Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak terus melemah pada perdagangan Rabu, 7 Januari 2026. Harga minyak dunia merosot seiring investor mencermati pernyataan dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kalau AS telah mencapai kesepakatan untuk mengimpor minyak mentah Venezuela senilai USD 2 miliar atau Rp 33,52 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.770). Hal ini menjadi sebuah langkah yang akan meningkatkan pasokan ke konsumen minyak terbesar di dunia.
Mengutip CNBC, Kamis (8/1/2026), harga minyak Brent turun 74 sen atau 1,22% menjadi USD 59,96 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) merosot USD 1,14 atau 2% menjadi USD 55,99 per barel.
Advertisement
Harga minyak dunia itu turun lebih dari 1% selama sesi perdagangan sebelumnya. Hal ini seiring pelaku pasar memprediksi pasokan global yang melimpah pada 2026.
Kesepakatan antara Washington dan Caracas pada awalnya dapat mengharuskan kargo yang ditujukan untuk China untuk dialihkan, menurut sumber yang dikutip Reuters.
Venezuela memiliki jutaan barel minyak yang dimuat di kapal tanker dan tangki penyimpanan yang belum dapat dikirim sejak pertengahan Desember karena blokade ekspor yang diberlakukan oleh Trump.
Blokade tersebut merupakan bagian dari kampanye tekanan AS terhadap pemerintahan Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang berpuncak pada penangkapan Maduro oleh pasukan AS pada akhir pekan lalu.
Para pejabat tinggi Venezuela menyebut penangkapan Maduro sebagai penculikan dan menuduh AS mencoba mencuri cadangan minyak negara yang sangat besar.
Dalam unggahan media sosial, Trump menyebutkan, Venezuela akan "menyerahkan" antara 30 juta dan 50 juta barel "minyak yang dikenai sanksi" kepada AS.
"Volume tersebut cukup kecil dalam konteks yang lebih luas," kata analis komoditas SEB, Ole Hvalbye.
"Jika Anda melihat total Cadangan Minyak Strategis AS, itu sekarang 413 juta barel. Jadi jika dibandingkan dengan 30 atau 50 juta barel, volumenya tidak begitu besar."
AS Bakal Sita Kapal Tanker yang Berkaitan dengan Venezuela
Menambah risiko geopolitik, AS berupaya menyita kapal tanker minyak yang terkait dengan Venezuela setelah pengejaran selama lebih dari dua minggu di Atlantik, dua pejabat AS mengatakan kepada Reuters pada Rabu.
Penyitaan tersebut, yang dapat memicu ketegangan dengan Rusia, terjadi setelah kapal tanker tersebut, yang awalnya dikenal sebagai Bella-1, berhasil lolos dari "blokade" maritim AS terhadap kapal tanker yang dikenai sanksi dan menolak upaya Penjaga Pantai AS untuk menaikinya.
Memberikan sedikit dukungan pada harga, stok minyak mentah AS turun sebesar 3,8 juta barel menjadi 419,1 juta barel pada pekan yang berakhir pada 2 Januari, kata Badan Informasi Energi. Analis memperkirakan kenaikan sebesar 447.000 barel.
Stok bensin AS meningkat sebesar 7,7 juta barel dalam seminggu, kata EIA, dibandingkan dengan ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan peningkatan sebesar 3,2 juta barel.
Pasar Minyak Bakal Surplus
Stok distilat, yang meliputi diesel dan minyak pemanas, naik sebesar 5,6 juta barel dalam seminggu dibandingkan dengan ekspektasi kenaikan sebesar 2,1 juta barel.
Analis Morgan Stanley memperkirakan pasar minyak dapat mencapai surplus hingga 3 juta barel per hari pada paruh pertama 2026, berdasarkan pertumbuhan permintaan yang lemah tahun lalu dan peningkatan pasokan dari produsen OPEC dan non-OPEC.
Namun, Analis BMI menuturkan, prospek ekspor minyak Venezuela yang lebih tinggi dan murah dapat menghentikan perluasan kapasitas produksi di AS dan tempat lain.