Prediksi BPS Soal Inflasi Maret-April 2026 Setelah Januari Sentuh 3,5%

BPS mencatat inflasi Januari 2026 menjadi inflasi tertinggi sejak 2023. Berikut prediksi BPS mengenai inflasi pada Maret-April 2026.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 02 Februari 2026, 17:44 WIB
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan pada Januari 2026 mencapai 3,55 persen (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan pada Januari 2026 mencapai 3,55 persen. Angka ini menjadi inflasi year-on-year tertinggi dalam tiga tahun terakhir, sejak Mei 2023 yang kala itu menyentuh level 4,04 persen.

"Inflasi tahun-tahunan untuk Januari 2026 sebesar tadi 3,55 persen merupakan inflasi yang tadi tertinggi sejak tahun 2023. Di Mei 2023 inflasinya kan 4,04 persen," kata Deputi Bidang Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono, dalam Konferensi Pers BPS, Senin (2/2/2026).

Ateng menegaskan, inflasi kali ini lebih dipengaruhi oleh efek statistik yang dikenal sebagai low base effect atau efek basis rendah. Efek ini terjadi karena adanya kebijakan diskon tarif listrik pada periode yang sama di tahun sebelumnya.

"Ini sekali lagi tadi ya, inflasi tersebut kan di efek balikan atau low base efek inflasi," ujarnya.

Ateng menjelaskan, diskon tarif listrik diberlakukan pada Januari dan Februari 2025. Akibatnya, harga pada periode tersebut menjadi lebih rendah dibandingkan kondisi normal, sehingga ketika kebijakan itu tidak lagi berlaku, perbandingan tahunan terlihat melonjak.

Dampak Inflasi Lanjutan terasa pada Februari 2026

Efek balikan tersebut masih terasa pada Januari dan Februari 2026. Namun, BPS meyakini dampaknya hanya bersifat sementara dan tidak mencerminkan tren inflasi jangka menengah.

"Diskon tarif listrik itu kan diimplementasikan pada bulan Januari dan Februari tahun 2025. Nah, otomatis pada bulan Januari dan Februari di 2026 ini juga, ini masih ada efek balikannya, efek dampak," ujarnya.

Setelah itu, di bulan Maret atau April tahun 2026, BPS meyakini inflasi akan kembali normal, selama tidak ada kebijakan pemerintah untuk menaikkan atau menurunkan harga.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat dan pelaku pasar tidak terkejut apabila inflasi terlihat tinggi pada awal tahun, lalu kembali melandai pada bulan-bulan berikutnya. Menurutnya, low base effect hanya menyebabkan kenaikan sesaat sebelum harga kembali ke tataran normal.

 

Tekanan Harga Dinilai Tetap Terkendali

Jelang perayaan tahun baru Imlek, sejumlah harga pangan di pasaran terpantau masih tinggi, seperti cabai rawit merah Rp 60.000/kg, cabai keriting Rp 40.000/kg dan bawang merah Rp 42.000/kg. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Ateng menegaskan, dinamika harga pada Januari 2026 sejatinya masih berjalan sejalan dengan tren normal. Hal ini tercermin dari inflasi bulanan (month to month/mtm) yang justru mengalami deflasi, menandakan tidak adanya lonjakan harga yang bersifat struktural. Menurut dia, kondisi ini menunjukkan, tekanan inflasi masih terkendali dan tidak mencerminkan pelemahan daya beli masyarakat secara luas.

"Pada Januari 2026 terjadi deflasi sebesar 0,15 persen secara month to month, atau terjadi penurunan indeks harga IHK dari 109,92 pada Desember 2025 menurun menjadi 109,75 pada Januari tahun 2026," pungkasnya.

 

Sektor Ritel Diramal Tetap Kuat di 2026: Konsumsi Naik, Inflasi Terjaga

Angka ini lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang berada di level 0,19 persen, sekaligus menjadi yang paling rendah di antara provinsi-provinsi lain di Pulau Jawa. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, memasuki awal 2026, optimisme terhadap ekonomi Indonesia makin kuat. Meski diakui, situasi global masih dibayangi ketidakpastian. Namun, pasar domestik diprediksi tetap menjadi tulang punggung pertumbuhan.

Sektor ritel nasional pun diramal bakal makin perkasa sepanjang tahun ini, didorong oleh daya beli masyarakat yang tetap tangguh menghadapi berbagai tekanan ekonomi.

Optimisme ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan analisis Bank Mandiri Office of Chief Economist terhadap Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia, kinerja konsumsi rumah tangga menunjukkan tren positif sejak penghujung 2025.

Momentum libur panjang dan perayaan hari besar menjadi bahan bakar utama yang menjaga mesin ekonomi tetap panas.

 

Sektor Ritel

BPKN melakukan kunjungan 22 pasar tradisional dan ritel di Jabodetabek untuk langsung melakukan pengawasan serta penggunaan Qris dimana pemerintah mengeluarkan kebijakan yang memudahkan konsumen. (merdeka.com/imam buhori)

Melihat ke belakang, Indeks Penjualan Riil (IPR) pada Desember 2025 diprakirakan tumbuh 4,4% secara tahunan (year-on-year) menuju level 231,7. Jika dilihat secara bulanan, peningkatannya cukup signifikan yakni mencapai 4,0%. Angka ini membuktikan bahwa masyarakat tidak ragu untuk berbelanja, terutama di momen Natal dan Tahun Baru.

"Secara lebih detail, beberapa sektor ritel mencatatkan pertumbuhan yang sangat kontras namun saling menguatkan," tulis laporan Bank Mandiri, dikutip Rabu (14/1/2026).

Kelompok suku cadang dan aksesori tercatat tumbuh pesat hingga 12,3% secara tahunan, disusul oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang meningkat sebesar 6,9%. Sementara itu, barang budaya dan rekreasi tumbuh 3,5%, serta bahan bakar kendaraan bermotor ikut terkerek 0,2%.

Menariknya, pada level bulanan, lonjakan paling tajam justru terjadi pada peralatan informasi dan komunikasi yang tumbuh 13,9%, menunjukkan bahwa kebutuhan teknologi tetap menjadi prioritas utama masyarakat.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya