Hari Demi Hari di Kampung Sepi yang Nyaris Mati

Tetangga yang dulu akrab perlahan pergi, meninggalkan dinding kosong dan halaman yang tak lagi berjejak. 

oleh Rio Ferdinand Muhammad Eka PutraDiterbitkan 13 Januari 2026, 14:48 WIB
Warga penghuni kampung zombie. (Liputan6.com/Rio Ferdinand Muhammad Eka Putra)

Liputan6.com, Jakarta - Kurang dari satu kilometer dari pusat grosir Cililitan, Jakarta Timur. Sebuah lorong sempit bernama Gang Al-Hikmah. Sekitar 200 meter menuruni jalan setapak tanah yang licin saat hujan, lebarnya hanya cukup untuk satu sepeda motor melintas. Inilah wajah lain Jakarta. Kota metropolitan yang dikelilingi gedung tinggi.

Di bantaran Kali Item, anak sungai yang hulunya berasal dari Kali Baru dan Kali Pasar Indo sebelum bermuara ke Ciliwung, berdiri rumah-rumah yang tak lagi bernyawa. Dinding beton masih tegak, tetapi catnya pudar dimakan zaman. Jendela dan pintu tak lagi terpasang. Sebagian bangunan nyaris rata dengan tanah, tertimbun kerak lumpur sisa banjir.

Pada peringatan HUT RI ke-75 tahun 2020, anak-anak muda RT setempat melukis mural pocong di salah satu dinding rumah kosong. Di sampingnya tertulis: Kampung Zombie. Lukisan itu tak juara lomba, tetapi justru viral. Nama itu melekat, menjadi simbol kampung yang ditinggalkan perlahan oleh penghuninya.

Jurnalis Liputan6.com yang menyambangi lokasi Kampung Zombie pada Selasa, 6 Januari 2026 sore. Tak ada halaman yang bersih. Tak ada suara televisi atau radio. Yang terdengar hanya gemericik air kali yang keruh mengalir berwarna coklat, membawa limbah, sampah plastik, potongan kayu, dan sisa-sisa kehidupan kota di hulu. 

Bau lumpur yang mengendap di sepanjang jalan setapak menusuk hidung. Bukan pejabat yang rutin datang menyapa ke sini, melainkan banjir sebagai pengganti kehadirannya.

Dari kejauhan, laki-laki paruh baya duduk termenung seorang diri di teras rumah nya yang sudah lapuk terkikis air banjir. Mat Saleh, lelaki 65 tahun itu sudah tinggal di kampung ini selama lebih dari setengah abad. Bangunan dua lantai yang dia tempati adalah warisan orang tuanya. Hanya berjarak dua meter dari bibir kali. Lantai bawah sudah lama tak bisa dihuni. Semua aktivitas berpindah ke lantai dua.

Laki-laki yang karib Aten itu hidup bersama enam anggota keluarganya. Istrinya bekerja sebagai ART (Asisten Rumah Tangga) di Cilincing dan hanya pulang sebulan sekali. 

“Sedih. Rumah kosong, enggak punya tetangga,” ucapnya lirih.

Dia merindukan suasana kampungnya yang dulu ramai. Banyak tetangga, obrolan ngalor ngidul. Tertawa dan bercanda layaknya suasana di kampung pada umumnya.

“Sekarang tinggal sendiri.”

Warga penghuni kampung zombie. (Liputan6.com/Rio Ferdinand Muhammad Eka Putra)

Kampung Penuh Kecemasan

Dulunya, kawasan ini adalah permukiman padat. Data yang dihimpun Tim Liputan6.com, kampung ini sempat dihuni 23 kartu keluarga. Kini, hanya tersisa sekitar 13 KK. Sejak banjir besar 2007 dan 2008, warga mulai pergi satu per satu. Puncaknya terjadi pada 2009 dan 2014, saat air mencapai ketinggian 6 hingga 7 meter. 

Sejak banjir besar 2007–2008, rumah-rumah di kampung itu mulai ditinggalkan satu per satu. Tetangga yang dulu akrab perlahan pergi, meninggalkan dinding kosong dan halaman yang tak lagi berjejak. 

“Tahun 2008 mulai kosong.” ingatnya.

Saat banjir datang, yang pertama diselamatkan hanyalah pakaian.

“Dibuntel, dilempar ke lantai atas. Anak saya bajunya habis basah semua.” katanya sambil menyelipkan canda kecil di tengah getir. 

Aten tak bisa menyembunyikan rasa waswas setiap kali musim hujan tiba. Tidurnya tak pernah benar-benar lelap, pikirannya terus berjaga.

“Bangun-tidur enggak tenang, sesekali melongok ke kali.” cemasnya.

 

rumah warga Kampung Zombie. (Liputan6.com/Rio Ferdinand Muhammad Eka Putra)

Korban Globalisasi

Pengamat tata kota Prof. Dr. Ir. Putu Rumawan Salain menyebut, istilah “zombie” di Cililitan merujuk pada bangunan, bukan manusia.

“Di Amerika, kampung zombie merujuk pada penampakan manusianya. Di Cililitan, yang ‘zombie’ adalah rumah-rumah kosong karena ditinggal penghuninya akibat banjir,” ujarnya, saat berbincang dengan Liputan6.com , Senin (12/1/2026). 

Guru Besar bidang arsitektur konservasi itu menilai, banjir di kawasan ini tidak bisa semata-mata disalahkan pada curah hujan. Ada persoalan struktural yang lebih dalam, yang selama ini luput dari perhatian.

“Bantaran sungai padat bangunan, tidak ada garis sempadan sungai, dan banyak endapan lumpur di dasar sungai. Ini soal tata ruang. Akibatnya, warga memilih pergi ke tempat yang lebih aman. Sepinya kampung membuatnya disebut Kampung Zombie.” paparnya.

Pertanyaan yang muncul, apakah kota yang membiarkan warganya hidup seperti ini masih layak disebut kota global?

"Jika ada kota yang membiarkan warganya hidup seperti ini, tidaklah tepat dikatakan sebagai Kota Global. Dikarenakan pemahaman Kota Global adalah sebuah kota yang memiliki jaringan Internasional, yang didukung oleh infrastruktur yang mumpuni, multikultur, dan unggul dalam Pendidikan, perdagangan, industri, teknologi dan lainnya," jelas Prof. Putu. 

"Akan tetapi jika pengaruh globalisasi yang menyebabkan mereka terpuruk maka warga kota tersebut layak disebut korban Globalisasi," tutupnya.

Bertahan karena Tak Punya Pilihan

Dalam literatur urban, kondisi Kampung Zombie seperti ini dikenal sebagai urban decay, degradasi kawasan kota. Dosen Kajian Perkembangan Perkotaan Universitas Indonesia, Dr. Husnul Fitri, menyebut Kampung Zombie sebagai contoh nyata.

“Kampung zombie bisa dikatakan sebagai fenomena urban decay karena degradasi ekologis. Banjir berulang memaksa warga menyesuaikan diri. Mereka bertahan karena tidak punya pilihan ekonomi. Yang pergi adalah mereka yang sudah tidak mampu lagi bertahan,” kata Husnul.

 

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya