Liputan6.com, Bogota - Kolombia memperkuat kehadiran militernya di sepanjang perbatasan dengan Venezuela menyusul operasi Amerika Serikat di Caracas pada akhir pekan lalu yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro.
Langkah tersebut diambil di tengah meningkatnya ketegangan regional pascaaksi militer AS. Radio Nacional de Colombia melaporkan pemerintah memerintahkan pengerahan sekitar 30.000 personel ke wilayah perbatasan.
Advertisement
Pasukan tersebut ditugaskan untuk mengantisipasi dan merespons potensi dampak keamanan di kawasan perbatasan Kolombia–Venezuela yang rawan konflik, dikutip dari laman The National News, Selasa (6/1/2026).
Direktur Departemen Administrasi Kepresidenan Kolombia, Angie Lizeth Rodriguez, mengatakan bahwa perintah yang dikeluarkan pada Minggu (4/1) itu merupakan bagian dari strategi negara untuk melindungi kedaulatan dan menjaga integritas wilayah. Menurutnya, langkah tersebut juga bertujuan melindungi masyarakat perbatasan di tengah situasi regional yang memanas.
Perbatasan Kolombia–Venezuela dikenal sebagai jalur strategis bagi penyelundupan narkoba dan senjata. Wilayah tersebut kerap menjadi arena bentrokan antara aparat keamanan Kolombia dengan kelompok gerilya dan jaringan kriminal bersenjata.
Pengetatan keamanan ini dilakukan setelah Maduro menyatakan tidak bersalah atas sejumlah dakwaan, termasuk tuduhan terorisme narkoba, dalam sidang di Pengadilan New York pada Senin. Istrinya, Cilia Flores, yang turut ditangkap, juga mengajukan pembelaan tidak bersalah.
Presiden Kolombia Gustavo Petro dalam beberapa kesempatan menyuarakan kekhawatiran terhadap kebijakan Washington, khususnya terkait imigrasi dan perdagangan narkoba. Petro menilai intervensi AS berpotensi meluas dan tidak berhenti di Venezuela.
Dalam unggahan di platform X pada Minggu, Petro menegaskan komitmennya menjaga kedaulatan Kolombia. Ia merujuk pada masa lalunya sebagai mantan anggota gerilya M-19, seraya menolak tudingan keterkaitan dengan narkoba. Pernyataan tersebut muncul setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan kritik keras terhadap Petro dan Kolombia, negara yang dikenal sebagai produsen kokain terbesar di dunia.
Ketegangan di Tingkat Regional
Ketegangan juga tercermin di tingkat regional. Pertemuan darurat Komunitas Negara-Negara Amerika Latin dan Karibia (CELAC) yang digelar secara daring gagal mencapai konsensus untuk mengutuk penahanan Maduro. Negara-negara seperti Argentina, Ekuador, dan El Salvador menyambut penangkapan tersebut, sementara Kolombia, Brasil, dan Kuba menyatakan penolakan.
Kuba secara terbuka mengecam penahanan Maduro dan menyebutnya sebagai ancaman serius terhadap stabilitas kawasan. Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel menyebut tindakan AS sebagai agresi dan pelanggaran hukum internasional, menyusul laporan tewasnya puluhan warga Kuba dalam operasi AS di Venezuela.
Situasi ini memperdalam polarisasi politik di Amerika Latin antara pemerintahan berhaluan kiri dan kanan. Sementara itu, dengan fokus militer Rusia yang terserap dalam perang di Ukraina, para pengamat menilai kecil kemungkinan Moskow akan terlibat langsung membantu Kuba atau sekutunya jika eskalasi dengan AS berlanjut.