Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak signifikan pada perdagangan 9-13 Februari 2026. IHSG sepekan yang melesat ini dipicu sentimen global dan domestik. Salah satunya investor masih mencermati langkah regulator untuk melakukan reformasi pasar modal Indonesia.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), Sabtu (14/2/2026), IHSG sepekan naik 3,49% ke posisi 8.212,27. Pada pekan lalu, IHSG ditutup turun 4,7% ke posisi 7.935,26. Kapitalisasi pasar menguat 3,83% menjadi Rp 14.889 triliun dari pekan lalu Rp 14.341 triliun.
Advertisement
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksono menuturkan, IHSG menguat 3,49% didorong sejumlah sentimen. Pertama, investor masih mencermati dan menanti tindakan selanjutnya dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self Regulatory Organization (SRO) terkait reformasi pasar modal dan juga pemenuhan kriteria data MSCI.
Kedua, terdapat beberapa rilis data seperti Indeks Kepercayaan Konsumen Konsumen (IKK) Indonesia yang bertumbuh dan China mengalami deflasi, sedangkan ekonomi Amerika Serikat masih bertahan setelah rilis data pekerjaan. Ketiga, harga komoditas emas yang naik tipis dalam sepekan dan rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat. “Faktor keempat, investor cenderung profit taking menjelang libur panjang Imlek,” kata dia saat dihubungi Liputan6.com.
Selain itu, rata-rata frekuensi transaksi harian melompat 0,37% menjadi 2,74 juta kali transaksi dari 2,73 juta kali transaksi pada pekan lalu. Namum, rata-rata nilai transaksi harian BEI merosot 6,27% menjadi Rp 23,2 triliun dari Rp 24,75 triliun pada pekan lalu.
Investor asing juga masih melakukan aksi jual saham. Tercatat aksi jual saham oleh investor asing mencapai Rp 5,47 triliun dari pekan lalu Rp 1,13 triliun.
Kinerja IHSG Pekan Lalu
Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot pada perdagangan saham 2-6 Februari 2026. Koreksi IHSG sepekan masih didorong dari sentimen Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan penurunan peringkat saham dan outlook peringkat utang Indonesia.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), Sabtu (7/2/2026), IHSG sepekan tersungkur 4,73% ke posisi 7.935,26. Koreksi IHSG ini lebih kecil dibandingkan pekan lalu. Pada pekan lalu, IHSG turun 6,94% ke posisi 8.329,60.
Sementara itu, kapitalisasi pasar BEI merosot 4,69% menjadi Rp 14.314 triliun dari pekan lalu Rp 15.046 triliun.
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, IHSG melemah 4,73% selama sepekan dipengaruhi sejumlah hal. Pertama, sentimen dari MSCI yang saat ini meminta beberapa persyaratan seperti free float dan transparan emiten-emiten di IHSG.
“Kedua, downgrade dari beberapa instituasi asing seperti UBS, Goldman Sachs dan Moody’s di mana dari sentimen-sentimen tersebut berimbas pada membesarnya outflow asing,” kata dia saat dihubungi Liputan6.com.
Sentimen IHSG Lainnya
Faktor ketiga, rilis data inflasi Indonesia yang masih berada di level 3,55% Year on Year (YoY) dan juga Gross Domestic Product (GDP) atau Produk Domestik Bruto (PDB) yang berada di level 5,39% YoY pada kuartal IV 2025.
Di sisi lain, rata-rata frekuensi transaksi harian juga anjlok 28,62% menjadi 2,72 juta kali transaksi dari 3,82 juta kali transaksi. Data volume transaksi harian bursa terpangkas 31,75% menjadi 43,2 miliar saham dari 63,3 miliar saham pada pekan lalu. Rata-rata nilai transaksi harian juga susut 43,45% menjadi Rp 24,75 triliun dari pekan sebelumnya Rp 43,76 triliun.
Sementara itu, investor asing melepas saham Rp 1,13 triliun. Aksi jual ini lebih rendah dari pekan lalu Rp 13,92 triliun.