Liputan6.com, Jakarta - Harga saham raksasa energi asal Amerika Serikat, Chevron Corporation, mengalami tekanan signifikan pada perdagangan Selasa (6/1) waktu setempat.
Mengutip laman New York Stock Exchange atau NYSE, Rabu (7/1/2026), saham emiten berkode CVX di New York Stock Exchange ini ditutup melemah 4,46 persen atau turun USD 7,31 ke level USD 156,54 per saham.
Advertisement
Penurunan tersebut terjadi sejak awal perdagangan. Saham Chevron dibuka di level USD 164,88 dan sempat menyentuh harga tertinggi USD 165,05 sebelum akhirnya terus bergerak di zona merah. Sepanjang sesi, tekanan jual membuat saham CVX jatuh hingga menyentuh level terendah harian di USD 156,11.
Secara intraday, pergerakan saham energi terbesar dunia asal Amerika ini menunjukkan tren penurunan yang cukup tajam sejak pagi hari dan berlanjut hingga penutupan pasar. Dibandingkan penutupan sebelumnya di level USD 163,85, koreksi kali ini tergolong dalam dan menjadi salah satu pelemahan harian terbesar Chevron dalam beberapa waktu terakhir.
Meski demikian, pada perdagangan setelah jam bursa (after hours), saham Chevron tercatat bergerak terbatas dengan kenaikan tipis 0,14 persen ke posisi sekitar USD 156,76. Pergerakan ini mengindikasikan adanya upaya stabilisasi, meski sentimen pasar masih cenderung berhati-hati.
Kapitalisasi Pasar Chevron
Dari sisi fundamental, Chevron saat ini memiliki kapitalisasi pasar sekitar USD 315,20 miliar dengan rasio price to earnings (P/E) di level 22,10. Emiten energi ini juga dikenal sebagai saham pembagi dividen, dengan dividend yield mencapai 4,37 persen dan dividen kuartalan sebesar USD 1,71 per saham.
Sementara itu, kinerja keuangan kuartal ketiga 2025 menunjukkan pendapatan sebesar USD 48,75 miliar, meski turun 1,35 persen secara tahunan (year on year).
Namun, dari sisi laba, perusahaan mencatatkan EPS yang melampaui ekspektasi pasar dengan pertumbuhan 8,39 persen, yang menjadi salah satu faktor penahan tekanan lebih dalam pada harga saham.