Petani Menjerit, Biaya Produksi Cabai Lebih Mahal dari Harga Jual

Petani tengah terhimpit harga jual cabai yang anjlok.

oleh Arief Rahman HDiterbitkan 07 Januari 2026, 12:00 WIB
Petani memanen cabai keriting di kawasan Pesawah, Cicurug, Sukabumi, Rabu (22/04/2020). Sejak penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), sejumlah petani mengeluhkan harga cabai keriting di tingkat petani yang turun dari Rp 20 ribu per kg menjadi Rp 12 ribu per kg. (merdeka.com/Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Asosiasi Champion Cabai Indonesia, Tunov Mondro, mengungkapkan petani tengah terhimpit harga jual cabai yang anjlok. Bahkan biaya produksinya kini terbilang tinggi ketimbang harga jual.

Dia menyebut pada cabai merah keriting misalnya yang dibanderol Rp 20.000 per kilogram (kg) dan cabai rawit merah Rp 30.000 per kg di tingkat petani. Harga ini, anjlok karena pasokan berlebih dan tekanan biaya sarana produksi pertanian cabai.

"Ketika harga Rp 20.000 sekarang, petani sudah teriak, karena HPP-nya sekarang sudah di atas Rp 20.000, karena tingginya biaya produksi dari sarana produksi," kata Tunov saat dihubungi Liputan6.com, Rabu (7/1/2026).

Dia berharap ada intervensi harga untuk menekan biaya produksi. Misalnya, harga pupuk hingga alat-alat pertanian yang lebih murah. Sehingga, petani bisa mendapatkan untung lebih banyak.

"Kalau petani itu harapannya agar harga sarana produksi, pupuk, plastik mulsa, pestisida dan lain-lain, itu harganya bisa ditekan, karena itu yang sangat memberatkan petani dan setiap tahun inflasinya lumayan tinggi," tuturnya.

Tunov menerangkan, pada aspek pascaproduksi, petani membutuhkan bantuan subsidi distribusi. Pasalnya, selama ini biaya logistik kerap dibebankan kembali ke petani.

 

Butuh Subsidi Biaya Angkut

Aneka jenis cabai dijual di Pasar Kebayoran, Jakarta, Selasa (7/3/2023). Harga cabai rawit merah di DKI Jakarta terpantau naik sudah menembus Rp 100 ribu per kilogram. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Tunov menyampaikan, meski produksi lokal bisa memenuhi kebutuhan nasional, petani cabai masih membutuhkan subsidi dari pemerintah. Terutama pada aspek biaya logistik pengiriman hasil panen dari sentra produksi.

"Pasti, kalau itu kami petani pasti butuh, karena bagaimanapun yang namanya biaya logistik dari Jawa ke Sumatera, dari Jawa Tengah, Jawa Timur ke Jakarta, Jabodetabek, itu kan harga logistik itu, biaya logistik itu kan dibebankan ke harga produk," tutur dia.

Atas skema itu, biaya pengiriman akan dibebankan kepada petani. Tunov ingin pemerintah memastikan subsidi logistik tidak dinikmati pengusaha besar. "Tapi bisa dinikmati oleh petani, nah monggo itu regulasi pemerintah yang akan mengatur itu agar tepat sasaran, karena yang butuh kami petani, para produsen," bebernya.

 

Pasokan Cabai Aman Jelang Ramadan

Aneka jenis cabai dijual di Pasar Kebayoran, Jakarta, Selasa (7/3/2023). Harga cabai rawit merah di DKI Jakarta terpantau naik sudah menembus Rp 100 ribu per kilogram. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Pasokan cabai dipastikan mampu memenuhi kebutuhan ramadan meski kebun petani lokal dibayangi cuaca ekstrem beberapa waktu belakangan ini. Namun, petani berharap ada bantuan biaya logistik agar harga bisa terkendali.

Ketua Asosiasi Champion Cabai Indonesia, Tunov Mondro, memastikan produksi cabai bisa mencukupi kebutuhan pada hari besar keagamaan nasional (HBKN) seperti ramadan nanti. Tingkat produksi petani, diakuinya sesuai dengan hitungan pemerintah.

"Artinya data dari lapangan maupun yang dipegang pemerintah itu tidak terlalu jauh melesetnya, kami prudent, kami optimis untuk HBKN itu akan aman," kata Tunov saat dihubungi Liputan6.com, Selasa (6/1/2026).

 

Terdampak Cuaca

Cabai rawit dijual di Pasar Kebayoran, Jakarta, Selasa (7/3/2023). Harga cabai rawit merah di DKI Jakarta terpantau naik sudah menembus Rp 100 ribu per kilogram. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Dia mengamini ada tantangan dari cuaca ekstrem selama proses produksi cabai di berbagai wilayah. Tekanan dari cuaca ini bisa mempengaruhi harga di pasaran nantinya, termasuk di tingkat petani.

Kendati begitu, dia kembali memastikan jumlah produksi cabai bisa memenuhi kebutuhan, menyusul proyeksi panen raya cabai di awal tahun 2026 ini.

"Memang cuaca nanti akan menentukan harga. Tapi kalau secara produksi, kami petani sudah menyiapkan lebih banyak daripada kebutuhan," sebutnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya