Solidaritas untuk Iran, Ribuan Massa Turun ke Jalan di Kota-kota Eropa

Aksi protes di Iran bermula pada akhir Desember 2025 akibat merosotnya nilai mata uang lokal.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 12 Januari 2026, 16:05 WIB
Iran mencekam di demo Mahsa Amini. Foto pendemo 19 September 2022. Dok: AP Photo

Liputan6.com, Den Haag - Ribuan pengunjuk rasa menggelar aksi solidaritas di sejumlah kota besar Eropa pada Sabtu (waktu setempat) untuk mendukung gelombang protes yang tengah berlangsung di Republik Islam Iran.

Aksi tersebut menyoroti memburuknya kondisi ekonomi, lonjakan harga pangan, serta dugaan penggunaan kekuatan mematikan oleh aparat keamanan Iran terhadap demonstran, dikutip dari laman Euronews, Senin (12/1/2026)

Di Belanda, massa berkumpul di Malieveld, lapangan terbuka di Den Haag, untuk mengecam pemerintahan teokratis Iran. Aksi ini digelar menyusul laporan, beberapa hari setelah protes pecah pada akhir Desember, bahwa pasukan keamanan Iran menindak demonstran dengan kekerasan mematikan.

Para peserta aksi mengaku cemas dengan situasi di dalam negeri Iran, terutama setelah pemadaman komunikasi membuat mereka sulit menghubungi keluarga dan kerabat.

“Saya di sini untuk rakyat Iran yang kini turun ke jalan. Saya ingin berkontribusi agar dunia tahu kami juga berdemonstrasi di sini. Meski jauh, hati kami bersama Iran,” ujar seorang perempuan peserta aksi.

Kekhawatiran serupa disampaikan demonstran lain yang memiliki keluarga di Iran. “Saya tinggal di sini, tapi semua keluarga dan teman saya ada di Iran. Mereka tidak punya kebebasan, tidak bisa berbicara apa pun, tidak ada kebebasan berekspresi. Kondisi ekonomi juga sangat buruk, inflasi sangat tinggi,” katanya.

Banyak demonstran merupakan warga Iran yang tinggal di luar negeri atau keturunan Iran. Mereka menilai memiliki kewajiban moral untuk menyuarakan dukungan dari luar negeri, di tengah berlanjutnya aksi protes di Iran yang melibatkan warga dari berbagai usia dan latar belakang.

“Hampir semua orang yang saya kenal ikut berunjuk rasa, termasuk ayah saya yang berusia 60 tahun. Namun saya tidak bisa menghubungi mereka, jadi saya tidak tahu apakah mereka masih hidup,” ujar seorang peserta aksi dengan nada khawatir.

Aksi serupa juga berlangsung di Berlin, Jerman. Para pengunjuk rasa menyebut protes yang telah berlangsung sekitar dua pekan itu sebagai salah satu tantangan terbesar bagi pemerintah Iran sejak Revolusi Islam 1979.

“Saya sudah tinggal di sini selama 10 tahun dan melihat situasi di Iran terus memburuk. Kali ini orang-orang benar-benar sudah mencapai batas kesabaran,” kata Azadeh, salah satu demonstran.

Ia menambahkan, kemarahan publik kali ini dinilai berbeda dari gelombang protes sebelumnya. “Orang-orang lebih marah dan tidak lagi takut ditembak. Mereka hanya menginginkan kebebasan, hak-hak mereka, dan negaranya kembali,” ujarnya.

Aksi Protes di Jerman

Ilustrasi Bendera Jerman yang beri bantuan dana hibah untuk ASEAN terkait kesehatan imbas Covid-19. (Pixabay/tvjoern)

Para demonstran di Berlin berharap tekanan dari masyarakat internasional dapat mendorong Eropa dan Amerika Serikat untuk mendukung rakyat Iran dalam upaya menggulingkan rezim yang berkuasa.

“Kami di sini untuk menunjukkan solidaritas dan mengecam pembunuhan massal oleh pemerintah Iran dalam beberapa hari terakhir,” kata Farshad Doustipour. “Kami berharap masyarakat Eropa dan Amerika menyadari bahwa rezim ini akan dijatuhkan oleh rakyatnya, dan kami membutuhkan dukungan mereka,” lanjutnya.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjadi salah satu pemimpin dunia pertama yang menanggapi protes di Iran. Ia sebelumnya mengeluarkan peringatan keras kepada pemerintah Iran agar menghentikan penggunaan kekuatan mematikan terhadap demonstran, atau menghadapi kemungkinan respons militer dari Washington.

Pada Sabtu, Trump kembali menyampaikan pernyataannya melalui platform media sosial Truth Social. Ia menyatakan optimisme terhadap perkembangan protes di Iran dan menawarkan bantuan dari Amerika Serikat tanpa merinci bentuk dukungan tersebut.

“Iran sedang melihat KEBEBASAN, mungkin seperti belum pernah terjadi sebelumnya. AS siap membantu!!! Presiden DONALD J. TRUMP,” tulis Trump.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya