Liputan6.com, Jakarta - Pameran Bukan Tentang Sampah yang digelar di Erasmus Huis, Jakarta Selatan (Jaksel) pada Kamis 5 Februari 2026 menghadirkan karya seni dan desain berbasis material plastik bekas untuk mengkritisi budaya membuang sampah sekali pakai dalam kehidupan sehari-hari.
Pameran ini menampilkan instalasi dan eksplorasi material yang memanfaatkan limbah sebagai medium utama. Melalui pendekatan tersebut, pengunjung diajak melihat bagaimana sampah bukan sebagai sisa tak bernilai, melainkan material yang masih memiliki nilai.
Advertisement
Pameran ini merupakan hasil program Co/Lab Indonesia yang diprakarsai oleh Dutch Design Foundation di Belanda berkolaborasi dengan Wahu (WAste Hubs) dan didukung oleh Kedutaan Besar Belanda di Indonesia yang mempertemukan dua desainer Indonesia dan dua desainer Belanda untuk bersama-sama mengeksplorasi bagaimana keputusan sederhana seperti memilah dan membuang sampah dapat membentuk sistem yang lebih besar.
Seorang Desainer Urban, Dhania Yasmin menjelaskan dalam pameran ini, tidak menyebut 'sampah' namun yang dibicarakan adalah 'material', artinya sesuatu tidak dibuang, melainkan berupa material yang diteruskan.
"Mengapa pamerannya bukan tentang sampah, karena konotasi sampah itu kotor, sesuatu yang udah akhir, gaada nilainya, makanya kita ganti menjadi material, kata membuang ini menjadi meneruskan," ujar Desainer asal Indonesia, Dhania Yasmin saat ditemui Liputan6.com, Kamis 5 Februari 2026.
Desain sebagai Intervensi Sosial
Tampak dalam pameran tersebut, terdapat berbagai macam material yang dibuat menjadi sebuah karya edukasi salah satunya adalah tampak botol plastik yang di gantung menyerupai tirai dan miniatur Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang.
Melalui pendekatan instalansi dan eksplorasi material, pameran ini menempatkan tindakan-tindakan membuang sampah sebagai sebuah keputusan sosial dan desain yang berdampak panjang. Alih-alih melihat sampah sebagai sesuatu yang 'hilang' setelah dibuang, pengunjung diajak menyadari bahwa material tersebut sesungguhnya hanya berpindah tangan dan masuk ke dalam sistem pengelolaan yang lebih luas.
Pameran ini juga dibuat agar dari setiap pengunjung bisa ikut bermain, mempunyai peran, dan tanggung jawab.
"Temuan selama setengah tahun ini, kita ingin setiap dari kalian yang datang bisa ikut berkontribusi, bisa main, ikut berperan, karena kita tidak ingin ngasih satu frame contoh, tapi mengajak sesuatu hal ini agar bisa diikuti pengunjung," ucap Dhania.
Ruang Refleksi Publik
Menurut Dhania, pameran ini turut mengangkat peran komunikas waste hub (Wahu) yang sehari-hari bergelut dengan pemilahan dan pengolahan sampah dengan harapan kegiatan ini bisa diadopsi oleh Wahu kedepannya.
"Kita bekerja sama dengan Wahu untuk proses kegiatan ini berjalan, dengan harapannya ke depan Wahu bisa mengadopsi dan bekerja sama dengan kita agar kegiatan ini tetap bisa berjalan dan menarik komunitas lain lebih banyak," jelas Dhania..
Senentara itu, Direktur Erasmus Huis, Nicolaas de Regt mengatakan, program ini untuk menyelesaikan tantangan global dan membangun pengetahuan bersama.
"Program ini sejalan dengan misi Belanda untuk menyelesaikan tantangan global, khususnya di bidang manajemen sampah dan ekonomi sirkular. Dengan menyatukan pikiran kreatif Belanda dan Indonesia, kita tidak hanya mengatasi masalah plastik, tetapi juga membangun pengetahuan bersama untuk mengatasi krisis iklim," papar dia.
Salah satu pengunjung, Almaz berharap kegiatan ini bisa terus dilakukan di tempat lainnya agar edukasi tentang pemilahan sampah dapat merata.
"Kalau bisa jangan di satu tempat, tapi di berbagai daerah lainnya apalagi di Jakarta sudah banyak yang aware terkait sampah, bisa dicoba ke di pedesaan yang banyak belum tau terkait pemilahan sampah agar edukasinya lebih merata," kata Almaz.
Pameran Bukan Tentang Sampah ini terbuka untuk umum secara gratis dan berlangsung hingga 2 Mei 2026.