Liputan6.com, Jakarta - Di atas tonggak besi setinggi lebih dari satu meter, dua tubuh bergerak dalam satu napas. Satu orang menjalankan peran sebagai kepala, rekannya menjadi ekor. Mereka tak bisa saling melihat, hanya saling percaya karena ikatan yang kuat. Di bawahnya, penonton bersorak menanti setiap lompatan barongsai yang seolah menantang gravitasi. Biasanya, kita melihat atraksi ini saat perayaan Imlek.
Atraksi barongsai menyuguhkan kombinasi yang cantik. Antara gerakan kaki, kekuatan, dan keseimbangan. Kekuatan tangan juga diperlukan untuk memainkan kepala barongsai atau mengangkat badan teman yang di depan.
Advertisement
Atraksi barongsai terpusat pada olah gerak tubuh. Di dalamnya ada unsur tarian, bela diri, dan akrobatik.
Di balik atraksi yang mengundang tepuk tangan, ada kisah panjang tentang ketakutan yang dilawan dan kepercayaan yang dibangun perlahan. Pemain barongsai tak lahir dalam semalam.
Mereka sudah mulai berlatih sejak usia delapan tahun. Dari latihan dasar di lantai, mereka perlahan naik ke tonggak rendah sebelum akhirnya melakukan atraksi di ketinggian.
"Anak-anak sudah bisa berlatih barongsai dari usia 8 tahun," jelas Herry Siswanto, Ketua Sasana Liong n Barongsai Kung Chiao dan Wushu Genta Suci saat berbincang dengan Liputan6.com di Cimanggis, Depok, Jumat (13/2/2026).
Menjadi pemain barongsai tetap menarik di mata generasi muda. Tak heran, liong dan barongsai kini hadir sebagai ekstrakurikuler di beberapa sekolah. Regenerasi berjalan, tetapi membentuk pemain tonggak tetap membutuhkan waktu panjang.
Kategori ini paling berat dalam latihan barongsai di perguruan yang berdiri di Cimanggis, Kota Depok tersebut. Bukan hanya kemampuan fisik yang diuji, tetapi juga mental, keberanian, serta kekompakan antar pemain.
Di atas tonggak besi yang sempit dan tinggi, dua pemain harus bergerak dalam satu irama tanpa bisa saling melihat secara leluasa. Setiap lompatan, pijakan, dan putaran membutuhkan kepercayaan penuh satu sama lain. Sambil tetap mempertahankan karakter singa yang gagah dan lincah.
Latihan dilakukan bertahap, mulai dari dasar keseimbangan hingga simulasi koreografi. Demi memastikan keselamatan dan keharmonisan gerak saat tampil di hadapan publik.
“Tantangan terbesar dalam melatih pemain tonggak adalah membangkitkan keberanian dan mengasah teknik mereka dalam bermain barongsai di atas tonggak, perlu keberanian dan kelincahan ekstra, juga waktu yang tidak sedikit untuk menciptakan pasangan yang serasi di atas tonggak,” ujar Herry.
Tradisi dan Harapan
Dalam pertunjukan barongsai, tidak ada ritual khusus. Namun, jika tampil untuk ritual persembahyangan, para pemain dianjurkan menjalani Cia Cai sebagai bentuk pembersihan diri.
"Untuk keperluan ritual persembahyangan para pemain di anjurkan untuk Cia Cai, tidak memakan makanan yang bernyawa, seperti daging sapi, ayam, ikan, intinya untuk membersihkan diri," paparnya.
Termasuk untuk perayaan imlek. Dalam setiap perayaan Imlek, barongsai dipercaya membawa hal baik.
“Tarian barongsai merupakan salah satu tradisi yang penting dalam perayaan Imlek, karena dipercaya dapat mendatangkan keberuntungan dan kemakmuran di Tahun yang baru ini,” katanya.
Tak hanya itu, barongsai juga menjadi simbol keberanian. Umumnya, warna merah mendominasi. Bukan hanya sebagai lambang kebahagiaan dan keberuntungan, tetapi juga semangat menghadapi rasa takut.
Untuk perayaan imlek 2026, Sasana Liong n Barongsai Kung Chiao dan Wushu Genta Suci, melakukan inovasi. Ada sentuhan modern yang dibawa pemain barongsai. Mereka akan menggunakan lampu LED di kepala barongsai. Gerak tari mengikuti musik modern turut mewarnai pertunjukan, tanpa menghilangkan ruh tradisinya.
Dari Tonggak ke Podium
Keahlian para pemain di atas tonggak tak hanya terlihat di panggung Imlek. Perguruan ini juga aktif dalam pembinaan olahraga prestasi di bawah naungan Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI) Kota Depok dan telah resmi menjadi anggota KONI.
Perguruan tersebut berawal dari kesepakatan antara Suhu Liem Tiong Giok dan Suhu Tjiu Khong Giok pada 20 Mei 1994 untuk mendirikan Perguruan Wushu Genta Suci Cimanggis di bawah bimbingan Suhu Liem Tiong Giok.
Gagasan itu kemudian diwujudkan secara resmi pada 1 Agustus 1994 dengan terbentuknya Perguruan Wushu Genta Suci Cimanggis, yang hingga kini terus berkembang sebagai wadah pembinaan wushu, liong, dan barongsai di Kota Depok.
Prestasi pun diraih, satu medali emas dan dua perak pada Porprov Jawa Barat 2022, serta medali perak pada Kejuaraan Nasional 2025 di Bali dari nomor barongsai halang rintang.