Trump Mengincar Iran, Siap-siap Harga Minyak Dunia Bergejolak

Ketegangan AS dan Iran meningkat setelah Trump mengisyaratkan intervensi.

oleh Haniah NabilahDiterbitkan 12 Januari 2026, 16:33 WIB
Para pengunjuk rasa berdemonstrasi di pusat kota Teheran, Iran, Senin, (29/12/2025). (Dok. Fars News Agency via AP)

Liputan6.com, Jakarta - Ketegangan geopolitik global kembali menjadi sorotan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut-sebut mulai mengincar Iran sebagai target berikutnya. Setelah melakukan langkah keras terhadap Venezuela dan wacana penguasaan Greenland. Situasi ini dikhawatirkan akan mempengaruhi harga minyak dunia.

Situasi di Iran kian memanas seiring gelombang protes anti pemerintah yang telah memasuki pekan ketiga. Aksi tersebut dipicu oleh lonjakan inflasi tajam dan tekanan ekonomi, sebelum berkembang menjadi demonstrasi menentang rezim yang berkuasa.

Melansir laman CNBC, Senin (12/1/2026), kelompok hak asasi manusia yang berbasis di Amerika Serikat, HRANA, mencatat lebih dari 500 orang tewas akibat tindakan represif aparat keamanan Iran dalam meredam protes tersebut.

Trump Isyaratkan Intervensi

Menanggapi situasi tersebut, Trump menyampaikan pernyataan kontroversial melalui Truth Social. Ia menulis bahwa Amerika Serikat akan “datang menyelamatkan” para demonstran Iran, sebuah pernyataan yang langsung memicu perhatian pelaku pasar global.

Pernyataan itu bukan sekadar kata-kata kosong. Sejumlah pejabat Gedung Putih dilaporkan telah memaparkan berbagai skenario kepada Trump mengenai langkah yang dapat diambil terhadap Iran.

Opsi tersebut mencakup tindakan militer, operasi siber, hingga tekanan ekonomi, menurut laporan MS Now dan sejumlah media internasional.

Trump juga dijadwalkan menerima pengarahan lanjutan terkait opsi-opsi tersebut dalam waktu dekat, yang semakin meningkatkan kekhawatiran akan potensi eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

 

Ancaman bagi Pasar Minyak

Cuplikan gambar dari video yang beredar di media sosial menunjukkan para pengunjuk rasa kembali turun ke jalan-jalan di Teheran pada Sabtu (10/1/2026), meski aparat keamanan memperketat penindakan dan akses Iran terhadap dunia luar—termasuk komunikasi—dibatasi. (Dok. UGC via AP)

Iran merupakan salah satu produsen minyak utama dunia, sehingga setiap potensi konflik dengan Amerika Serikat diperkirakan akan berdampak langsung pada harga energi global.

Analis menilai, gangguan terhadap produksi atau distribusi minyak Iran berisiko mendorong lonjakan harga minyak mentah.

Berbeda dengan kasus Venezuela, operasi terhadap Iran dinilai jauh lebih kompleks dan berisiko, mengingat posisi strategis Iran dalam rantai pasok energi dunia.

Ketegangan ini pun mulai menimbulkan kehati-hatian di pasar keuangan, khususnya di sektor komoditas.Selain itu, konflik yang meluas di Timur Tengah berpotensi memperburuk pasar dalam jangka pendek, seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.

 

Ancaman Balasan dari Iran

Ilustrasi harga minyak dunia hari ini (Foto By AI)

Pemerintah Iran merespons keras kemungkinan intervensi AS. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, memperingatkan akan adanya pembalasan serius jika negaranya diserang.

“Jika terjadi serangan terhadap Iran, wilayah pendudukan (Israel) serta semua pangkalan dan kapal Amerika Serikat akan menjadi target sah kami,” ujar Qalibaf.

Pernyataan tersebut semakin memperkuat kekhawatiran pasar akan potensi konflik yang lebih luas, yang dapat mengganggu stabilitas pasokan energi global.

Dengan meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran, pelaku pasar kini diminta lebih waspada terhadap pergerakan harga minyak.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya