Xi Jinping Peringatkan Trump soal Penjualan Senjata ke Taiwan

Bagaimana Trump menggambarkan pembicaraannya dengan Xi Jinping?

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 06 Februari 2026, 08:00 WIB
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump (kiri) dan Presiden Tiongkok Xi Jinping berjabat tangan saat meninggalkan Pangkalan Udara Gimhae, yang terletak di sebelah Bandara Internasional Gimhae di Busan, pada Kamis 30 Oktober 2025. Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Tiongkok Xi Jinping membuka pertemuan tatap muka pertama mereka dalam enam tahun, mengupayakan gencatan senjata untuk mengakhiri perang dagang yang telah mengguncang ekonomi dunia. (ANDREW CABALLERO-REYNOLDS/AFP)

Liputan6.com, Beijing - Pemimpin China Xi Jinping memperingatkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait pasokan senjata ke Taiwan. Peringatan tersebut disampaikan dalam pembicaraan telepon pertama antara kedua pemimpin sejak November lalu pada Rabu (4/2/2026). Demikian menurut pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri China.

Dalam pernyataan itu seperti dikutip dari laporan The Guardian, Presiden Xi menegaskan bahwa isu Taiwan merupakan persoalan paling penting dalam hubungan antara China dan AS. Ia menyatakan bahwa Tiongkok harus menjaga kedaulatan serta keutuhan wilayahnya dan tidak akan pernah mengizinkan Taiwan dipisahkan.

Xi juga menekankan agar AS mempertimbangkan secara cermat dampak penjualan senjata ke Taiwan. 

Beberapa jam setelah pernyataan tersebut dirilis, Presiden Taiwan Lai Ching-te menyampaikan bahwa hubungan antara Taiwan dan AS tetap berada dalam kondisi yang sangat kuat. Pernyataan itu disampaikan Lai kepada wartawan saat melakukan kunjungan ke para pedagang tekstil di wilayah barat Taiwan pada Kamis.

Lai mengatakan hubungan Taiwan–AS sangat kuat dan seluruh proyek kerja sama antara kedua pihak akan terus berjalan tanpa gangguan. 

Taiwan merupakan wilayah demokratis yang mengatur dirinya sendiri, namun diklaim oleh China sebagai bagian dari teritorinya. Beijing menyatakan bahwa Taiwan dapat dianeksasi dengan kekuatan militer jika diperlukan. 

AS tidak secara resmi mengakui Taiwan sebagai sebuah negara, tetapi tetap menjadi pendukung informal terkuat bagi pulau tersebut sekaligus pemasok utama persenjataannya.

Pada Desember lalu, Kementerian Luar Negeri AS mengumumkan paket penjualan senjata terbesar sepanjang sejarah kepada Taiwan dengan nilai lebih dari USD 11,1 miliar. Paket tersebut mencakup rudal, sistem artileri, serta pesawat nirawak, dan hingga kini masih menunggu persetujuan Kongres AS.

 

Latihan Militer China dan Kebuntuan Anggaran

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping saling memandang usai pertemuan puncak mereka di Bandara Internasional Gimhae, Busan, Korea Selatan, Kamis (30/10/2025).(Dok. AP/Mark Schiefelbein)

Rencana penjualan senjata itu memicu reaksi keras dari China. Beijing merespons dengan menggelar latihan militer selama dua hari di sekitar Taiwan pada akhir Desember, dengan mengerahkan unit angkatan udara, angkatan laut, dan pasukan rudal.

Di dalam negeri Taiwan, rencana tersebut menghadapi penolakan dari Partai Kuomintang (KMT) sebagai oposisi utama, serta dari sebagian masyarakat. Penolakan itu berkaitan dengan rencana pemerintah untuk meningkatkan anggaran pertahanan hingga 3,3 persen dari produk domestik bruto Taiwan.

Parlemen Taiwan yang dikuasai oposisi telah memblokir rencana anggaran Presiden Lai, termasuk anggaran pertahanan khusus senilai USD 40 miliar. Sebagai gantinya, parlemen mengusulkan rencana belanja pertahanan yang jauh lebih kecil.

Sebelumnya, pada Rabu malam, Presiden Trump menyatakan bahwa pembicaraannya dengan Presiden Xi berlangsung "sangat baik" dan "menyeluruh". Pernyataan tersebut disampaikan Trump melalui unggahan di platform Truth Social.

Trump menyebutkan bahwa pembicaraan itu mencakup sejumlah isu, termasuk masa depan Taiwan, perang Rusia di Ukraina, situasi terkini dengan Iran, serta kemungkinan China membeli minyak dan gas dari AS.

Trump menyampaikan pula bahwa ia menantikan kunjungan ke China pada April mendatang, yang akan menjadi perjalanan pertamanya ke negara tersebut dalam masa jabatan saat ini.

Dalam unggahan yang sama, Trump menambahkan bahwa China tengah mempertimbangkan pembelian 20 juta ton kedelai AS pada musim berjalan, meningkat dari 12 juta ton pada musim sebelumnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya