Liputan6.com, Jakarta - Di tengah meningkatnya kebutuhan produk kesehatan konsumen di seluruh dunia, industri kesehatan dituntut untuk menerapkan standar keberlanjutan yang lebih kuat. Selain memastikan keamanan serta kualitas produk, perusahaan perlu mengelola emisi operasional secara lebih bertanggung jawab.
Haleon, perusahaan kesehatan konsumen global, konsisten mengimplementasikan berbagai inisiatif keberlanjutan, termasuk efisiensi energi dan pemanfaatan energi terbarukan.
Advertisement
Salah satunya dengan meresmikan operasional Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap di fasilitas produksinya di Pulogadung, Jakarta Timur. Fasilitas ini memainkan peran penting tidak hanya dalam memenuhi kebutuhan pasar domestik, tetapi juga dalam memasok produk ke sejumlah negara di Asia Tenggara, menjadikannya salah satu lokasi manufaktur strategis dalam blueprint keberlanjutan global Haleon.
Inisiatif PLTS Atap ini menjadi langkah penting dalam upaya menurunkan emisi operasional sekaligus memperkuat transisi energi bersih di sektor kesehatan nasional.
PLTS Atap berkapasitas 416,97 kWp tersebut diproyeksikan menghasilkan sekitar 577.647 kWh energi hijau per tahun. Pemanfaatan energi terbarukan ini berpotensi mengurangi lebih dari 449 ton CO₂e per tahun, setara dengan kemampuan penyerapan karbon lebih dari 7.460 pohon setiap tahunnya. Energi bersih ini akan langsung mendukung proses produksi berbagai produk kesehatan konsumen yang dibuat di Indonesia untuk pasar lokal maupun regional.
Direktur Pulogadung Site Haleon Indonesia Suwandi Yulia Putra menyampaikan, pengoperasian PLTS Atap ini merupakan wujud nyata dari komitmen global yang diterjemahkan ke dalam aksi operasional di lapangan.
“Dalam industri kesehatan, keberlanjutan bukan lagi inisiatif tambahan, melainkan bagian dari komitmen inti perusahaan. Operasional PLTS Atap pertama kami di Indonesia merupakan tonggak penting dalam perjalanan dekarbonisasi Haleon. Langkah ini tidak hanya memperkuat komitmen global kami, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap pengurangan emisi karbon di industri kesehatan Indonesia," kata Suwandi, Selasa (27/1/2026).
Dekarbonisasi Industri
Proyek PLTS Atap ini direalisasikan melalui kolaborasi dengan SUN Energy. CEO SUN Energy, Jefferson Kuesar, menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung dekarbonisasi industri.
“Industri kesehatan memiliki standar operasional yang sangat ketat. Ketika perusahaan seperti Haleon memilih energi terbarukan, hal ini memberikan pesan kuat bahwa transisi energi adalah kebutuhan lintas sektor. SUN Energy siap menjadi mitra strategis dalam membangun proses produksi yang efisien, rendah emisi, dan berorientasi pada keberlanjutan jangka panjang,” jelas Emmanuel.
Lebih dari sekadar proyek energi terbarukan, inisiatif ini menjadi langkah strategis dalam perjalanan jangka panjang Haleon untuk memperkuat standar operasional yang lebih hijau, efisien, dan bertanggung jawab di seluruh fasilitasnya.
SUN Energy melihat sektor kesehatan sebagai salah satu sektor dengan potensi besar dalam mempercepat penerapan energi bersih, seiring meningkatnya permintaan akan produk kesehatan yang aman, berkualitas, dan diproduksi secara berkelanjutan.
Tutup 2025, SUN Energy Siapkan Platform Digital Terintegrasi Pengelolaan Proyek Energi
Sebelumnya, menutup tahun 2025 sekaligus menandai langkah menuju satu dekade perjalanan perusahaan di tahun depan, SUN Energy memperkenalkan SUN Hub, sebuah platform digital terintegrasi berbasis web yang berfungsi sebagai portal pengelolaan proyek energi surya bagi mitra bisnis.
SUN Hub dikembangkan untuk menjawab kebutuhan pelanggan yang semakin kompleks, bukan hanya dalam memantau kinerja sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), tetapi juga dalam mengelola data proyek, mengoptimalkan penggunaan energi, serta meningkatkan kapabilitas internal melalui pembelajaran berkelanjutan.
Di tengah meningkatnya tuntutan efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas keberlanjutan, banyak perusahaan masih menghadapi tantangan pengelolaan energi yang terfragmentasi.
Berbagai studi global menunjukkan bahwa meskipun lebih dari 90 persen perusahaan telah menjalankan inisiatif transformasi digital, hingga 95 persen belum mencapai hasil optimal akibat kurangnya integrasi dan visibilitas data. Tantangan serupa juga kerap ditemui dalam pengelolaan sistem energi surya di fasilitas industri yang tersebar di berbagai lokasi.
Peluncuran awal SUN Hub dilakukan untuk menjawab tantangan transformasi digital yang masih dihadapi banyak perusahaan tersebut, khususnya dalam pengelolaan PLTS di sektor industri yang menuntut keandalan operasional, akurasi, serta pengambilan keputusan berbasis data real-time.
SUN Hub hadir sebagai satu platform dengan berbagai fungsi strategis.
CEO SUN Energy, Emmanuel Jefferson Kuesar, menyampaikan bahwa SUN Hub dikembangkan dengan pendekatan yang berangkat dari kebutuhan nyata pelanggan.
“Kami memahami bahwa mengelola sistem PLTS di fasilitas industri bukanlah hal yang sederhana. Banyak data teknis, proses operasional, dan keputusan strategis yang harus dikelola setiap hari. Dengan SUN Hub, kami ingin membuat proses tersebut lebih ringkas dan terintegrasi, agar pelanggan dapat mengambil keputusan dengan cepat dan akurat, berbasis data real-time yang mudah diakses perusahaan. SUN Hub kami hadirkan sebagai satu platform yang menjawab kebutuhan tersebut secara menyeluruh,” ujarnya, Rabu (31/12/2025).
Data Management System
Sebagai data management system, SUN Hub menyatukan data teknis, operasional, finansial, dan pelaporan keberlanjutan dalam satu portal terpusat, menjadikannya single source of truth bagi mitra bisnis dalam mengelola proyek energi.
Sebagai energy management system, platform ini memungkinkan pelanggan memantau performa PLTS secara real-time, termasuk produksi dan konsumsi energi, tingkat efisiensi sistem, serta estimasi penurunan emisi karbon. Data ini membantu pelanggan
mengidentifikasi peluang peningkatan kinerja, efisiensi operasional, dan pengambilan keputusan berbasis data.
Sementara itu, sebagai learning management system, SUN Hub menyediakan konten edukasi energi bersih yang terstruktur, mulai dari modul pelatihan dan referensi teknis, hingga wawasan terkini terkait energi terbarukan, efisiensi energi, dan keberlanjutan. Fitur ini dirancang untuk mendukung peningkatan literasi dan kapasitas internal pelanggan dalam mengelola transisi energi secara berkelanjutan.
Chief Sales Officer SUN Energy, Oky Gunawan, menambahkan bahwa pengembangan SUN Hub juga menjadi bagian dari upaya SUN Energy meningkatkan standar pengelolaan proyek energi di sektor industri.
“Seiring bertambahnya skala dan kompleksitas proyek energi surya industri, pelanggan membutuhkan sistem yang mampu mengelola data proyek secara rapi, konsisten, dan mudah ditelusuri. SUN Hub kami rancang sebagai fondasi pengelolaan proyek energi yang lebih tertib, terukur, dan siap berkembang, seiring kebutuhan bisnis pelanggan yang terus berubah,” jelasnya.