Liputan6.com, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghapus sebuah video dari akun media sosialnya setelah menuai kecaman luas karena memuat cuplikan bernuansa rasis yang menggambarkan mantan Presiden Barack Obama dan mantan Ibu Negara Michelle Obama sebagai kera.
Cuplikan tersebut muncul di bagian akhir video berdurasi 62 detik yang diunggah Trump di platform Truth Social. Video itu berisi klaim lama mengenai dugaan kecurangan dalam pemilihan presiden AS 2020, dengan potongan gambar keluarga Obama diiringi lagu The Lion Sleeps Tonight.
Advertisement
Berbicara kepada wartawan pada Jumat, Trump menegaskan bahwa dirinya tidak merasa bersalah atas unggahan tersebut. Ia mengatakan hanya melihat bagian awal video sebelum diunggah oleh stafnya dan tidak mengetahui adanya konten yang menggambarkan Obama secara rasis.
“Saya tidak melakukan kesalahan,” kata Trump. Ia menambahkan bahwa video itu diunggah oleh seorang staf setelah ia hanya menonton sebagian isinya, dikutip dari BBC, Sabtu (7/2/2026).
Awalnya, Gedung Putih membela unggahan tersebut dengan menyebutnya sebagai “video meme internet” dan menuduh para pengkritik melakukan “kemarahan palsu”. Namun, setelah kecaman meluas—termasuk dari sejumlah senator Partai Republik—unggahan itu akhirnya dihapus. Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan video tersebut diunggah “secara keliru” oleh staf.
Video itu diduga diambil dari unggahan di platform X yang dibagikan pada Oktober oleh pembuat meme konservatif. Selain keluarga Obama, video tersebut juga menggambarkan sejumlah tokoh Demokrat lainnya sebagai hewan, termasuk anggota DPR Alexandria Ocasio-Cortez, Wali Kota New York Zohran Mamdani, serta mantan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton. Mantan Presiden Joe Biden juga digambarkan sebagai kera yang sedang memakan pisang.
Hingga kini, keluarga Obama belum memberikan komentar atas beredarnya video tersebut.
Unggahan itu memicu kritik tajam, termasuk dari kalangan Partai Republik. Senator Tim Scott dari Carolina Selatan, sekutu Trump, menyebut video tersebut sebagai “hal paling rasis yang pernah saya lihat dari Gedung Putih ini” dan secara terbuka mendesak agar unggahan tersebut dihapus.
Kecaman untuk Trump
Anggota DPR dari New York, Mike Lawler, juga mengecam keras video itu dan menyebutnya “salah dan sangat menyinggung”, seraya mengatakan bahwa unggahan tersebut seharusnya segera dihapus disertai permintaan maaf.
Kecaman berlanjut meski video telah ditarik. Senator Republik John Curtis dari Utah menilai video itu “jelas rasis dan tidak dapat dimaafkan”, serta menegaskan seharusnya konten tersebut tidak pernah diunggah atau dibiarkan beredar selama itu.
Menurut laporan media AS, sejumlah politisi Republik menghubungi Gedung Putih tak lama setelah video tersebut diunggah dan diberi tahu bahwa presiden merasa “kecewa” karena unggahan itu dibuat oleh staf.
Trump sendiri mengatakan bahwa ia mengunggah puluhan video ke akun Truth Social miliknya dalam satu malam. “Saya melihat ribuan hal,” ujarnya saat berada di pesawat kepresidenan Air Force One. Ia menambahkan bahwa dirinya menyukai pesan video terkait dugaan kecurangan pemilu, namun mengakui bahwa jika stafnya menonton keseluruhan video, “mungkin mereka akan cukup bijaksana untuk menghapusnya”.
Reaksi keras juga datang dari Partai Demokrat dan tokoh masyarakat. Presiden NAACP Derrick Johnson menyebut video itu “menjijikkan dan sangat tercela”, serta menuding Trump berupaya mengalihkan perhatian publik dari isu lain, termasuk kasus Epstein dan kondisi ekonomi.
Mantan pejabat Gedung Putih era Obama, Ben Rhodes, mengatakan video tersebut akan menjadi noda bagi Trump. “Biarlah hal itu menghantui Trump dan para pengikut rasisnya,” ujarnya.
Gubernur Illinois JB Pritzker secara terbuka menyebut Trump sebagai rasis, sementara kantor Gubernur California Gavin Newsom menyebut unggahan tersebut sebagai “perilaku menjijikkan oleh presiden” dan mendesak seluruh Partai Republik untuk mengecamnya.
Pemimpin Minoritas DPR Hakeem Jeffries juga melontarkan kecaman keras, menyebut Trump sebagai “makhluk menjijikkan, tidak waras, dan jahat”, serta menyerukan agar seluruh anggota Partai Republik mengecam apa yang ia sebut sebagai kefanatikan Trump.
Video tersebut merupakan bagian dari rangkaian konten yang kembali mengangkat teori konspirasi pemilu 2020—klaim yang telah berulang kali dibantah oleh pengadilan, pejabat pemilu, dan lembaga independen di Amerika Serikat.