Liputan6.com, Jakarta - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pemimpin oposisi Venezuela, Maria Corina Machado masih berpeluang terlibat dalam pengelolaan negara tersebut dalam kapasitas tertentu.
"Saya harus berbicara dengannya," kata Trump pada Jumat 9 Januari 2026 ketika ditanya apakah Machado masih dapat berperan dalam pemerintahan Venezuela, melansir Antara dari Sputnik.
Advertisement
"Dia mungkin akan terlibat dalam beberapa aspek," tambahnya.
Sebelumnya pada hari yang sama, Trump mengatakan bahwa dirinya siap bertemu dengan Machado di Amerika Serikat pada pekan depan.
Berbicara dalam kesempatan berbeda, dalam sebuah acara di Gedung Putih, Trump mengungkapkan bahwa Machado diperkirakan akan tiba di Washington pada Selasa atau Rabu.
Pada 3 Januari 2026, Amerika Serikat melancarkan serangan besar-besaran terhadap Venezuela, menangkap Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, lalu membawa keduanya ke New York.
Trump mengumumkan bahwa Maduro dan Flores akan diadili atas dugaan keterlibatan dalam “narko-terorisme” serta dianggap sebagai ancaman, termasuk bagi Amerika Serikat.
Ada pun dalam konferensi pers setelah operasi AS di Venezuela, Trump mengatakan bahwa akan sangat sulit bagi Machado untuk menjadi pemimpin negara tersebut karena kurang mendapat dukungan maupun penghormatan di dalam negeri.
Seorang sumber yang dekat dengan tim Machado mengatakan kepada The Washington Post bahwa para rekan Machado, yang secara diam-diam meninggalkan Venezuela pada Desember dengan bantuan AS untuk menghadiri upacara Nobel di Norwegia, terkejut dengan pernyataan Trump tersebut.
Meski demikian, laporan itu menyebutkan bahwa Amerika Serikat bersedia memastikan terjadinya transisi politik yang lunak di Venezuela. Fakta bahwa operasi AS hanya berujung pada penangkapan Nicolas Maduro dan istrinya disebut sebagai bukti dari niat tersebut.
Trump: Kuba Bergantung pada Venezuela, Baik untuk Uang Maupun Minyak
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim bahwa Kuba tidak akan mampu bertahan tanpa pasokan minyak dari Venezuela. Menurutnya, Kuba sangat bergantung pada Venezuela, baik dalam urusan keuangan maupun pasokan minyak.
"Secara total, Kuba bergantung pada Venezuela, baik untuk uang maupun untuk minyak. Kuba memberikan perlindungan kepada Venezuela, dan Venezuela memberikan uang kepada Kuba melalui minyak," ujar Trump, seperti dilansir Antara dari Sputnik, Jumat 9 Januari 2026.
Trump juga menegaskan bahwa hubungan bilateral antara Kuba dan Venezuela kini telah berakhir menyusul operasi Amerika Serikat di Venezuela. Hal itu disampaikannya ketika ditanya apakah Kuba dapat bertahan tanpa pasokan minyak dari negara tersebut.
"Tidak, Kuba sepenuhnya bergantung pada Venezuela, baik secara finansial maupun dalam hal minyak," ujar Trump.
Di sisi lain, Trump menyebut Amerika Serikat menerima minyak Venezuela dengan nilai mencapai 4 miliar dolar AS atau sekitar Rp 67,4 triliun dalam satu hari.
"Minyak yang kami ambil nilainya mencapai 4 miliar dolar AS dalam satu hari, dan jumlah itu akan meningkat. Kami akan membangunnya kembali, semua perusahaan minyak besar akan masuk, mereka akan memperoleh banyak keuntungan, dan Venezuela akan mendapatkan sebagian dari uang tersebut," kata Trump.
Transfer 30-50 Juta Dolar Barel Minyak
Sebelumnya, Trump menyatakan bahwa otoritas sementara Venezuela akan mentransfer 30 hingga 50 juta barel minyak ke Amerika Serikat.
Ia menjanjikan bahwa minyak yang diserahkan Caracas akan dijual dengan harga pasar, dengan hasil penjualan yang disebut akan menguntungkan rakyat Venezuela dan Amerika Serikat.
Diketahui, pada 3 Januari, Amerika Serikat melancarkan serangan besar-besaran ke Venezuela dan menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro bersama istrinya, Cilia Flores, untuk kemudian dibawa ke New York.
Trump mengumumkan bahwa Maduro dan Flores akan diadili atas dugaan keterlibatan dalam “narkoterorisme” serta dianggap sebagai ancaman, termasuk bagi Amerika Serikat.
Pemerintah Venezuela di Caracas meminta digelarnya pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB terkait operasi Amerika Serikat tersebut.
Mahkamah Agung Venezuela kemudian sementara waktu mengalihkan tugas kepala negara kepada Wakil Presiden Delcy Rodriguez, yang secara resmi dilantik sebagai presiden sementara di hadapan Majelis Nasional pada 5 Januari.