Liputan6.com, Jakarta - Salah satu pemegang saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) yakni Glencore International Investments Ltd melepas saham NCKL secara bertahap sebanyak lima kali pada 29 Desember- 7 Januari 2026.
Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Sabtu (10/1/2026), pemegang saham NCKL yakni Glencore Plc lepas saham NCKL menjual 204.97 juta saham NCKL dengan status kepemilikan tidak langsung. Harga transaksi penjualan antara Rp 1.129-Rp 1.414 per saham.
Advertisement
Pertama, Glencore melepas saham NCKL mulai 29 Desember 2025. Jumlah saham yang dilepas sebanyak 3.381.000 dengan harga Rp 1.129 per saham.
Lalu pada 30 Desember 2025, Glencore melepas 5 juta saham NCKL dengan harga Rp 1.137 per saham dan berlanjut pada 2 Januari 2026 sebanyak 10 juta saham dengan harga Rp 1.167 per saham. Selanjutnya pada 6 Januari 2026, Glencore melepas saham sebanyak 64,23 juta saham dengan harga Rp 1.288. Kemudian pada 7 Januari 2026, Glencore jual 122,45 juta saham NCKL dengan harga Rp 1.414 per saham. Dengan demikian, nilai penjualan saham NCKL oleh Glencore mencapai Rp 276,94 miliar.
"Tujuan transaksi penjualan saham oleh Glencore International Investments Ltd dengan status kepemilikan tidak langsung,”
Setelah transaksi penjualan saham NCKL, Glencore genggam 6,87% saham NCKL atau setara 4,32 miliar saham dari sebelumnya 7,2% saham NCKL atau setara 4,53 miliar.
Pada penutupan perdagangan saham Jumat pekan ini, harga saham NCKL melemah 0,38% ke posisi Rp 1.300 per saham. Harga saham NCKL dibuka susut ke Rp 1.295 per saham dari penutupan sebelumnya Rp 1.305 per saham. Saham NCKL berada di level tertinggi Rp 1.330 dan level terendah Rp 1.270 per saham. Total frekuensi perdagangan 17.521 kali dengan volume perdagangan 1.468.644 saham. Nilai transaksi Rp 189,9 miliar.
Harita Nickel (NCKL) Kantongi Pendapatan Rp 22,4 Triliun hingga September 2025
Sebelumnya, PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel mencatatkan kinerja positif sepanjang Januai-September 2025. Perusahaan telah berhasil meraup pendapatan sebesar Rp 22,40 triliun di periode tersebut.
Head of Investor Relations Harita Nickel, Lukito Gozali menerangkan capaian ini jadi hasil efisiensi berkelanjutan dan optimalisasi fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) serta Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF). Keduanya beroperasi stabil di Pulau Obi, Halmahera Selatan, sekaligus langkah strategis menuju penambahan kapasitas produksi melalui pembangunan smelter baru.
Saat ini, perusahaan melanjutkan pembangunan fasilitas RKEF ke-3 (KPS) dengan kapasitas produksi hingga 185.000 ton kandungan nikel dalam feronikel per tahun.
"Hingga Oktober 2025, progres fase kedua telah mencapai 91%, sementara fase ketiga mencapai 44%. Fasilitas ini akan memperkuat kontribusi Harita Nickel terhadap hilirisasi industri nikel nasional serta memperkuat daya saing perusahaan," tutur Lukito dalam keterangan resmi, Sabtu (1/11/2025).
Harita Nickel kini menjadi perusahaan pertama di Indonesia yang menjalani audit penuh Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA), standar global paling komprehensif dalam penilaian keberlanjutan di sektor pertambangan.
Prosesnya saat ini berada pada tahap peninjauan, dan mencakup lebih dari 30.000 pekerja serta kontraktor di seluruh rantai operasional perusahaan, menjadikannya audit IRMA dengan cakupan tenaga kerja terbesar di dunia.
“Partisipasi dalam audit IRMA menjadi langkah penting untuk memastikan seluruh proses bisnis kami berjalan sejalan dengan standar global dan memberi manfaat bagi masyarakat,” tambah Lukito.