Longsor Cisarua Bandung Barat, Warga Diimbau Waspada Bencana Susulan saat Hujan Deras

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) imbau masyarakat terkait bencana longsor susulan di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat (Jabar).

oleh Nikmah Laily HawaDiterbitkan 27 Januari 2026, 18:00 WIB
Pagi ini Senin (26/1) proses pencarian kembali dilanjutkan dengan fokus titik pencarian yang sebelumnya sudah dipetakan melalui gambar yang diolah melalui drone.

Liputan6.com, Jakarta - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengimbau masyarakat untuk waspada dengan bencana longsor susulan di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat (Jabar).

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi Lana Saria menjelaskan, kejadian ini dipicu oleh curah hujan tinggi yang terjadi sebelum dan saat kejadian.

BACA JUGA: Longsor di Lembah Anai, Batu Besar Tutup Jalur Padang-Bukittinggi

"Faktor pemicu utama adalah curah hujan tinggi yang terjadi sebelum dan saat kejadian, yang menyebabkan peningkatan tekanan air pori, penurunan kuat geser tanah, dan terjadinya kegagalan lereng," ujar Lana, Senin 26 Oktober 2026.

Meskipun longsor telah berhenti, masyarakat diimbau untuk selalu berhati-hati, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi dan durasi yang lama.

Selain curah hujan yang tinggi, Lana menyebutkan, longsor juga dipengaruhi oleh kondisi geologi yang didominasi dengan batuan gunung api tua yang telah lapuk, kemiringan lereng yang curam, serta keberadaan rekahan dan sesar geologi.

"Peristiwa ini menunjukkan keterkaitan kuat antara kondisi morfologi curam, batuan vulkanik lapuk, struktur geologi, serta pengaruh curah hujan tinggi terhadap terjadinya longsor berskala luas," katanya.

Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah (ZKGT), wilayah Cisarua termasuk ke dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah. 

Sehingga saat hujan deras, longsor berpotensi terjadi, terutama pada lereng yang telah mengalami gangguan, baik secara alami maupun akibat aktivitas manusia.

Risiko longsor juga semakin besar akibat adanya pemotongan lereng yang dialih fungsikan untuk permukiman dan akses jalan.

Sistem drainase permukaan yang belum optimal juga turut memengaruhi bencana ini.

Penugasan Kepada Tim Tanggap Darurat (TTD)

Tim SAR gabungan melaksanakan apel sebelum melakukan pencarian korban terdampak longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. (Kantor SAR Bandung)

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Hadi Wijaya mengatakan, Badan Geologi telah menugaskan Tim Tanggap Darurat (TTD) ke lokasi bencana.

"Tim Tanggap Darurat Badan Geologi saat ini sudah berada di lokasi terjadinya gerakan tanah berupa tanah longsor di Kabupaten Bogor. Tim akan melakukan pemeriksaan di lokasi bencana untuk mengetahui penyebab terjadinya bencana," terang Hadi.

Tim juga telah melakukan pemeriksaan lapangan untuk mengetahui penyebab longsor serta menyiapkan rekomendasi teknis penanganan di area terdampak seluas kurang lebih 30 hektare.

Terdapat 10 orang yang turun ke lapangan. Lima di antaranya terdiri dari tim teknis, dan lima yang lain merupakan tim nonteknis. 

Di sana, mereka akan memberikan rekomendasi teknis penanganan bencana longsor dan sosialisasi mengenai kondisi longsor yang telah terjadi kepada masyarakat yang terdampak bencana.

Upaya ini dilakukan sebagai bagian dari mitigasi bencana yang mungkin dapat terulang kembali, serta pemantauan lanjutan akan dilakukan.

Imbauan Longsor Susulan

Ratusan warga terdampak longsor Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat saat ini berada di posko pengungsian yang didirikan di Kantor Desa Pasirlangu, Minggu, 25 Januari 2026. (Liputan6.com/Dikdik Ripaldi)

Wilayah terdampak longsor merupakan daerah perbukitan dengan kepadatan permukiman dan aktivitas pemanfaatan lahan yang cukup tinggi. 

Warga di sekitar lokasi longsor diminta untuk segera mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Selain itu, masyarakat yang tinggal di dekat lereng curam diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat dan setelah hujan deras, mengingat potensi terjadinya gerakan tanah susulan masih tinggi.

Kata Lana, dalam proses penanganan bencana, keselamatan relawan di lapangan juga perlu diperhatikan, karena longsor susulan masih berpotensi terjadi kembali dan status kewaspadaan masih diberlakukan.

Ia juga menegaskan, koordinasi antarinstansi dan pemantauan kondisi cuaca secara berkala menjadi hal penting agar proses evakuasi dan penanganan berjalan aman.

"Penanganan longsoran dan pencarian korban hilang agar memperhatikan cuaca, agar tidak dilakukan pada saat dan setelah hujan deras, karena daerah ini masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan yang bisa menimpa petugas," pungkas Lana.

Infografis Waspada Peningkatan Hujan di Sejumlah Wilayah Indonesia. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya