Liputan6.com, Jakarta - HSBC menilai Indonesia perlu mendorong peningkatan jumlah penawaran umum perdana saham (IPO) guna memperkuat fungsi pasar modal sebagai sumber pembiayaan pertumbuhan ekonomi nasional. Langkah ini sejalan dengan tren di sejumlah negara Asia seperti Korea Selatan, China, Hong Kong, dan India yang aktif menambah emiten baru.
Head of Equity Strategy Asia Pacific HSBC Global Research, Herald van der Linde, menyampaikan bahwa negara-negara tersebut diproyeksikan akan mencatat lonjakan IPO dalam beberapa waktu ke depan. Peningkatan jumlah perusahaan tercatat itu membuat pasar modal mereka berkembang lebih besar sekaligus semakin kompetitif di kawasan.
Advertisement
“Pasar yang berkembang memungkinkan tabungan domestik disalurkan ke investasi domestik melalui ekuitas. Indonesia perlu melakukan pekerjaan yang lebih baik dalam hal ini,” ujar Herald dalam acara HSBC Indonesia Economy and Investment Outlook 2026, Senin (12/1/2026).
Herald menilai, struktur pasar modal Indonesia saat ini masih relatif stagnan dibandingkan kondisi beberapa dekade lalu. Ia menyoroti dominasi emiten lama di bursa, sementara jumlah perusahaan bertumbuh yang melantai dinilai belum signifikan.
Menurut dia, keterbatasan IPO baru berisiko membuat pasar modal Indonesia tertinggal dari negara lain di kawasan. Dampaknya, porsi Indonesia dalam indeks regional maupun global bisa menyusut dan mengurangi minat investor asing.
Perbandingan
Sebagai perbandingan, Herald menyebut Filipina yang mulai kehilangan perhatian investor global akibat minimnya perkembangan pasar modal. Situasi tersebut membuat negara tersebut lebih bergantung pada pembiayaan utang dari luar negeri dan meningkatkan risiko terhadap gejolak arus modal.
“Ketika tabungan domestik tidak dimobilisasi secara optimal, ketergantungan terhadap arus dana asing meningkat. Ini berdampak pada sensitivitas ekonomi terhadap volatilitas global,” ucapnya.
Lebih lanjut, Herald menekankan pentingnya peran regulator dalam mendorong peningkatan IPO dengan tetap menjaga kualitas emiten yang masuk ke bursa. Ia menilai, percepatan proses pencatatan saham perlu diimbangi dengan penerapan standar tata kelola yang kuat.
Di sisi lain, perusahaan juga didorong untuk lebih memahami keuntungan menjadi perusahaan terbuka, mulai dari peningkatan visibilitas, perluasan basis investor, hingga penguatan reputasi dan nilai merek.