Kemenhut Manfaatkan Kayu Hanyutan Pascabencana untuk Masyarakat Sumatera

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menindaklanjuti kayu hanyutan pascabanjir di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.

oleh Khamelia MarshaDiterbitkan 07 Januari 2026, 14:15 WIB
Warga desa memotong kayu-kayu yang hanyut oleh banjir bandang di Garoga, Provinsi Sumatera Utara, pada Kamis 4 Desember 2025. Banjir bandang di Desa Aek Garoga, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, yang terjadi pada akhir November 2025 lalu membawa serta kayu-kayu gelondongan dalam jumlah besar. (YT HARIONO/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mempercepat penanganan kayu hanyutan dan material sisa bencana hidrometeorologi di Aceh, Sumatera Barat (Sumbar), dan Sumatera Utara (Sumut). 

Penanganan dilakukan secara terpadu bersama TNI, Polri, pemerintah daerah, serta pemangku kepentingan lainnya, mulai dari pembersihan, pendataan, pemilahan, hingga pemanfaatan kayu untuk kebutuhan darurat masyarakat.

Di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, tim gabungan Kemenhut mengerahkan 28 unit alat berat untuk membersihkan kayu yang menutup akses jalan, halaman rumah warga, dan fasilitas pendidikan. 

Hingga hari ke-16 pada Senin 5 Januari 2026, sebanyak 300 batang kayu dengan total volume 469,26 meter kubik telah berhasil dipilah dan dapat dimanfaatkan.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), Subhan, menegaskan bahwa penanganan difokuskan pada lokasi yang berdampak langsung terhadap aktivitas warga.

"Kami menitikberatkan pada pembersihan kayu yang menghambat akses jalan, permukiman, dan fasilitas umum. Kayu yang masih layak pakai dipilah dan didata agar dapat dimanfaatkan secara tertib untuk kebutuhan darurat warga," ujar Subhan, dikutip dari www.kehutanan.go.id, Rabu (7/1/2026).

Pemanfaatan kayu sisa bencana oleh masyarakat dan lembaga kemanusiaan mendukung pembangunan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak.

"Hingga kini, dua unit huntara sedang dalam proses pembangunan, sementara satu unit selesai," ucap S

Pemanfaatan Kayu untuk Hunian Darurat dan Kebutuhan Warga

Sementara, area belakang pesantren yang sebelum bencana banjir bandang adalah kawasan asrama santri putra dengan kolam-kolam untuk ternak ikan dan perkebunan, kini dipenuhi potongan kayu besar. Tampak foto udara menunjukkan tumpukan pohon tumbang yang tersapu banjir bandang sekitar tiga minggu lalu di Pesantren Darul Mukhlisin dan masjid yang terhubung dengan pesantren tersebut di Aceh Tamiang, pada Minggu 14 Desember 2025. (Foto oleh AFP)

Subhan menjelaskan, di Sumatera Utara, penanganan pascabencana difokuskan di Desa Garoga, Huta Godang, dan Aek Ngadol, Kabupaten Tapanuli Selatan.

Tim gabungan mengerahkan 20 unit alat berat dan 10 unit dump truck untuk pemilahan kayu, normalisasi Sungai Garoga, pembersihan rumah warga, serta penataan lingkungan. Beberapa segmen pemilahan kayu bahkan telah selesai 100 persen sesuai peta kerja.

Kemudian, Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara Novita Kusuma Wardani menjelaskan, penanganan dilakukan seiring dengan penyiapan hunian bagi warga terdampak. 

"Selain pembersihan dan pemilahan kayu, kami juga mendukung penyiapan lahan untuk huntara dan huntap. Kayu yang terdata akan dimanfaatkan untuk kebutuhan darurat masyarakat sesuai ketentuan," ucap Novita.

Hasil pengukuran sementara di wilayah Garoga mencatat 426 batang kayu bulat dengan volume 253,85 meter kubik, serta kayu gergajian sebanyak 154 keping dengan volume 4,236 meter kubik.

Pendataan dan Penanganan Kayu Hanyutan di Sumatera Barat

Pantauan di lapangan menunjukkan rumah-rumah warga masih tertutup lumpur, batang kayu, dan bebatuan sisa terjangan galodo. Bencana yang terjadi pada Rabu sore, 26 November 2025, itu menelan korban jiwa. Berdasarkan data BPBD Agam, sebanyak 14 orang meninggal dunia di lokasi ini, sementara tiga korban lainnya hingga kini masih dalam pencarian.

Di Sumatera Barat, Kemenhut melalui UPT setempat bersama Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) dan Dinas Kehutanan Provinsi melakukan identifikasi dan pendataan kayu hanyutan di Pantai Padang serta sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Kuranji dan Sungai Air Dingin.

Kepala BKSDA Sumatera Barat, Hartono, menjelaskan bahwa proses pendataan masih berlangsung secara menyeluruh. 

"Saat ini kami masih melakukan penghitungan jumlah dan jenis kayu hanyutan di beberapa lokasi. Data ini akan menjadi dasar pemanfaatan kayu sisa bencana setelah tim pemanfaatan ditetapkan melalui SK Gubernur," jelas Hartono.

Kemenhut menegaskan bahwa kegiatan penanganan pascabencana akan terus dilanjutkan dengan pembaruan data secara berkala.

Hal ini dilakukan untuk memastikan pemanfaatan kayu sisa bencana berjalan tertib, transparan, dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat terdampak.

Infografis Duka Bencana Beruntun di Sumut. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya