Liputan6.com, New Delhi - Sedikitnya 18 orang tewas akibat ledakan di sebuah tambang batu bara ilegal di negara bagian Meghalaya, India timur laut. Peristiwa itu terjadi di wilayah terpencil Distrik East Jaintia Hills dan memicu operasi penyelamatan besar-besaran oleh aparat setempat.
Kepolisian pada Kamis menyatakan telah mengevakuasi 18 jenazah dari lokasi kejadian. Selain korban meninggal, delapan orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka dan telah dilarikan ke fasilitas medis terdekat. Hingga kini, jumlah pasti pekerja yang berada di dalam tambang saat ledakan terjadi belum dapat dipastikan, dan dikhawatirkan masih ada korban yang terjebak di dalam lubang tambang.
Advertisement
Pejabat distrik Manish Kumar mengatakan operasi penyelamatan terpaksa dihentikan sementara saat hari mulai gelap dan akan dilanjutkan kembali pada Jumat dengan dukungan tambahan dari personel penyelamat tingkat negara bagian dan federal.
Ia menjelaskan bahwa lokasi kejadian merupakan tambang “lubang tikus” ilegal, istilah untuk tambang sempit dan dalam yang dikenal sangat berbahaya bagi para pekerja, dikutip dari laman Al Jazeera, Jumat (6/2/2026).
Kepala Kepolisian Distrik East Jaintia Hills, Vikash Kumar, menyebutkan bahwa ledakan tersebut diduga dipicu oleh penggunaan dinamit. Namun, ia menegaskan bahwa penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan penyebab pasti insiden tersebut.
“Besar kemungkinan para pekerja meninggal akibat luka bakar atau gangguan pernapasan setelah terpapar asap beracun,” kata Kumar dalam pernyataan yang dikutip media setempat. Ia menambahkan bahwa hingga kini belum ada saksi selamat yang dapat memberikan gambaran jelas mengenai kronologi kejadian maupun jumlah total pekerja di dalam tambang saat ledakan terjadi.
Tindakan Tegas
Menanggapi tragedi ini, Kepala Menteri Meghalaya Conrad Sangma menyatakan pemerintah negara bagian akan menindak tegas pihak-pihak yang bertanggung jawab atas aktivitas penambangan ilegal tersebut. Ia juga kembali mengingatkan masyarakat agar tidak terlibat dalam praktik penambangan tanpa izin yang membahayakan nyawa.
Perdana Menteri India Narendra Modi turut menyampaikan belasungkawa kepada keluarga para korban. Melalui pernyataan resmi, pemerintah pusat mengumumkan pemberian kompensasi sebesar 200.000 rupee, atau sekitar 2.200 dolar AS, kepada setiap keluarga korban meninggal dunia.
Tambang batu bara ilegal masih marak ditemukan di wilayah timur dan timur laut India. Para pekerja di tambang-tambang tersebut umumnya menerima upah rendah, berkisar antara 18 hingga 24 dolar AS per hari, meski harus bekerja dalam kondisi yang sangat berisiko.
Tragedi serupa pernah terjadi pada 2018, ketika sedikitnya 15 penambang tewas setelah terjebak di sebuah tambang ilegal di Meghalaya. Praktik penambangan “lubang tikus” sendiri telah dilarang di negara bagian tersebut sejak 2014 karena dinilai membahayakan keselamatan pekerja serta mencemari lingkungan, khususnya sumber air.