Dubes Boroujerdi Kritik Media Barat, Dinilai Bias dan Salah Framing Kerusuhan di Iran

Bagaimana Duta Besar Iran Mohammad Boroujerdi menggambarkan fakta-fakta di lapangan terkait situasi terkini di Iran?

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 22 Januari 2026, 20:11 WIB
Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi pada Kamis (22/1/2026) di Jakarta, menyebut pemberitaan media asing telah menciptakan persepsi keliru di tingkat internasional dan berpotensi menyesatkan opini publik. (Dok. Liputan6.com/Teddy Tri Setio Berty)

Liputan6.com, Jakarta - Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi melontarkan kritik keras terhadap media arus utama Barat yang dinilainya tidak berimbang dalam memberitakan perkembangan situasi di Iran.

Dalam press briefing di Jakarta, Kamis (22/1/2026), Boroujerdi menuding sejumlah media Barat membesar-besarkan jumlah korban, melakukan framing anti-Iran, serta mengadopsi narasi politik negara-negara Barat tanpa proses verifikasi yang memadai.

Boroujerdi menyatakan pemberitaan tersebut telah menciptakan persepsi keliru di tingkat internasional dan berpotensi menyesatkan opini publik.

Menurut dia, narasi yang beredar kerap mengabaikan konteks serta fakta di lapangan, dan lebih menonjolkan tuduhan sepihak terhadap pemerintah Iran.

“Sebagian media mainstream Barat menyebarkan angka-angka korban yang dibesar-besarkan dan tidak diverifikasi. Ini bukan kerja jurnalistik yang bertanggung jawab,” ujar Boroujerdi.

Ia juga menyoroti penggunaan istilah “rezim Iran” dalam sejumlah laporan media asing. Menurut Boroujerdi, penyebutan tersebut tidak tepat dan sarat muatan politik.

Menurutnya, Iran merupakan negara berdaulat dengan pemerintahan yang memiliki legitimasi konstitusional, sehingga penggunaan istilah tersebut dinilai menyalahi kaidah pemberitaan yang objektif.

“Penggunaan istilah 'rezim' terhadap pemerintah Iran adalah keliru dan tidak profesional. Istilah itu mencerminkan keberpihakan, bukan fakta,” tegasnya.

Boroujerdi menilai pola pemberitaan seperti ini mencerminkan adopsi langsung narasi Barat tanpa upaya cek silang atau konfirmasi dari sumber resmi Iran. Ia menyebut praktik tersebut bertentangan dengan prinsip jurnalisme independen yang menjunjung akurasi dan keberimbangan.

Meski demikian, Boroujerdi menyampaikan apresiasi kepada media yang tetap menjaga independensi dan tidak terjebak dalam framing politik. Ia berharap media, termasuk di Indonesia, dapat terus mengedepankan fakta, konteks, dan verifikasi dalam melaporkan isu-isu internasional, khususnya yang berkaitan dengan Iran.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya