Liputan6.com, Jakarta - Pensiun kerap dipersepsikan sebagai fase kehidupan yang masih jauh dan hanya relevan bagi mereka yang mendekati usia tidak produktif. Padahal, perencanaan pensiun justru idealnya dimulai sejak seseorang berada di usia produktif, ketika waktu dan pilihan masih terbuka lebar. Kesadaran inilah yang terus didorong oleh Bank DBS Indonesia bersama DBS Foundation melalui berbagai program literasi dan edukasi keuangan.
Indonesia saat ini memang masih menikmati bonus demografi. Namun, tantangan besar sudah menanti dalam satu dekade ke depan. Sekitar 20% penduduk Indonesia diproyeksikan akan berusia di atas 65 tahun atau setara dengan sekitar 63 juta jiwa.
Advertisement
Tanpa kesiapan finansial, kesehatan, dan mental yang matang, kondisi tersebut berpotensi memicu persoalan sosial dan ekonomi, mulai dari meningkatnya kerentanan finansial hingga tekanan bagi generasi produktif yang menopang keluarga. Melihat kondisi tersebut, Bank DBS Indonesia memandang perencanaan pensiun sebagai isu strategis yang harus dibicarakan sejak dini.
Pensiun tidak lagi sekadar soal berhenti bekerja, melainkan tentang bagaimana seseorang dapat tetap hidup mandiri, sehat, dan bermakna di usia lanjut. Melalui pendekatan yang komprehensif, mulai dari literasi keuangan, strategi investasi, hingga perlindungan asuransi, DBS berupaya mengubah cara pandang masyarakat terhadap pensiun menjadi lebih positif dan realistis.
Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia, Mona Monika, menegaskan bahwa perencanaan pensiun bukan isu yang jauh atau eksklusif bagi kelompok tertentu. Menurutnya, justru di usia produktif, seseorang memiliki ruang terbesar untuk menyusun rencana hidup jangka panjang.
Melalui DBS Foundation, Bank DBS Indonesia mengambil peran aktif dalam memberdayakan kelompok masyarakat rentan agar tetap mandiri secara finansial, sehat secara fisik dan mental, serta produktif di usia lanjut. Upaya ini dilakukan melalui kolaborasi dengan berbagai NGO dan social enterprise, dengan pendekatan yang berkelanjutan dan menyeluruh.
Retirement Goal Calculator untuk Ubah Cara Pandang Pensiun
Dari sisi perbankan, DBS juga mendorong peningkatan literasi keuangan dengan meluncurkan Retirement Goal Calculator. Alat bantu ini memungkinkan masyarakat menghitung kebutuhan dana pensiun tidak hanya dari sisi kebutuhan dasar, tetapi juga mempertimbangkan gaya hidup yang ingin dijalani saat pensiun.
Mona menyebut, inisiatif ini bertujuan mengubah persepsi pensiun dari sesuatu yang menakutkan menjadi fase kehidupan baru yang dapat direncanakan dan dinikmati. Selain itu, alat ini diharapkan dapat membantu generasi muda agar tidak terjebak dalam tekanan sebagai sandwich generation di masa depan.
"Kayak sekarang kan sudah banyak yang dibicarakan soal sandwich generation gitu ya, dan bagaimana mereka merasa, oh apaan tuh kehidupan saya sekarang lebih sulit dibanding yang dulu gitu, dan apalagi ke depannya nih, bagaimana gitu," sebut Mona.
"Jadi baik orang tua, anak gitu ya, mereka bisa mempersiapkan diri mereka masing-masing," tambahnya.
Prospek Investasi 2026 Masih Positif, Diversifikasi Jadi Kunci
Djoko Sulistyo, Head of Investment & Insurance Product Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia, memaparkan gambaran kondisi investasi global yang relevan untuk perencanaan pensiun, khususnya menjelang 2026.
Menurut Djoko, prospek ekonomi global secara umum masih relatif positif, meski tetap dibayangi tantangan seperti inflasi yang belum sepenuhnya stabil, ketegangan geopolitik, dan gangguan rantai pasok global.
"Kami itu selalu mendapatkan update, dan ini adalah yang kita dapet di awal tahun ini, karena menjelang tahun 2026, itu mengenai prospek kita di tahun 2026 yang menurut mereka relatively positive," tutur Djoko.
Tren penurunan suku bunga di berbagai negara dinilai dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, meskipun penurunannya diperkirakan lebih moderat dibanding periode sebelumnya.
Dalam kondisi tersebut, Djoko menekankan pentingnya diversifikasi portofolio investasi. Saham tetap menjadi instrumen pertumbuhan jangka panjang meski volatil, obligasi menawarkan stabilitas dan pendapatan rutin, sementara emas berfungsi sebagai aset lindung nilai saat pasar bergejolak.
"Di dalam investasi kita selalu mengenakan namanya diversifikasi. Kenapa diversifikasi? Hal sendiri yang mudah, yaitu karena masing-masing produk atau masing-masing jenis investasi selalu mempunyai karakteristik yang berbeda dan mempunyai potensi return yang berbeda," ujar Djoko.
Djoko juga mengingatkan bahwa menabung saja tidak cukup untuk melawan inflasi. Investasi perlu dilakukan secara disiplin dan konsisten, disertai pemahaman terhadap risiko. Selain itu, asuransi memegang peran penting sebagai lapisan proteksi agar rencana keuangan dan pensiun tidak runtuh ketika terjadi risiko tak terduga.
Produk asuransi, mulai dari asuransi jiwa, kesehatan, hingga penyakit kritis, dinilai penting untuk melindungi stabilitas keuangan jangka panjang, terutama menjelang dan saat masa pensiun.
Pensiun Bisa Dinikmati Jika Direncanakan
Ligwina Hananto, Lead Financial Trainer QM Financial. Ia menegaskan bahwa pensiun adalah isu semua orang, tanpa memandang profesi. Menurutnya, pensiun tidak harus rumit atau menakutkan jika dipersiapkan dengan benar.
Ligwina mengajak masyarakat memulai perencanaan dari visualisasi sederhana, seperti tinggal di mana, dengan siapa, dan gaya hidup seperti apa yang diinginkan saat pensiun. Dari situ, perhitungan kebutuhan dana dapat dilakukan secara lebih realistis.
“Pensiun bukan tentang berhenti hidup atau berhenti berkarya, tetapi tentang menjaga kualitas hidup agar tetap baik. Dengan perencanaan yang tepat, pensiun justru bisa menjadi fase kehidupan yang tenang, bermakna, dan tetap produktif,” tutup Ligwina.