Top 3 Tekno: Pasar HP Lipat Mulai Lesu Jadi Sorotan

Minat terhadap HP lipat mulai menurun pada 2025 menjadi sorotan para pembaca.

oleh IskandarDiterbitkan 16 Februari 2026, 11:30 WIB
Tampak Belakang vivo X Fold 5 ketika lipatannya dibuka. (Liputan6.com/Anka Fergy Agustian)

Liputan6.com, Jakarta - Meski berbagai inovasi terus dihadirkan dalam beberapa tahun terakhir, minat terhadap HP lipat mulai menurun pada 2025. Berita ini menjadi sorotan para pembaca di kanal Tekno Liputan6.com, Minggu (15/2/2026) kemarin.

Berita lain yang juga menuai perhatian datang ByteDance yang akan menjual Moonton ke Arab Saudi.

Lebih lengkapnya, simak tiga berita terpopuler di kanal Tekno Liputan6.com berikut ini.

1. Pasar HP Lipat Mulai Lesu di 2025, Era Foldable Sudah Lewat?

HP lipat sempat dinilai berpotensi besar menjadi pilihan utama pengguna smartphone generasi berikutnya. Inovasi layar fleksibel dan menghadirkan pengalaman berbeda, serta desain ringkas dan mudah disimpan di saku, menjadi daya tarik utama perangkat tersebut.

Meski berbagai inovasi terus dihadirkan dalam beberapa tahun terakhir, minat terhadap ponsel lipat mulai menurun pada 2025. Sejumlah indikator pasar menunjukkan, ketertarikan konsumen terhadap perangkat ini tidak lagi setinggi pada awal diperkenalkan ke publik.

Ini menimbulkan tanda tanya, apakah penurunan tersebut hanya bersifat sementara, atau justru menjadi indikasi adanya perubahan tren lebih luas di industri smartphone?

HP layar lipat sempat mencatat kenaikan pesat pada awal 2020-an, Hal ini dipicu oleh banyaknya produsen masuk ke segmen tersebut, didukung teknologi semakin matang serta harga sejumlah model yang kian terjangkau.

Namun, tren ini mulai menurun pada 2025. Berdasarkan laporan Counterpoint Research, pengiriman panel layar lipat diperkirakan turun sekitar 4 persen pada 2025, setelah pergerakannya stagnan di 2024.

Data ini menunjukkan minat terhadap ponsel lipat mulai berkurang. Produsen pun disebut lebih membatasi peluncuran produk dengan merilis lebih sedikit model dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Baca selengkapnya di sini

2. ByteDance Siap Jual Moonton ke Arab Saudi, Nilainya Tembus Rp 100 Triliun

ByteDance Siap Jual Moonton ke Arab Saudi, Nilainya Tembus Rp 100 Triliun. (Liputan6.com/ Yuslianson)

ByteDance disebutkan sedang melakukan pembicaraan lanjutan untuk menjual studio game Mobile Legends: Bang Bang (MLBB), yakni Shanghai Moonton Technology.

Rencana, raksasa asal China tersebut ingin menjual studio game populer bergenre MOBA itu ke Savvy Games Group asal Arab Saudi.

Mengutip TechNode, Minggu (15/2/2026), nilai transaksi penjualan Moonton tersebut berada di kisaran 6 hingga 7 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau setara lebih dari Rp 100 triliun.

Berdasarkan bocoran dari dua sumber anonim internal, kesepakatan kedua perusahaan raksasa ini bisa tercapai paling cepat ada kuartal ini. Baik ByteDance dan Savvy telah mencapai kesepakatan awal terkait garis besar transaksi.

Jika kabar Moonton dijual ini ternyata benar, maka akan menjadi salah satu akuisisi terbesar di industri game mobile dan esports dalam beberapa tahun terakhir.

Moonton dan Popularitas Mobile Legends 

Moonton didirikan pada 2014 dan langsung berkembang pesat menjadi salah satu perusahaan mobile game paling berpengaruh di Asia Tenggara.

Di Indonesia sendiri, Mobile Legends menjadi salah satu game paling populer dan fenomena budaya sekaligus menjadi fondasi industri esports nasional.

Dalam situs resminya, perusahaan menyebut MLBB telah mencatatkan lebih dari 1,5 miliar download secara global dan memiliki lebih dari 110 juta pengguna aktif bulanan. 

Game ini juga masuk dalam 10 besar game paling banyak dimainkan di lebih dari 80 negara.

Baca selengkapnya di sini

3. ChatGPT Jadi Penolong Jarak Jauh, Anak di AS Pantau Kondisi Ibu yang Dirawat di Surabaya

OpenAI meluncurkan ChatGPT Health. (Doc: OpenAI)

ChatGPT, chatbot besutan OpenAI kedapatan menjadi jembatan bagi pengguna untuk memantau dan terlibat langsung dalam perawatan kesehatan meskipun harus terpisah ribuan kilometer.

Hal ini yang dialami oleh Ayrin Santoso, ketika dirinya menerima kabar mengejutkan tepat di hari ulang tahun sang ibu, Fifi.

Tinggal menetap di San Francisco, Amerika Serikat (AS), Ayrin mendapati informasi sang ibu tiba-tiba kelihangan penglihatan di salah satu mata.

Keluarga di Surabaya pun langsung mencari pertolongan medis sambil terus berkoordinasi dengannya. Sebagai anak berada jauh dari rumah, Ayrin tidak bisa hadir secara fisik.

Namun, ia memilih untuk tetap terlibat penuh dengan mengumpulkan setiap detail informasi. Mulai dari gejala awal, kronologi kejadian, hingga penjelasan dokter saat pemeriksaan pertama dilakukan.

Sempat mendapatkan pengobatan obat tetes mata setelah pemeriksaan awal, kondisi penglihatannya ternyata tidak mengalami peningkatan.

Alhasil, kondisi ini membuat keluarga terus memantau perkembangan dan menjaga komunikasi intens lintas negara. Di titik itulah, Ayrin memanfaatkan ChatGPT untuk membantu merapikan informasi medis yang ia kumpulkan dan terima.

Dengan menuliskan kondisi terkini ibunya, termasuk riwayat tekanan darah tinggi sudah lama diderita, ChatGPT mampu membantu Ayrin memahami istilah medis dengan bahasa lebih sederhana.

Tak hanya itu, ia juga menggunakan chatbot buatan OpenAI ini untuk menyusun daftar pertanyaan lebih terarah sebelum berkonsultasi dengan dokter.

Baca selengkapnya di sini

Infografis Ponsel Black Market Diblokir via IMEI. (Liputan6.com/Triyasni)

Infografis Ponsel Black Market Diblokir via IMEI. (Liputan6.com/Triyasni)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya