Enggan Kalah dari Uni Eropa, Donald Trump Resmikan Kesepakatan Dagang AS-India

Khawatir terisolasi setelah pakta "bersejarah" Uni Eropa-India, Presiden Trump umumkan pemotongan tarif dan kesepakatan belanja produk AS senilai USD 500 miliar

oleh Syifa SausanDiterbitkan 04 Februari 2026, 22:00 WIB
Perdana Menteri India Narendra Modi berjabat tangan dengan Presiden AS Donald Trump selama pertemuan di Rumah Hyderabad di New Delhi pada 25 Februari 2020. (Foto: AFP / Mandel NGAN)

Liputan6.com, Jakarta - Tak lama setelah Eropa lebih dulu menjalin perjanjian serupa dengan New Delhi,  Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan mengenai persetujuan kesepakatan perdagangan dengan India, menandakan AS berupaya menjaga daya saingnya di tengah persaingan global.

Kesepakatan AS tersebut tercapai setelah sejumlah mitra dagang utama dunia seperti Uni Eropa, India, China, dan Kanada lebih dulu meneken perjanjian perdagangan sejak awal tahun, situasi yang sempat menempatkan Amerika Serikat dalam posisi relatif terisolasi di tengah kebijakan tarifnya terhadap sejumlah negara.

Dikutip dair CNBC, Rabu (4/2/206), analis menilai rangkaian kesepakatan tersebut — terutama pakta Uni Eropa–India — berpotensi mendorong Amerika Serikat mempercepat penyelesaian perjanjian dagangnya sendiri dengan India yang sempat tertunda, dan proses itu berlangsung lebih cepat dari perkiraan banyak pihak.

Trump mengatakan pada Senin melalui platform media sosial Truth bahwa Amerika Serikat akan menurunkan tarif utama terhadap India dari 25% menjadi 18%. Ia juga menyatakan Washington akan mencabut tarif tambahan 25% yang diberlakukan pada New Delhi musim panas lalu sebagai respons atas pembelian minyak Rusia.

Trump dalam unggahannya menyatakan bahwa India akan menghentikan pembelian minyak dari Rusia dan beralih membeli lebih dari USD 500 miliar produk AS, mencakup energi, teknologi, produk pertanian, batu bara, serta komoditas lainnya, sekaligus menghapus hambatan perdagangan terhadap Amerika Serikat. Hingga kini, belum ada siaran pers resmi yang dirilis untuk mengonfirmasi pernyataan tersebut.

Kesepakatan perdagangan AS–India, yang disambut positif oleh pasar Asia pada Selasa, dinilai sebagai respons tegas terhadap anggapan bahwa Uni Eropa tengah mengungguli Amerika Serikat dalam persaingan dagang global, kata Terry Haines, pendiri firma analisis Pangaea Policy.

“Kesepakatan AS-India adalah kesepakatan perdagangan ‘saling ketergantungan’ ekonomi strategi keamanan nasional Trump berikutnya dengan sekutu utama AS/negara non-blok utama,” kata Haines.

“Ini adalah sinyal kuat bahwa Trump ‘mampu melakukan dua hal sekaligus’, tidak membiarkan geopolitik mengalihkan perhatian dari ekonomi AS dan terus melakukan kesepakatan perdagangan besar,” tambahnya.

Respons Trump terhadap Eropa

Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Ruang Oval, Gedung Putih, Kamis (29/1/2026). (Dok. AP/Allison Robert)

Kesimpulan cepat dari pakta AS-India ini tidak luput dari perhatian para analis karena terjadi hanya seminggu setelah perjanjian perdagangan bebas (FTA) Uni Eropa-India yang “bersejarah” tercapai.

Perjanjian perdagangan bebas (FTA) itu menetapkan penurunan tarif atas berbagai produk impor di antara kedua blok hingga mendekati nol persen. Namun, penerapannya akan dilakukan secara bertahap dalam beberapa tahun. Meski demikian, kedua pihak tetap memuji hasil negosiasi yang berlangsung puluhan tahun tersebut sebagai kesepakatan paling penting yang pernah mereka capai.

direktur Inisiatif Asia Selatan di Asia Society Policy Institute Farwa Aamer berkomentar bahwa kesimpulan pakta AS-India menarik karena kesepakatan ini terjadi tepat setelah Perjanjian Perdagangan Bebas Uni Eropa.

“Meskipun negosiasi perdagangan India-AS telah berlangsung cukup lama, kesepakatan dengan Uni Eropa bisa menjadi pendorong bagi AS untuk terus maju. Sekali lagi, pada akhirnya keterlibatan tingkat kepemimpinan yang telah kita bicarakan sejak awal lah yang mampu mewujudkan kesepakatan tersebut,” katanya.

Perdana Menteri India Narendra Modi pada Senin mengonfirmasi bahwa kesepakatan dagang terbaru dengan Amerika Serikat telah tercapai. Dalam pernyataannya, Modi mengatakan produk buatan India kini akan dikenakan tarif lebih rendah sebesar 18%, seraya menyampaikan apresiasi kepada Presiden Donald Trump atas kepemimpinannya.

Walaupun  rincian resmi kesepakatan belum banyak diungkap, perjanjian tersebut dinilai sebagai langkah yang saling menguntungkan bagi kedua pihak.

“Ini adalah hal yang sangat penting karena ini juga didasarkan pada FTA Uni Eropa,” kata Ranen Banerjee, mitra dan pemimpin penasihat ekonomi PwC India, kepada CNBC.

“Dengan adanya FTA Uni Eropa dan kesepakatan AS, hal ini akan memberikan dorongan besar bagi lapangan kerja dan kesempatan kerja di India. Jadi, saya katakan ini menguntungkan kedua negara.”

Arpit Chaturvedi, penasihat Asia Selatan di Teneo, mengatakan kesepakatan dagang AS–India perlu dilihat dalam konteks yang sama dengan perjanjian perdagangan bebas India dan Uni Eropa.

Detail Belum Jelas, Keputusan Masih Ditahan

Ilustrasi bendera India (AFP Photo)

Beberapa analis memperingatkan bahwa diperlukan detail lebih lanjut untuk menilai dampak yang lebih luas dan jangka panjang dari kesepakatan tersebut.

Kepala ekonom untuk India di Citi Samiran Chakraborty mengatakan “Unggahan PM Modi di media sosial tidak menyinggung isu minyak Rusia. India juga seharusnya mengurangi tarif dan hambatan non-tarifnya, tetapi rincian pasti dari penyesuaian tersebut belum diumumkan.”

“India juga kemungkinan akan membeli barang-barang AS dalam jumlah yang lebih besar (Presiden Trump telah menyebutkan $500 miliar) meskipun jangka waktu dan detail spesifiknya masih belum tersedia,” tambahnya.

Paul Donovan, kepala ekonom UBS Global Wealth Management, mengatakan bahwa berdasarkan informasi yang tersedia saat ini, kesepakatan itu kemungkinan hanya memberi dampak terbatas bagi warga AS yang sudah menghadapi kenaikan harga dalam negeri akibat kebijakan tarif global Trump, karena beban biaya tambahannya tetap ditanggung konsumen.

“Unggahan media sosial Trump menunjukkan kesepakatan telah tercapai dengan India untuk mengurangi tarif yang dibayarkan oleh importir AS [tetapi] langkah ini akan berdampak kecil pada krisis keterjangkauan AS — impor India kurang dari 3% dari total impor AS. Sementara kenaikan tarif dengan mudah diteruskan ke konsumen, pengurangan tarif (anehnya) cenderung tidak diteruskan,” ujar Donovan dalam podcast UBS pada hari selasa.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya