Cara Ubah Limbah jadi Cuan Ala Gerakan Laboratorium Dusun

Beberapa tahun terakhir, tren ekonomi sirkular mulai tumbuh kuat di berbagai daerah. Gerakan ini biasa bermula di pedesaan dengan memberdayakan masyarakat lokal.

oleh Muhammad Farih FananiDiterbitkan 21 Januari 2026, 17:20 WIB
Nilai Baru dari Barang Lama, Strategi Ubah Limbah jadi Cuan Instagram.com/se.dusun

Liputan6.com, Jakarta - Dari balik tumpukan barang bekas, kaleng minuman kosong, hingga serpihan kain sisa, terdapat peluang ekonomi yang jarang disadari banyak orang. Benda-benda itu biasanya hanya berakhir sebagai sampah, namun bagi orang kreatif, barang ini bisa jadi bahan baku yang bernilai.

Beberapa tahun terakhir, tren ekonomi sirkular mulai tumbuh kuat di berbagai daerah. Gerakan ini biasa bermula di pedesaan dengan memberdayakan masyarakat lokal. Salah satunya adalah seorang Ida Mandalawangi, ia adalah Pengelola Gerakan Laboratorium Dusun.

Laboratorium Dusun adalah sebuah gerakan yang mempelajari tentang hal-hal di dusun, mulai dari kebijaksanaan, cara masyarakat hidup, bertahan hidup, hingga potensi-potensinya.

Ia berhasil membangun gerakan ini yang bertempat di Rongkop, Gunungkidul, DI. Yogyakarta, dan berhasil mengubah limbah barang bekas menjadi sumber ekonomi yang menguntungkan. Berikut Liputan6 memberikan ulasan lengkapnya untuk Anda, Rabu (21/1/2025).

Strategi Ubah Limbah jadi Cuan

Nilai Baru dari Barang Lama, Strategi Ubah Limbah jadi Cuan Instagram.com/se.dusun

Barang yang dianggap tak berguna tidak selalu menjadi sampah. Barang lama hanya membutuhkan sentuhan kreativitas untuk kembali berguna dan bernilai ekonomis. Strategi ini sebagai bentuk apresiasi terhadap barang yang masih memiliki potensi.

Langkah awal mendapatkan barang bekas adalah dengan bekerja sama dengan pihak-pihak terkait yang berpotensi menghasilkan limbah. Material itu kemudian diolah dengan mengedepankan fungsi dan estetika, dengan memanfaatkan kemampuan warga sekitar.

“Kita ngajakin kerja sama bareng beberapa entitas ya. Yang pertama itu memang kayak pemulung, terus toko roti, terus kayak event organizer, jadi kayak EO-EO gitu karena material yang kita gunakan itu kan ada terpal, ada banner, terus ada bagor gitu-gitu,” jelas Ida.

“Nah terus kita kerja samanya sama mereka. Nah, bahan-bahan yang dari mereka ini kita coba olah jadi tas-tas gitu di sini,” lanjutnya.

Usaha yang dilakukan dengan memanfaatkan barang bekas di pedesaan tentu membutuhkan pikiran dan tenaga yang ekstra. Ada beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan, mulai dari distribusi hingga marketing.

“Membangun usaha tentu bukan perkara mudah. Ada banyak aspek yang harus dipikirkan. Mulai dari rantai pasok distribusi, catatan keuangan, tim, branding, foto produk, marketing, dan keberlanjutan usaha,” ungkap Ida.

Proses Bangun Gerakan Ekonomi Sirkular

Model bisnis berbasis bahan bekas adalah bagian dari konsep ekonomi sirkular sistem yang bertujuan meminimalisasi limbah dan memaksimalkan pemanfaatan sumber daya. Dalam ekosistem ini, barang yang sudah tidak digunakan tidak dibuang begitu saja, tetapi diputar kembali ke siklus produksi.

Bagi pegiat ekonomi sirkular, dibutuhkan proses yang panjang untuk belajar dan memperbaiki kualitas secara terus menerus. Ida memaparkan jika ia terus berusaha untuk menentukan kompas dan arah tujuannya dari usaha yang ia lakukan.

“Dari proses kami yang masih seumur jagung, kami belajar bahwa sekecil apapun usaha yang kita bangun, penting untuk menentukan kompasnya. Arah tujuan yang ingin dicapai dari usaha kecil yang dilakukan,” jelasnya.

“Kompas yang bisa menuntun usaha kecil ini bisa berjalan step-by-step, langkah demi langkah. Mencatat seluruh proses untuk memitigasi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi,” lanjutnya.

Value dalam gerakan ini juga cukup kuat. Konsumen tidak sekadar membeli barang, tapi juga membeli ide dan kreativitas pembuatnya. Dukungan pasar inilah yang membuat roda ekonomi sirkular terus bergerak dan semakin maju.

Dampaknya untuk Masyarakat

Nilai Baru dari Barang Lama, Strategi Ubah Limbah jadi Cuan Instagram.com/se.dusun

Ekonomi sirkular memberikan peluang usaha baru bagi masyarakat desa dengan cara mengolah kembali material, memperbaiki barang, dan memanfaatkan limbah sebagai sumber bahan baku.

Selain itu, ekonomi sirkular juga mengurangi ketergantungan desa pada bahan baru. Dengan memanfaatkan kembali material yang tersedia, biaya produksi bisa ditekan dan pengeluaran rumah tangga menurun.

Meningkatnya ekonomi dan pemberdayaan keterampilan warga sekitar ini menjadi hal penting yang jadi poin penting. Banyak proses dalam kegiatan ekonomi ini bersifat padat karya, seperti memilah, membentuk, hingga memasarkan produk.

Dalam konteks ini, gerakan Laboratorium Dusun memanfaatkan keahlian warga yang punya kemampuan menjahit untuk kembali mengasah kemampuannya. Mereka diajak untuk membuat tas yang berasal dari bahan-bahan bekas.

Hal ini tentu berdampak baik bagi warga sekitar. Selain ekonomi, para penjahit ini kembali dihidupkan dengan cara memberi mereka orderan membuat tas, sehingga warga mendapatkan media untuk berkegiatan kembali secara positif.

“Beberapa tahun terakhir ini mereka tuh sudah makin jarang gitu dapat orderan jahit gitu kan. Kemarin bareng temen-temen tuh cobalah bikin sesuatu yang bisa lagi nih menghidupkan kasih orderan gitulah ya, kasih orderan ke penjahit-penjahit tetanggaku ini gitu,” jelas Ida

“Nah terus kita bikinlah produk upcycle itu karena kita kan pengennya apa ya bikin suatu produk yang punya nilai tawar gitulah,” lanjutnya.

Pada akhirnya, proses kreatif dalam ini mengajarkan bahwa barang yang berguna tidak selalu tercipta dari bahan yang baru. Dengan sentuhan kreatif dan strategi yang tepat, barang yang tadinya hanya masuk di tempat sampah, bisa berguna dan bernilai jual tinggi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya