Liputan6.com, Washington, DC - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Sabtu (10/1/2026) menyarankan agar Kuba segera membuat kesepakatan dengan AS menyusul aksi militer yang terjadi di Venezuela pada 3 Januari.
Melalui platform media sosial Truth Social pada Sabtu pagi, Trump menegaskan bahwa AS tidak akan lagi mengirimkan minyak maupun bantuan keuangan ke Kuba.
Advertisement
"TIDAK AKAN ADA LAGI MINYAK ATAU UANG YANG MENGALIR KE KUBA – NOL!" tulis Trump.
Ia juga memperingatkan pemerintah Kuba agar segera mengambil langkah diplomatik.
"Saya sangat menyarankan mereka membuat kesepakatan, SEBELUM TERLAMBAT," lanjutnya.
Dalam beberapa hari terakhir, rencana Trump terkait cadangan minyak Venezuela yang sangat besar semakin menjadi sorotan. Embargo minyak AS terhadap negara Amerika Selatan tersebut juga memberikan tekanan tambahan bagi Kuba, yang selama ini sangat bergantung pada pasokan minyak Venezuela.
"Selama bertahun-tahun, Kuba hidup dari minyak dan uang dalam jumlah besar yang berasal dari Venezuela," tulis Trump dalam unggahan yang sama. "Sebagai imbalannya, Kuba menyediakan 'layanan keamanan' bagi dua diktator terakhir Venezuela, TETAPI SEKARANG TIDAK LAGI."
Pada Jumat (9/1), Trump mengundang sejumlah eksekutif perusahaan minyak ke Gedung Putih. Pertemuan tersebut berlangsung seiring dengan langkah AS mengambil alih kendali atas minyak Venezuela dan mulai memasarkannya ke pasar global. Dalam pertemuan itu, Trump memberi sinyal bahwa ia akan segera menentukan perusahaan-perusahaan mana yang akan dikirim ke Caracas.
Kuba Menantang AS
Sejak penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada akhir pekan lalu, sejumlah pejabat dan anggota parlemen dari Partai Republik menyatakan bahwa rezim komunis Kuba berpotensi menyusul runtuh.
Dalam pernyataannya segera setelah penangkapan Maduro, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memperingatkan para pemimpin Kuba agar merasa khawatir.
"Salah satu masalah terbesar yang dihadapi rakyat Venezuela adalah mereka harus menyatakan kemerdekaan dari Kuba," kata Rubio pekan lalu. "Mereka mencoba pada dasarnya menjajah Venezuela dari sisi keamanan. Jadi, ya, jika saya tinggal di Havana dan berada di pemerintahan, saya setidaknya akan sedikit khawatir."
Sejumlah politikus Republik asal Florida turut menyuarakan pandangan serupa, dengan harapan munculnya demokrasi di negara pulau yang berjarak sekitar 160 km dari pesisir Florida tersebut.
"Saya pikir mereka sedang dalam masalah. Rakyatnya sudah muak. Sekarang itu negara yang sangat miskin," ujar Senator Florida Rick Scott dari Partai Republik kepada The Hill. "Sekarang mereka tidak lagi mendapatkan minyak dari Venezuela, itu akan membuat keadaan menjadi semakin sulit."
"Menurut saya kita harus mengatakan bahwa ada peluang bagi demokrasi di Kuba juga."
Sejak tergulingnya Maduro, para pemimpin Kuba dinilai justru menunjukkan sikap menantang terhadap keterlibatan AS di kawasan Amerika Latin.
"Untuk Venezuela dan tentu juga untuk Kuba, kami bersedia memberikan bahkan darah kami sendiri, bahkan nyawa kami sendiri, tetapi dengan harga yang sangat mahal," tutur Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel, sebagaimana dilaporkan beberapa jam setelah penangkapan Maduro.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez pada Jumat (10/1) menyatakan bahwa Kuba akan terus mempertahankan kedaulatannya dari tekanan AS yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Melalui unggahan di platform X, Rodriguez mengatakan bahwa AS telah menggunakan kekuatan dan agresi terhadap Kuba selama 67 tahun, seraya menambahkan bahwa AS berupaya memaksakan kehendaknya terhadap hak-hak negara berdaulat.
Rodriguez menggambarkan kekuatan AS sebagai sesuatu yang berakar pada kekuatan militernya yang sangat besar dan skala ekonominya, serta apa yang ia sebut sebagai pengalaman luas dalam melakukan agresi dan kejahatan.
Sebaliknya, ia menegaskan bahwa Kuba berada pada posisi moral yang berbeda.
"Di pihak kami terdapat akal sehat, hukum internasional, dan semangat patriotik seluruh rakyat," ujar Rodriguez.
Ia menekankan bahwa rakyat Kuba tidak akan menyerahkan kedaulatan negaranya.
"Kami, rakyat Kuba, tidak siap menjual negara kami atau tunduk pada ancaman dan pemerasan," ungkapnya.
Rodriguez menyatakan pula bahwa Havana tidak akan melepaskan apa yang ia sebut sebagai hak prerogatif yang tidak dapat dicabut, yang digunakan Kuba untuk membangun takdirnya sendiri dalam damai dengan seluruh dunia.
"Kami akan mempertahankan Kuba," tegasnya. "Siapa pun yang mengenal kami tahu bahwa ini adalah komitmen yang teguh, tegas, dan telah terbukti."