Liputan6.com, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencetak rekor tertinggi baru di level 9.133 di tengah tekanan global yang meningkat dan pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati Rp 17.000 per dolar AS.
Analis pasar modal Hendra Wardana, mengusulkan di tengah IHSG yang terus mencetak rekor tertinggi, investor disarankan bisa menerapkan strategi yang paling relevan saat ini yaitu tetap disiplin dan tidak mengejar harga di tengah reli.
Advertisement
"Pendekatan buy on weakness dan trading terukur dengan manajemen risiko yang ketat menjadi kunci agar investor tidak terjebak volatilitas jangka pendek, terutama di tengah kondisi global yang masih rapuh," kata Hendra kepada Liputan6.com, Selasa (20/1/2026).
Disamping itu, untuk saham yang masih menarik dicermati ditengah IHSG yang sedang naik ini, Hendra mengatakan peluang tetap terbuka pada saham-saham yang memiliki katalis, likuiditas, dan valuasi yang relatif rasional.
Misalnya, saham PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) menarik untuk strategi trading buy dengan target 1.430. Kemudian, saham PT Green Eagle Group Tbk (BWPT) juga layak dicermati sebagai saham turnaround dengan target 179. Selain itu, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) juga masih menarik untuk trading dengan target 450.
"Selain itu, KPIG dengan target 300 dan NETV dengan target 250 dapat menjadi opsi spekulatif yang berpotensi memberikan imbal hasil menarik, selama investor tetap disiplin terhadap batas risiko," ujarnya.
IHSG Hari Ini 19 Januari 2026 Cetak Rekor Tertinggi Baru
Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat signifikan pada sesi kedua perdagangan saham Senin, (19/1/2026). IHSG hari ini ditutup ke level tertinggi baru di tengah transaksi harian saham mencapai Rp 35,9 triliun.
Mengutip data RTI, IHSG hari ini ditutup melonjak 0,64% ke posisi 9.133,87. Indeks saham LQ45 melonjak 00,41% ke posisi 893,12. Sebagian besar indeks saham acuan menghijau.
Saham Berkapitalisasi Besar Penggerak IHSG Melonjak
Lebih lanjut, Hendra mengatakan kenaikan indeks tidak digerakkan oleh euforia semata, melainkan oleh selektivitas terhadap sektor dan saham yang memiliki kinerja keuangan solid, daya tahan terhadap tekanan eksternal, serta peluang pertumbuhan yang jelas.
"Saham-saham berkapitalisasi besar menjadi mesin utama penggerak IHSG menuju level 9.133. Sektor konsumer primer dan siklikal tampil dominan, ditopang oleh saham seperti ASII, AKRA, BRPT, JPFA, DSSA, MDKA, dan BBNI," ujarnya.
Disisi lain, kenaikan sektor konsumer menunjukkan bahwa pasar masih optimistis terhadap daya beli masyarakat, meskipun nilai tukar rupiah melemah dan tekanan biaya mulai meningkat.