Rupiah Naik Terbatas terhadap Dolar AS, Berpeluang ke Level Ini

Analis menuturkan, indeks dolar Amerika Serikat (AS) yang melemah akan berdampak ke nilai tukar rupiah.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 21 Januari 2026, 11:52 WIB
Sentimen global membayangi pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (Liputan6.com/Angga Yuniar )

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat terbatas pada perdagangan Rabu (21/1/2026). Kurs rupiah terhadap dolar AS naik 1 poin atau 0,01% menjadi 16.955 per dolar AS dari sebelumnya 16.956. Pergerakan rupiah itu dipengaruhi ancaman tarif Presiden AS Donald Trump kepada negara-negara Eropa.

Demikian disampaikan Analis Bank Woori Saudara Rully seperti dikutip dari Antara, Kamis pekan ini.

Ia prediksi rupiah akan menguat di kisaran 16.910-16.970. Penguatan rupiah didorong sentimen global. “Dipengaruhi oleh global trend pelemahan indeks dolar seiring meningkatnya risiko ancaman tarif AS ke negara-negara Eropa,” kata dia.

Trump mengancam memberikan tarif sebesar 10 persen mulai 1 Februari terhadap delapan negara Eropa yang menentang rencana Washington mengakuisisi Greenland.

Negara-negara yang menjadi target ialah Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda dan Finlandia.

Ancaman tersebut berpotensi meningkat jadi 25% pada 1 Juni apabila tidak ada kesepakatan yang tercapai terkait Greenland.

Pengumuman tersebut menuai kritik tajam dari para pejabat Eropa dan meningkatkan kekhawatiran akan sengketa perdagangan Trans-Atlantik yang lebih luas.

“Risiko geopolitik terkait Greenland yang menjadi pemicu, sehingga aset-aset dalam dolar lebih berisiko dan inflasi AS yang mulai merangkak naik akibat tarif,” kata Rully.

Melihat sentimen domestik, pelaku pasar masih menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang diperkirakan akan menahan bunga di level 4,75 persen.

“Pelaku pasar terutama asing masih berhati-hati untuk masuk dan membeli obligasi pemerintah akibat belanja dan penerbitan obligasi yang agresif,” ujar dia.

 

Ini Dampaknya Jika Nilai Tukar Rupiah Terus Melemah

Sebelumnya, Ekonom Center of Economics and Law Studies (Celios) Nailul Huda, menilai pelemahan rupiah bisa berdampak signifikan terhadap sektor industri yang mengandalkan bahan baku impor.

"Sektor yang paling terdampak adalah sektor industri yang mengandalkan bahan baku impor. Akan ada kenaikan harga bahan baku impor yang cukup signifikan karena pelemahan rupiah," kata Nailul Huda kepada Liputan6.com, Selasa (20/1/2026)z

Menurut Nailul, dampaknya bisa terjadi imported inflation atau inflasi yang ditimbulkan oleh barang-barang impor atau bahan baku impor. Misalkan tempe dan tahu yang lebih mahal karena kedelai impor.

Lebih lanjut, ia membeberkan beberapa faktor eksternal dan internal yang sama-sama berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah. Faktor eksternal pertama adalah sikap the Fed dan beberapa bank sentral lainnya yang menahan suku bunga acuan. Arus dolar akan kembali ke AS dan negara maju. Permintaan dolar akan meningkat. 

Faktor eksternal lainnya adalah ketegangan di global, khususnya timur tengah (Iran) membuat harga minyak menguat. 

"Di tengah ketidakpastian yang tinggi, ada dua instrumen investasi yang cenderung aman, yaitu dolar AS dan emas," ujarnya.

Faktor Internal

Pegawai menunjukkan mata uang rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (5/1/2023). Nilai tukar rupiah ditutup di level Rp15.616 per dolar AS pada Kamis (5/1) sore ini. Mata uang Garuda melemah 34 poin atau minus 0,22 persen dari perdagangan sebelumnya. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sementara, untuk faktor internal adalah pengumuman kinerja APBN 2025 yang mencatatkan rapor merah. Dari sisi defisit fiskal yang membengkak memberikan sentimen negatif pada pengelolaan keuangan negara. 

Belanja yang boros namun penerimaan yang seret membuat kekhawatiran terkait anggaran yang sustainable. Alhasil investor melihat pengelolaan yang buruk sebagai sentimen negatif. 

"Kedua adalah hutang yang membengkak yang bisa meruntuhkan kondisi fiskal kita. Hutang yang menumpuk membuat kinerja fiskal tidak optimal dalam pembangunan," ujarnya.

Nilai Tukar Rupiah

Nilai tukar atau kurs rupiah di pasar spot sudah semakin mendekat Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Sejumlah bank memasang kurs jual dan beli dolar AS di angka Rp 16.900 lebih pada Senin (19/1/2026).

Sebagai contoh Bank Central Asia (BCA), yang memasang kurs beli USD 1 sebesar Rp 16.913 pada Senin, 19 Januari 2026, pukul 10.01 WIB. Sementara kurs jual ditaruh pada Rp 16.933.

Tak beda jauh, kurs beli dolar AS di Bank Rakyat Indonesia (BRI) juga dipatok Rp 16.911. Dengan kurs jual di kisaran Rp 16.938 per dolar AS. 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya