Iran: Program Rudal di Luar Agenda Perundingan dengan Amerika Serikat

Menlu Iran menggarisbawahi bahwa negosiasi dengan AS terbatas pada isu nuklir.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 08 Februari 2026, 19:54 WIB
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. (Dok. AFP)

Liputan6.com, Teheran - Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi menyatakan harapannya agar perundingan dengan Amerika Serikat (AS) dapat segera dilanjutkan. Pernyataan ini disampaikan setelah Presiden AS Donald Trump berjanji akan menggelar putaran negosiasi berikutnya pada pekan depan, menyusul pembicaraan yang dimediasi dan berlangsung di Oman.

Dalam wawancara dengan Al Jazeera pada Sabtu (7/2/2026), Menlu Araghchi menegaskan bahwa program rudal Iran "tidak pernah bisa dinegosiasikan" dalam pembicaraan yang berlangsung pada Jumat (6/2). Ia juga memperingatkan bahwa Teheran akan menargetkan pangkalan militer AS di Timur Tengah apabila AS menyerang wilayah Iran.

Menlu Araghchi menambahkan bahwa meskipun perundingan di Muscat dilakukan secara tidak langsung, "sebuah kesempatan muncul untuk berjabat tangan dengan delegasi AS."

Ia menyebut pembicaraan tersebut sebagai awal yang baik, namun menekankan bahwa masih ada jalan panjang untuk membangun kepercayaan.

 

Abdullah al-Shayji, pakar kebijakan luar negeri AS dari Universitas Kuwait, mengatakan bahwa ia berharap tercapainya kesepakatan baru antara kedua negara yang bermusuhan tersebut, tetapi tidak merasa optimistis.

"Ada posisi yang kuat dari AS dan adanya dorongan dari Israel untuk menekan Iran karena mereka merasa Iran berada pada titik terlemahnya," kata al-Shayji seperti dikutip dari Al Jazeera.

Menurutnya, kondisi ini membuat AS berupaya lebih mudah mengekstraksi konsesi dari Iran, terutama setelah rangkaian demonstrasi yang terjadi sejak akhir tahun lalu.

 

"Hak yang Tidak Dapat Dicabut"

Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat menyampaikan pernyataan di klub Mar-a-Lago miliknya di Palm Beach, Florida, pada Sabtu (3/1/2026). (Dok. AP/Alex Brandon)

Meski menyebut pembicaraan pada Jumat "sangat baik", Trump pada hari yang sama menandatangani perintah eksekutif yang mulai berlaku Sabtu, yang menyerukan "pengenaan tarif" terhadap negara-negara yang masih melakukan bisnis dengan Iran.

AS juga mengumumkan sanksi baru terhadap sejumlah entitas dan kapal pengiriman yang ditujukan untuk membatasi ekspor minyak Iran.

Menurut data Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), lebih dari seperempat perdagangan Iran dilakukan dengan China, termasuk impor senilai USD 18 miliar dan ekspor sebesar USD 14,5 miliar pada 2024.

Menlu Araghchi menegaskan bahwa pengayaan nuklir merupakan hak yang tidak dapat dicabut bagi Iran dan harus terus berlanjut. Ia menambahkan bahwa Iran siap mencapai kesepakatan yang dapat memberikan jaminan terkait pengayaan nuklir. Menurutnya, persoalan nuklir Iran hanya dapat diselesaikan melalui jalur negosiasi. 

Ia kembali menekankan bahwa program rudal Iran tidak dapat dinegosiasikan karena berkaitan dengan "isu pertahanan".

AS atas dorongan Israel dilaporkan berupaya memperluas agenda perundingan dengan memasukkan pembahasan program rudal balistik Iran serta dukungannya terhadap kelompok bersenjata di kawasan. 

Iran secara berulang menolak perluasan cakupan negosiasi di luar isu nuklir.

"Orang-orang Iran sangat menentang konsesi apa pun," ujar al-Shayji, seraya menambahkan bahwa sikap serupa juga ditunjukkan oleh AS.

Hal ini, menurutnya, membuat negara-negara mediator sangat sulit untuk mendekatkan kedua pihak.

Perundingan pada Jumat merupakan yang pertama sejak pembicaraan nuklir antara Iran dan AS runtuh tahun lalu, setelah pengeboman Israel yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Iran, yang memicu konflik bersenjata selama 12 hari.

Setelah terjadinya demonstrasi secara luas di Iran bulan lalu, Trump meningkatkan ancaman terhadap Iran dengan mengerahkan kapal induk USS Abraham Lincoln ke Timur Tengah.

Iran Berharap AS Menahan Diri

Ilustrasi nuklir Iran (AFP)

Negosiator utama Trump di Oman, utusan khusus Steve Witkoff dan penasihat presiden Jared Kushner, mengunjungi kapal induk yang ditempatkan di Laut Arab pada Sabtu.

Dalam unggahan media sosial, Witkoff menyatakan bahwa kapal induk tersebut beserta kelompok serangannya "menjaga keselamatan kami dan menegakkan pesan Presiden Trump tentang perdamaian melalui kekuatan".

Witkoff mengatakan pula bahwa ia berbicara dengan pilot yang menembak jatuh sebuah drone Iran yang mendekati kapal induk tersebut “anpa niat yang jelas pada Selasa (3/2).

"Saya bangga berdiri bersama para pria dan perempuan yang membela kepentingan kami, menangkal musuh-musuh kami, dan menunjukkan kepada dunia kesiapan serta keteguhan Amerika Serikat setiap hari," ungkap Witkoff.

Meski Trump menggunakan pengerahan kapal induk sebagai sarana untuk menekan Iran, al-Shayji menilai strategi ini tidak dapat dipertahankan dalam jangka panjang.

"Ia (Trump) tidak bisa menjaga pasukannya dalam kondisi siaga terlalu lama. Hal ini justru akan merusak citra pemerintahannya sebagai pihak yang sangat keras dan berhaluan garis keras terhadap Iran," ujarnya.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dijadwalkan bertemu dengan Trump pada Rabu (11/2) untuk membahas perundingan Iran.

Netanyahu percaya bahwa setiap negosiasi harus mencakup pembatasan terhadap rudal balistik dan penghentian dukungan terhadap poros Iran, merujuk pada sekutu-sekutu Iran di kawasan tersebut.

Menu Araghchi pada akhirnya berharap agar AS menahan diri dari "ancaman dan tekanan" sehingga perundingan dapat terus berlanjut.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya