Ikan Sapu-Sapu dari Sungai Jakarta Berisiko Tercemar Logam dan Bakteri Berbahaya, Tak Layak Konsumsi

Keberadaan ikan sapu-sapu yang mendominasi sejumlah titik di Sungai Ciliwung kini menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.

oleh Winda NelfiraDiterbitkan 27 Januari 2026, 11:48 WIB
Ribuan ikan sapu-sapu mati mendadak di Sungai Kresek (Liputan6.com / Dian Kurniawan)

Liputan6.com, Jakarta - Keberadaan ikan sapu-sapu yang mendominasi sejumlah titik di Sungai Ciliwung kini menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta menegaskan ikan sapu-sapu yang hidup di perairan tercemar tidak layak untuk dikonsumsi karena berisiko tinggi terhadap kesehatan.

“Melihat hal tersebut bahwa sungai yang ada di wilayah Jakarta sudah tercemar oleh limbah industri sehingga ikan liar yang diambil dari perairan DKI Jakarta tidak layak untuk dikonsumsi,” kata Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta Hasudungan Sidabalok dalam keterangan tertulis, dikutip Selasa (27/1/2026).

Dia menjelaskan secara biologis ikan sapu-sapu memang dapat dikonsumsi, namun jika ikan tersebut berasal dari hasil budidaya yang terkontrol, bukan dari sungai atau waduk yang tercemar limbah.

"Ikan sapu-sapu secara biologis bisa dikonsumsi jika berasal dari hasil budidaya yang terkontrol. Itu pun masih harus melalui uji laboratorium, baik uji logam berat maupun mikrobiologi," katanya.

Menurut dia, kondisi tersebut sangat berbeda dengan ikan sapu-sapu yang ditangkap dari sungai tercemar seperti Ciliwung. Sebab, risiko kontaminasi logam berat dan cemaran biologis pada ikan dari sungai dinilai sangat tinggi.

"Pada kali yang tercemar, risiko kontaminasi logam berat berbahaya sangat tinggi, termasuk kontaminan lain seperti bakteri E. coli yang berbahaya jika dikonsumsi," ungkapnya.

Tidak Memenuhi Standar Keamanan Pangan

Hasudungan menyebut, dalam konteks standar keamanan pangan, ikan sapu-sapu dari sungai tercemar tidak dapat dipastikan keamanannya. Di Indonesia, konsumsi ikan segar merujuk pada Standar Nasional Indonesia (SNI) yang mengatur ambang batas maksimum kontaminan seperti timbal (Pb), kadmium (Cd), merkuri (Hg), dan arsen (As) dalam daging ikan.

Namun, ikan hasil tangkapan liar dari sungai tercemar umumnya tidak melalui sistem pengawasan produksi dan mutu pangan.

“Ikan hasil tangkapan liar seperti ikan sapu-sapu di sungai tercemar biasanya tidak melalui sistem pengawasan dan keamanan mutu. Karena itu, ikan tersebut tidak dapat dipastikan aman untuk dikonsumsi dan tidak memenuhi standar keamanan serta mutu pangan,” jelasnya.

Ia menyampaikan, dari kajian dan pengalaman dinas KPKP DKI, ikan sapu-sapu yang hidup di perairan tercemar berpotensi mengandung berbagai logam berat berbahaya.

Hasudungan merujuk sejumlah penelitian yang menunjukkan adanya kandungan arsen, kadmium, timbal, hingga merkuri pada ikan sapu-sapu dari Sungai Ciliwung.

“Logam berat ini cenderung terakumulasi dalam tubuh ikan, terutama di jaringan yang dikonsumsi manusia. Jika dikonsumsi secara rutin, risikonya bisa menyebabkan keracunan kronis,” katanya.

Mengandung Bakteri Berbahaya

Selain cemaran logam berat, ikan dari sungai yang tercemar juga berpotensi membawa bakteri patogen dan parasit yang bisa memicu gangguan pencernaan maupun infeksi. Tak hanya itu, paparan polutan lain seperti residu pestisida, mikroplastik, hingga bahan kimia limbah juga berisiko terserap ke dalam tubuh ikan.

Hasudungan menegaskan ikan budidaya yang diawasi dinilai lebih aman karena kualitas air dan pakan dapat dikendalikan. Khususnya ikan budidaya yang menerapkan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB).

Sebagai langkah pencegahan, Dinas KPKP DKI Jakarta mengimbau masyarakat dan pedagang makanan tidak menggunakan ikan sapu-sapu dari perairan tercemar sebagai bahan pangan. Edukasi ini juga akan disebarluaskan melalui media sosial dan poster peringatan untuk meningkatkan kesadaran publik.

“Kami mengedukasi masyarakat agar tidak mengonsumsi ikan dari perairan tercemar yang tidak memiliki jaminan mutu, sekaligus menjelaskan dampak kesehatan dari konsumsi ikan yang tercemar logam berat,” kata Hasudungan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya