Dunia Dilanda Ketidakpastian, Ekonomi Indonesia 2026 Diproyeksi Tumbuh Segini

Berikut proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2026.

oleh Septian DenyDiterbitkan 11 Januari 2026, 09:31 WIB
Gubernur BI Perry Warjiyo juga mengungkap bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia sampai dengan kuartal I 2025 masih cukup baik di tengah peningkatan ketidakpastian global. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Perekonomian global sepanjang 2025 berada dalam kondisi penuh ketidakpastian, bahkan mencapai level tertinggi dalam dua dekade terakhir.

Namun di tengah tekanan global tersebut, Indonesia dinilai tetap menunjukkan ketahanan ekonomi dan berpeluang mencatat pertumbuhan yang lebih tinggi pada 2026.

Hal ini disampaikan Ekonom GREAT Institute Adrian Nalendra Perwira.

 

Adrian menjelaskan bahwa analisis dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif secara terpadu, dengan memanfaatkan statistik deskriptif serta kajian struktural untuk membaca dinamika ekonomi nasional dan global.

“Data dari Global Economic Policy Uncertainty Index dan World Uncertainty Index menunjukkan bahwa 2025 merupakan titik tertinggi ketidakpastian global. Indonesia tidak terlepas dari dampak ini karena keterhubungannya dengan perekonomian dunia,” ujar Adrian, dikutip Minggu (11/1/2025).

Menurutnya, ketidakpastian global dipicu oleh akumulasi berbagai peristiwa, mulai dari krisis finansial global 2008, krisis Eurozone, Brexit, pandemi COVID-19, hingga perang dagang dan konflik geopolitik yang berlanjut hingga 2025. Kondisi ini menjadi tantangan awal bagi pemerintahan baru di bawah Presiden Prabowo.

Meski demikian, lembaga internasional seperti IMF, Bank Dunia, OECD, dan ADB masih memandang Indonesia sebagai bright spot di tengah perlambatan global. Indonesia diproyeksikan mampu tumbuh stabil di kisaran 5% dan bahkan meningkat pada 2026.

“Ketahanan ini terutama ditopang oleh konsumsi domestik yang menyumbang lebih dari separuh pertumbuhan ekonomi nasional,” jelas Adrian.

Namun, ia mengingatkan adanya tantangan struktural pada sisi konsumsi. Data menunjukkan bahwa mayoritas penduduk Indonesia saat ini berada di kelas menengah rentan, yaitu kelompok yang daya belinya mudah tertekan dan sebagian besar bekerja di sektor informal.

“Kelompok menengah rentan ini menjadi kunci menjaga pertumbuhan. Karena itu, stimulus untuk menjaga daya beli dan reformasi pasar kerja menjadi sangat krusial,” katanya.

 

Investasi

Suasana pembangunan gedung bertingkat di Jakarta, Senin (7/5). Pertumbuhan ekonomi kuartal 1 2018 tersebut lebih baik dibandingkan pertumbuhan ekonomi pada periode sama dalam tiga tahun terakhir. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

 

Dari sisi investasi, Adrian menilai kinerja masih bersifat stop and go akibat ketidakpastian global. Penanaman modal asing secara global mengalami tren penurunan terhadap PDB, meskipun Indonesia relatif lebih resilien dibanding negara lain.

Namun pada 2025, investasi asing mulai melemah dan tercermin pada fluktuasi pembentukan modal tetap bruto (PMTB).

Sementara itu, dari sisi perdagangan, tantangan utama 2026 adalah fragmentasi perdagangan global dan normalisasi harga komoditas. Surplus perdagangan Indonesia mulai menipis, meskipun peningkatan impor bahan baku memberi sinyal perbaikan aktivitas manufaktur dan penyerapan tenaga kerja.

Berdasarkan berbagai faktor tersebut, Adrian memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 berada di kisaran 5,3–5,6%, dengan sejumlah prasyarat kebijakan.

“Pertumbuhan ini hanya bisa dicapai jika konsumsi dijaga, belanja pemerintah lebih produktif dan tepat waktu, serta investasi diperkuat melalui reformasi struktural,” tegasnya.

 

Agenda Transformasi

Pernyataan tersebut menanggapi pandangan fraksi terhadap asumsi pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 persen hingga 5,7 persen dalam Kebijakan Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF) RAPBN Tahun 2024. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Ia menekankan empat agenda transformasi utama, yakni Transformasi ketenagakerjaan, Transformasi struktur usaha dan iklim investasi,

Manajemen utang yang lebih fleksibel, dan Optimalisasi program prioritas pemerintah agar berdampak langsung ke ekonomi riil.

“Dengan kombinasi kebijakan yang tepat, Indonesia tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga memanfaatkan ketidakpastian global sebagai momentum memperkuat fondasi pertumbuhan jangka menengah,” pungkas Adrian.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya