Liputan6.com, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Self-Regulatory Organization (SRO) pasar modal melakukan pertemuan dengan tim analis indeks global MSCI untuk membahas sejumlah isu strategis di pasar modal Indonesia. Pertemuan tersebut turut dihadiri perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI), Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), serta Danantara.
Anggota Dewan Komisioner Pengganti Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengatakan agenda diskusi berfokus pada sejumlah perhatian MSCI yang dinilai selaras dengan rencana aksi regulator, khususnya dalam klaster transparansi.
Advertisement
“Untuk reminder saja, apa yang menjadi concern MSCI itu sangat align atau selaras dengan beberapa program rencana aksi kami yang kemarin Bu Ketua, Bu Kiki canangkan. Dari 8 rencana aksi khususnya terkait dengan kluster transparansi, yang terkait dengan pengungkapan ultimate beneficial ownership dan juga terkait dengan likuiditas untuk mendorong peningkatan free float sebagai kebijakan baru di pasar modal kita,” kata Hasan dalam konferensi pers di Gedung BEI, Senin (2/2/2026).
Dalam pertemuan tersebut, OJK bersama BEI dan KSEI juga telah menyampaikan proposal solusi yang diklaim menjawab isu utama yang menjadi perhatian MSCI. Beberapa poin yang diusulkan antara lain peningkatan keterbukaan data kepemilikan saham di bawah 5%, perincian klasifikasi tipe investor, hingga rencana kenaikan batas minimal free float.
“Rekan-rekan sekalian secara umum hari ini yang dilakukan adalah OJK bersama Bursa dan KSEI telah mengajukan proposal solusi yang pada prinsipnya menjawab keseluruhan concern dan isu yang terkait dua hal utama tadi," jelasnya.
Pembahasan antara regulator Indonesia dan MSCI disebut akan berlanjut di tingkat teknis. MSCI juga disebut siap memberikan panduan terkait metodologi dan perhitungan yang digunakan dalam evaluasi mereka. OJK menyatakan akan memberikan pembaruan berkala kepada publik mengenai progres komitmen yang telah disampaikan dalam pertemuan tersebut.
BEI dan OJK Tegaskan Komitmen Reformasi
Sebelumnya, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memastikan akan menggelar pertemuan secara daring dengan perwakilan Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada Senin (02/02). Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kepercayaan indeks provider global terhadap pasar modal Indonesia.
Dalam agenda itu, BEI akan diwakili oleh Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik, yang akan didampingi oleh perwakilan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pertemuan dilakukan secara online menyusul dinamika internal BEI pascapengunduran diri direktur utama.
“Pertemuan secara online. Saya akan mewakili Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk ketemu dengan petinggi MSCI. Dari OJK juga akan ikut,” ujar Jeffrey dalam wawancara cegat di Wisma Danantara Indonesia, Jakarta, Sabtu.
Melalui pertemuan dengan MSCI tersebut, BEI dan OJK akan menyampaikan komitmen kuat pasar modal Indonesia dalam meningkatkan transparansi dan tata kelola. Langkah ini dinilai penting untuk memastikan pasar modal nasional tetap sejalan dengan standar global yang ditetapkan oleh penyedia indeks internasional.
“Kita akan meyakinkan kepada indeks provider global, bahwa Indonesia punya komitmen untuk meningkatkan transparansi dan tata kelola,” ujar Jeffrey.
IHSG Anjlok, Luhut Ingatkan Hal Ini kepada Investor
Sebelumnya, IHSG anjlok, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan meminta investor tidak panik merespons koreksi itu. Ia menilai, saat ini merupakan momen yang tepat untuk perbaikan pasar modal Indonesia.
Dinamika pasar modal Indonesia dipengaruhi oleh evaluasi dan peringatan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI). Sorotan tersebut, kata Luhut, merupakan bagian dalam upaya evaluasi perbaikan kedepannya.
"Kita tidak perlu panik. Peringatan MSCI adalah cerminan yang jujur atas area yang perlu diperbaiki. Ini momentum untuk membangun pasar modal yang kredibel, yang dipercaya investor karena sistemnya kuat, bukan karena spekulasi,” kata Luhut dalam keterangan resminya, Senin (2/2/2026).
Luhut mengamini volatilitas jangka pendek merupakan bagian dari mekanisme pasar yang wajar dan tidak mencerminkan perubahan pada fundamental ekonomi nasional. Dia bilang, masukan dari MSCI harus dipandang sebagai momentum untuk mempercepat reformasi struktural guna mewujudkan pasar modal Indonesia yang lebih sehat, transparan, adil, dan semakin kompetitif.
Dia turut mengimbau masyarakat dan para investor, khususnya investor domestik, untuk tetap tenang serta tidak terbawa sentimen jangka pendek. Pemerintah bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan otoritas terkait akan memperketat pengawasan perdagangan.
"Termasuk pemantauan transaksi tidak wajar, penegakan aturan terhadap praktik manipulasi, serta penguatan komunikasi pasar yang lebih cepat dan jelas. Perlindungan investor dan stabilitas pasar menjadi prioritas utama," bebernya.