Tak Cuma Infrastruktur, Pemerintah Diminta Pulihkan Kerusakan Lingkungan Akibat Banjir Sumatera

Bencana banjir dan longsor Aceh pada akhir 2025 tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik dan korban jiwa, tetapi juga memicu krisis ekologi.

oleh Septian DenyDiterbitkan 14 Januari 2026, 18:45 WIB
Desa yang berlokasi di daerah aliran sungai (DAS) ini hampir hilang sepenuhnya setelah diterjang derasnya arus sungai. Tampak foto udara yang diambil menggunakan drone menunjukkan area yang hancur akibat banjir bandang di desa Sekumur, Aceh Tamiang, Senin, 29 Desember 2025. (AP Photo/Binsar Bakkara)

Liputan6.com, Jakarta - Bencana banjir dan longsor Aceh pada akhir 2025 tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik dan korban jiwa, tetapi juga memicu krisis ekologi yang mengancam ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat.

Dampak banjir Aceh dan wilayah Sumatera lainnya menyebabkan kerusakan luas pada sektor pertanian dan perikanan, meningkatkan risiko gagal panen serta melemahkan ekonomi rakyat pascabencana.

Kondisi ini menegaskan pentingnya restorasi ekologi pascabencana berbasis nature-based solutions sebagai upaya pemulihan lingkungan, perlindungan ekosistem, dan keberlanjutan pembangunan Aceh.

Pengaamat Ekonomi Pertanian Achmad Tjachja Nugraha, menegaskan bahwa rekonstruksi Aceh pascabencana harus dilakukan melalui pendekatan restorasi ekologis yang aktif dan terencana, bukan semata pemulihan fisik.

“Kerusakan lingkungan di Aceh sudah berada pada skala yang tidak bisa dibiarkan pulih secara alami. Negara harus hadir melalui restorasi ekologis aktif, terutama pada sektor pertanian dan perikanan yang menjadi tumpuan hidup rakyat,” ujar Prof. Achmad.

Ia menjelaskan, restorasi ekologi bertujuan memulihkan integritas dan fungsi ekosistem secara menyeluruh agar kembali produktif, mandiri, dan memiliki ketahanan terhadap bencana di masa depan.

Pendekatan ini mencakup rehabilitasi tanah, pemulihan daerah aliran sungai, penguatan ekosistem pesisir, serta pemanfaatan nature-based solutions sebagai infrastruktur hijau yang berkelanjutan.

Berdasarkan pengamatan foto udara dan laporan pemerintah daerah, lahan pertanian yang terdampak banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat diperkirakan mencapai sekitar 40.000 hektare, mencakup sawah, tanaman pangan, dan hortikultura.

Sebagian besar sawah dilaporkan terendam air dalam waktu lama, tertimbun lumpur, serta mengalami gangguan masa tanam hingga gagal panen.

 

Kerusakan Lahan Pertanian

Dalam catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), bencana banjir dan longsor di Aceh Tamiang mengakibatkan kerusakan sebanyak 2.800 unit rumah, 127 fasilitas umum, 62 gedung atau kantor, 54 fasilitas pendidikan, 40 fasilitas kesehatan, 33 rumah ibadah, dan dua jembatan. Tampak dalam foto, warga beristirahat sambil mencari sisa-sisa rumah mereka yang terkubur di bawah tumpukan pohon tumbang yang disapu banjir bandang, di desa Lintang Baru di Aceh Tamiang, Sumatera Utara, pada Kamis 11 Desember 2025. (Aditya Aji/AFP)

 

Di tingkat daerah, dampak tersebut terlihat nyata. Di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, misalnya, kerusakan lahan pertanian dilaporkan mencapai sekitar 3.245,11 hektare, sementara di sejumlah kabupaten di Aceh kerusakan sawah dan lahan pangan tercatat mencapai ratusan hektare.

Pemerintah pusat juga menyatakan akan melakukan pencetakan ulang sekitar 11.000 hektare sawah yang rusak parah akibat banjir di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sebagai bagian dari upaya pemulihan ketahanan pangan.

Sektor perikanan turut mengalami dampak signifikan. Berdasarkan kajian awal Kementerian Kelautan dan Perikanan, luas area budidaya perikanan atau tambak di Aceh yang terdampak banjir diperkirakan mencapai sekitar 38.875 hingga 40.000 hektare.

Kerusakan tambak tersebut tidak hanya menimbulkan kerugian ekonomi bagi pembudidaya, tetapi juga berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem pesisir.

Dalam kesempatan tersebut, sebagai Ketua Umum Keluarga Alumni Sosial Ekonomi Pertanian Agribisnis Indonesia (KASAI), Prof. Achmad juga mengapresiasi langkah aktif Presiden yang sejak awal bencana memberikan dukungan penanganan darurat hingga membentuk satuan tugas khusus untuk mempercepat koordinasi lintas kementerian dan daerah.

“Langkah cepat Presiden dalam mendukung penanganan bencana dan membentuk Satgas menunjukkan kehadiran negara di saat krisis, sekaligus memberi kepastian bagi masyarakat terdampak,” katanya.

 

Penanganan Darurat

Warga berjalan melewati rumah-rumah yang rusak di sebuah desa yang terdampak banjir di Malalak, Sumatera Barat, Jumat 28 November 2025. Jelang akhir November 2025, bencana banjir bandang dan tanah longsor melanda sebagian besar wilayah pulau Sumatera. (AP Photo/Ade Yuandha)

Ia juga memberikan apresiasi terhadap Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang dinilai sigap dalam penanganan darurat dan koordinasi lapangan.

Menurutnya, keterlibatan BNPB bersama pemerintah daerah, relawan, dan masyarakat menjadi simbol kebersamaan seluruh anak bangsa dalam menghadapi bencana.

“Respons aktif BNPB dan solidaritas nasional yang terbangun memberikan harapan bahwa pemulihan Aceh tidak dilakukan sendiri, tetapi menjadi tanggung jawab bersama,” ujar Prof. Achmad.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa pemulihan hunian dan infrastruktur harus diiringi pemulihan ekosistem dan mata pencaharian masyarakat.

Tanpa restorasi ekologi yang terencana dan berkelanjutan, risiko kerentanan ekonomi serta bencana berulang akan tetap tinggi.

Dalam konteks nasional, Prof. Achmad menilai Aceh berpeluang menjadi model rekonstruksi pascabencana yang tidak hanya membangun kembali fisik wilayah, tetapi juga memulihkan ekosistem, memperkuat ketahanan pangan, dan mewujudkan pembangunan berkelanjutan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya