Liputan6.com, Jakarta - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) membidik penguatan Bursa Efek Indonesia (BEI). Termasuk melalui skema reformasi total di pasar saham.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir mengatakan perlu adanya reformasi pasar modal secara menyeluruh. Harapannya, bisa mengembalikan kepercayaan para pelaku pasar.
Advertisement
"Krisis kepercayaan di Bursa Efek Indonesia perlu dipandang sebagai momentum untuk melakukan reformasi pasar modal secara menyeluruh guna membangkitkan kembali kepercayaan," ujar Pandu dalam keterangannya, Senin (2/2/2026).
Menurut dia, gejolak saat ini Ini bukan sekadar persoalan satu atau dua saham, dan bukan semata urusan bursa atau indeks global. Namun, menyangkut kepercayaan terhadap sistem pasar modal nasional dan kredibilitas negara.
"Perlu digarisbawahi bahwa agenda reformasi ini bukan lahir dari kepentingan atau preferensi Danantara Indonesia," katanya.
Pandu menekankan, Danantara menyuarakan apa yang dibutuhkan oleh pasar agar pasar modal Indonesia menjadi lebih dalam, lebih likuid, dan lebih kredibel. Menurutnya, reformasi ini merupakan kepentingan ekosistem, bukan kepentingan satu institusi.
"Reformasi ini pada akhirnya bertujuan untuk membangun kepercayaan jangka panjang, memperluas basis investor, serta memastikan pasar modal Indonesia mampu menopang pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan," sebut Pandu.
4 Poin Reformasi
Pandu mencatat setidaknya ada 4 poin dalam kerangka Total Capital Market Reform. Hal tersebu masuk sebagai upaya struktural yang dibutuhkan pasar.
Pertama, peningkatan transparansi. Khususnya keterbukaan ultimate beneficial ownership dan kualitas data kepemilikan saham. Kedua, penguatan tata kelola dan enforcement. Termasuk demutualisasi bursa sebagai bagian dari mitigasi benturan kepentingan dan penguatan institusional.
Ketiga, pendalaman pasar secara terintegrasi. Langkahnya melalui sinergi lintas pemangku kepentingan, dari sisi demand, supply, hingga infrastruktur pasar. Keempat penguatan likuiditas. Ini termasuk penyesuaian kebijakan free float agar selaras dengan praktik global.
"Kenaikan free float perlu dilakukan melalui kebijakan yang membangun kepercayaan investor sehingga valuasi mencerminkan fundamental. Ketika kepercayaan dan valuasi terbentuk, kebijakan free float naik dari 7,5% ke 15% dapat berjalan secara efektif," tutur Pandu.
Danantara Sebut Demutualisasi BEI Tak Picu Konflik Kepentingan
Sebelumnya, Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, menegaskan rencana demutualisasi PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi perusahaan terbuka yang sahamnya bisa dimiliki publik tidak akan memicu benturan kepentingan.
Ia juga memastikan potensi konflik kepentingan tetap tidak akan muncul sekalipun Danantara Indonesia nantinya menjadi salah satu pemegang saham BEI. Menurutnya, hal itu karena operasional bursa tetap berada di bawah pengaturan dan pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai regulator.
“OJK-lah yang melakukan pengaturan. Pemegang saham ya fokus kepada profit (mencari keuntungan) untuk institusi itu,” ujar Pandu Sjahrir kepada wartawan di Gedung BEI, Jakarta, Minggu (1/2/2026).
Ia menjelaskan, para pemangku kepentingan berfokus mendorong perusahaan agar berkembang lebih baik sekaligus menghasilkan keuntungan yang kemudian dapat dibagikan dalam bentuk dividen kepada seluruh pemegang saham.
Pembagian Peran
Dengan pembagian peran tersebut, ia meyakini independensi dalam pengaturan pasar modal domestik akan tetap terjaga.
"Kita juga ingin lebih maju lagi kan. Kita ingin pasar modal kita lebih dalam. Jadi, whereas fungsi untuk regulator diperjelas, fungsi pemegang saham juga jelas," tutur Pandu.
Ia turut menegaskan bahwa BEI ke depan tidak akan berstatus sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Terkait rencana Danantara Indonesia menempatkan 50 persen dananya di dalam negeri, Pandu menyebut sebagian alokasi investasi akan masuk ke pasar modal, baik melalui instrumen obligasi maupun saham.
“Kami melihat (instrumen investasi seperti obligasi dan ekuitas) menarik. Saya nggak bakal juga describe specifically (merinci secara spesifik) berapa persen (investasi yang digelontorkan di pasar modal), karena pemain-pemain pasar modal ini sangat pintar, yang pasti kami akan terus berinvestasi di pasar modal Indonesia,” pungkasnya.