak terlalu familiar dengan telinga orang-orang Islam di Nusantara, sampai beberapa waktu belakangan di populerkan dan di ijazahkan oleh ulama-ulama moderat.
Penelusuran tentang sholawat Asyghil ternyata tertulis dalam kitab Al-Kawakibul Mudhiah fi Ash-Shalati Ala Khairil Bariyyah atau dalam bahasa Indonesia bermakna “Gemintang Gemerlap dalam bershalawat kepada Sebaik-baiknya Kebaikan/ Rasulullah”.
Kitab ini merupakan karya tangan seorang Habib dari Tanah Tarim yaitu Habib Ahmad bin Umar bin Ahmad bin Aqil bin Muhammad bin Abdullah bin Umar Al-Hinduan al-Baalawi. Pengarangnya lebih terkenal dengan nama Habib Ahmad bin Umar Al-Hinduan.
Habib yang tumbuh besar di Tarim Yaman, dan sering mengunjungi India untuk berdakwah di sana. Habib Ahmad bin Umar Al-Hinduan wafat pada tahun 1122 H dan di makamkan di Tarim Yaman.
Perlindungan dalam Kondisi Berbahaya dan Hadapi Ketidakadilan
Pandangan ulama mengenai Sholawat Asyghil terekam jelas dalam berbagai kitab klasik dan kontemporer. Kitab utama yang mengabadikan sholawat ini adalah Al-Kawakib Al-Mudhi'ah fi Dzikr Al-Shalah 'ala Khair Al-Bariyyah karya Habib Ahmad bin Umar Al-Hinduan Ba'alawy (w. 1122 H).
Dalam kitab kumpulan sholawat tersebut, Habib Ahmad mencantumkan Sholawat Asyghil sebagai salah satu bacaan yang diamalkan oleh para ulama dan wali Allah, sehingga sholawat ini kemudian juga dikenal dengan nama Sholawat Habib Ahmad Al-Hinduan .
Para ulama sepakat bahwa Sholawat Asyghil pertama kali dibaca oleh Imam Ja'far Ash-Shadiq (w. 138 H), seorang ulama besar dan cucu keturunan Rasulullah SAW . Dalam Jurnal Studi Hadis Nusantara (2022) dijelaskan bahwa Imam Ja'far rutin membaca sholawat ini bersama jamaahnya saat doa qunut Subuh, terutama ketika ahlul bait mengalami persekusi oleh Bani Umayyah . Beliau berdoa agar orang-orang zalim disibukkan dengan kezaliman sesama mereka, sehingga umat Islam selamat dari kejahatannya. Prof. Ahmad Zahro dari Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum menegaskan bahwa konteks historis inilah yang melatarbelakangi lahirnya sholawat tersebut .
Dari perspektif sanad keilmuan, kalangan pesantren Nusantara meriwayatkan bahwa KH M. Anwar Mansur, Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, memperoleh ijazah Sholawat Asyghil dari KH Abdul Abbas Buntet Cirebon. Ini menunjukkan bahwa sholawat ini memiliki rantai periwayatan yang jelas hingga sampai ke Indonesia.
Para ulama menekankan bahwa meskipun redaksi sholawat ini tidak langsung dari Nabi (ghayr ma'tsurah), namun kandungannya sejalan dengan Al-Qur'an dan hadis, sehingga pengamalannya tetap sah dan dianjurkan.
Adapun pandangan tentang fadhilahnya, ulama menjelaskan bahwa sholawat ini berfungsi sebagai benteng spiritual dari kezaliman. Sholawat ini digelorakan oleh ulama sufi saat umat Islam dalam kondisi genting, seperti ketika Baghdad diluluhlantakkan oleh pasukan Mongol. Dengan demikian, Sholawat Asyghil tidak hanya dipandang sebagai pujian kepada Nabi, tetapi juga sebagai doa perlindungan dan senjata spiritual dalam menghadapi ketidakadilan.
Keutamaan Khusus Sholawat Asyghil
Para ulama menyebutkan beberapa keutamaan khusus Sholawat Asyghil:
1. Benteng dari Kezaliman
Keutamaan utama sholawat ini adalah sebagai benteng spiritual dari kezaliman penguasa. Dengan membacanya, seorang Muslim menyerahkan urusan perlindungan kepada Allah, Dzat Yang Maha Kuasa atas hati para penguasa.
KH. M. Anwar Mansur dari Lirboyo mengajarkan bahwa sholawat ini dapat menjadi perisai ketika menghadapi masa-masa sulit di mana kezaliman merajalela. Sejarah pembuatannya di masa penindasan Bani Umayyah membuktikan efektivitas spiritualnya.
2. Doa yang Mustajab
Sholawat Asyghil mengandung doa yang mustajab karena diawali dengan sholawat kepada Nabi. Dalam kaidah doa, mengawali dengan sholawat akan membuat doa lebih mudah diangkat ke sisi Allah. Imam al-Sha'rawi menjelaskan bahwa bertawassul melalui Nabi termasuk wasilah yang diperbolehkan.
3. Pemersatu Umat
Pengalaman masyarakat Wadas menunjukkan bahwa pembacaan Sholawat Asyghil secara berjamaah menciptakan ikatan batin yang kuat. Mereka merasa bersatu dalam satu tujuan dan keyakinan: melawan kesewenang-wenangan dengan jalan damai.
4. Mengingatkan pada Nilai Keadilan Islam
Sholawat ini secara implisit mengajarkan bahwa Islam menjunjung tinggi keadilan dan melarang kezaliman. Dengan rutin membacanya, seorang Muslim diingatkan untuk senantiasa berada di pihak yang benar dan melawan ketidakadilan, sesuai dengan firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ
"Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri..." (QS. An-Nisa' [4]: 135)
5. Menghadirkan Ketenangan Hati
Seperti halnya dzikir pada umumnya, membaca Sholawat Asyghil dapat menenangkan hati. Dalam konteks perlawanan, ketenangan ini sangat penting agar tidak terprovokasi melakukan tindakan anarkis yang justru merugikan perjuangan.
People also Ask:
Bagaimana bacaan shalawat Asyghil?
Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad wa asyghilizh zholimin bidz zholimin wa akhrijna min bainihim salimin wa 'ala alihi wa shohbihi ajma'in. Artinya: Ya Allah, berikanlah selawat kepada pemimpin kami Nabi Muhammad, dan sibukkanlah orang-orang zalim dengan orang zalim lainnya.
Apa arti shalawat Asyghil dan artinya?
Teks Shalawat Asyghil
Artinya: “Ya Allah, berikanlah shalawat kepada pemimpin kami Nabi Muhammad, dan sibukkanlah orang-orang dzalim agar mendapat kejahatan dari orang dzalim lainnya, selamatkanlah kami dari kejahatan mereka. Dan berilanlah shalawat kepada seluruh keluarga dan para sahabat beliau.1
Sholawat Asyghil untuk apa?
Makna Sholawat Asyghil Lengkap Tulisan Arab, Latin dan ...Sholawat Asyghil dibaca untuk memohon perlindungan dari kezaliman orang-orang zalim dengan cara memohon kepada Allah agar mereka sibuk dengan urusan mereka sendiri dan tidak menyakiti kaum Muslimin yang baik, serta untuk ketenangan hati dan mendatangkan rahmat serta pertolongan Allah SWT. Keutamaan lainnya termasuk penghapusan dosa, pengangkatan derajat, dan dimudahkannya segala urusan.
Barang siapa membaca shalawat 1000 kali setiap hari dijaminkan?
Membaca shalawat 1000 kali sehari memiliki janji luar biasa, yaitu tidak akan meninggal dunia sebelum melihat tempat duduknya di surga, namun hadits spesifik ini dianggap dhaif (lemah) atau palsu oleh sebagian ulama, meskipun keutamaan shalawat secara umum sangat besar dan didukung hadits shahih yang menyebutkan balasan 10 kali lipat dari Allah untuk setiap shalawat, penghapusan dosa, dan peningkatan derajat. Meskipun angka 1000 kali tidak bersumber dari hadits shahih, mengistiqamahkannya (membiasakan) dapat membawa manfaat spiritual, kejernihan hati, dan dikabulkannya hajat, seperti yang banyak diamalkan ulama.