Liputan6.com, Jakarta - Mengawali pekan ini, Senin, (16/2/2026), harga pangan seperti cabai rawit merah sentuh Rp 79.550 per kilogram (kg) dan telur ayam ras Rp 33.550 per kg.
Demikian berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia dikutip dari Antara. Selain itu, harga pangan di tingkat pedagang eceran secara nasional lainnya yaitu bawang merah Rp 48.650 per kg dan bawang putih di harga Rp 45.650 per kg.
Advertisement
Sementara itu, beras kualitas bawah I di harga Rp15.300 per kg, beras kualitas bawah II Rp15.500 per kg. Sedangkan beras kualitas medium I Rp 17.250 per kg, dan beras kualitas medium II di harga Rp17.200 per kg.
Lalu, beras kualitas super I di harga Rp 17.350 per kg, dan beras kualitas super II Rp 16.700 per kg.
Kemudian, PIHPS mencatat harga cabai merah besar mencapai Rp 53.300 per kg, cabai merah keriting Rp 55.900 per kg, dan cabai rawit hijau Rp 54.150 per kg.
Lalu, daging ayam ras di harga Rp 45.700 per kg, daging sapi kualitas I Rp 139.500 per kg, daging sapi kualitas II di harga Rp 136.900 per kg.
Harga komoditas berikutnya yakni gula pasir kualitas premium tercatat Rp 21.400 per kg, gula pasir lokal Rp 19.150 per kg.
Selain itu, minyak goreng curah di harga Rp 20.050 per liter, minyak goreng kemasan bermerek I di harga Rp 24.300 per liter, serta minyak goreng kemasan bermerek II di harga Rp 23.050 per liter.
Mentan: Stok Melimpah, Tak Ada Alasan Harga Pangan Naik
Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) sekaligus Ketua Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman menegaskan, komitmen pemerintah menjaga stabilitas harga pangan menjelang Imlek, Nyepi, dan bulan suci Ramadan.
Dalam acara Gerakan Pangan Murah, Amran meminta seluruh pelaku usaha pangan di Indonesia untuk tidak menaikkan harga di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah. Ia menegaskan, kondisi stok beras saat ini dalam posisi aman, bahkan disebut sebagai yang tertinggi sepanjang untuk sejumlah komoditas strategis.
Menurut Amran, stok beras nasional pada Februari ini mencapai 3,4 juta ton, jauh di atas rata-rata normal yang biasanya berkisar 1–1,5 juta ton. Selain itu, stok beras SPHP sebanyak 1,5 juta ton dengan harga maksimal Rp 12.500 per kilogram.
"Stok kita 3,4 juta ton. Tidak ada alasan, yang biasanya 1 juta ton, 1,5 sekarang, 2 kali lipat dari biasanya. Jadi tidak ada alasan. Ada SPHP, kita 1,5 juta ton. Itu harganya maksimal Rp 12.500," tutur Amran pada acara Gerakan Pangan Murah, di Jakarta Selatan, Jumat (13/2/2026).
Untuk komoditas minyak goreng, pemerintah memiliki stok sekitar 700 ribu ton dengan HET Rp 15.700 per liter. Sementara itu, harga daging ayam ditetapkan maksimal Rp 40 ribu per kilogram dan daging sapi Rp 140 ribu per kilogram.
“Kami mohon atas nama pemerintah, jangan ada yang menaikkan harga di atas HET. Stok melimpah, tidak ada alasan harga naik,” tegas Amran.
Ancam Cabut Izin hingga Impor
Amran menegaskan, pemerintah tidak akan ragu mencabut izin usaha hingga menghentikan izin impor bagi pelaku usaha yang terbukti melanggar aturan. Ia meminta Satgas Pangan untuk menindak tegas produsen, distributor besar, hingga feedlotter (penggemukan sapi) dan rumah potong hewan (RPH) yang menaikkan harga secara tidak wajar.
"Kalau ada yang menjual di atas HET, cari produsennya, dan bila perlu, beri sanksi berat, cabut izinya, " tegas Amran.
Ia menekankan, pedagang kecil tidak boleh menjadi sasaran utama penindakan. “Jangan ganggu pedagang lapak kecil. Mereka untungnya hanya Rp 200-Rp 500. Cari sumbernya, produsennya yang ditindak,” ujarnya.
Menurut Amran, kenaikan harga oleh segelintir oknum kerap berdampak luas dan memicu kemarahan publik kepada pemerintah. Karena itu, ia mengaku telah mendapat arahan langsung dari Presiden untuk memastikan harga pangan tetap terkendali selama Ramadan, Idul Fitri, Imlek, dan Nyepi.
"kita harus tegas, karena kalau tidak tegas, larinya ke pemerintah. Padahal pangan sudah lebih dari cukup," kata Amran.
Swasembada 9 Komoditas
Amran juga mengungkapkan, Indonesia saat ini telah swasembada sembilan komoditas pangan, termasuk beras, jagung pakan, bawang merah, cabai, dan ayam. Produksi telur dan daging ayam bahkan telah surplus hingga diekspor. Pemerintah kini fokus mengejar swasembada kedelai, bawang putih, serta penguatan sektor peternakan sapi.
“Kita sudah surplus untuk ayam dan telur. Tidak ada alasan harga naik. Kalau ada yang bermain-main, izinnya kami cabut dan pidananya kami serahkan ke Satgas,” tegasnya.