11,43% Lahan Padi di 3 Provinsi Bencana Berpotensi Gagal Panen

Tercatat, sekitar 11,43 persen dari total lahan padi di Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat berpotensi mengalami gagal panen (puso).

oleh Tira SantiaDiterbitkan 06 Januari 2026, 12:40 WIB
BPS mencatat risiko gagal panen di lahan padi wilayah terdampak bencana. Tampak foto udara menunjukkan para komuter yang berkendara melewati sawah yang terendam lumpur setelah banjir bandang di Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh, pada Senin 8 Desember 2025. (Chaideer MAHYUDDIN/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Pudji Ismartini, mencatat meningkatnya risiko gagal panen di lahan padi wilayah terdampak bencana seperti di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Ia mengungkapkan bahwa kondisi penanaman padi pada November 2025 menunjukkan tekanan signifikan di tiga provinsi utama sentra produksi.

Berdasarkan pemantauan BPS, sebesar 11,43 persen lahan pertanian yang biasanya ditanami padi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat berpotensi mengalami gagal panen.

"Jika kita melihat perkembangan kondisi penanaman padi khsuusnya di 3 provinsi terdampak bencana yaitu di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat pada bulan November 2025. Sebesar 11,43 persen lahan pertanian yang biasa ditanami padi di total 3 provinsi tersebut berpotensi terjadi gagal panen," kata Pudji dalam Konferensi Pers BPS, ditulis, Selasa (6/1/2026).

Pudji menyebut, angka ini melonjak tajam dibandingkan bulan-bulan sebelumnya, seiring dampak bencana yang mengganggu siklus tanam dan kondisi lahan.

"Proporsi potensi gagal panen ini meningkat tajam dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya," ungkapnya.

 

Aktivitas Tanam Melambat

Petani menanam padi di persawahan di kawasan Tangerang, Kamis (3/12/2020). Kementerian Pertanian menargetkan pada musim tanam pertama 2020-2021 penanaman padi mencapai seluas 8,2 juta hektare menghasilkan 20 juta ton beras. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Selain potensi gagal panen, BPS juga mencatat penurunan proporsi lahan yang sedang ditanami padi atau standing crop. Pada November 2025, proporsi standing crop di tiga provinsi tersebut tercatat sebesar 34,63 persen. Capaian ini lebih rendah dibandingkan kondisi November tahun lalu, menandakan perlambatan aktivitas tanam.

"Sementara itu proporsi lahan yang sedang ditanami padi atau standing crop di total 3 provinsi pada bulan November 2025 ada sebesar 34,63 persen, dimana ini lebih kecil dibandingkan dengan kondisi November tahun lalu," ujarnya.

Penurunan standing crop ini mencerminkan terganggunya kesiapan lahan dan proses penanaman, baik akibat kerusakan infrastruktur pertanian maupun faktor cuaca ekstrem pascabencana.

 

Dampak Berantai ke Luas Panen Tiga Bulan Mendatang

Petani menanam padi di persawahan di kawasan Tangerang, Kamis (3/12/2020). Kementerian Pertanian menargetkan pada musim tanam pertama 2020-2021 penanaman padi mencapai seluas 8,2 juta hektare menghasilkan 20 juta ton beras. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

BPS menilai dinamika tersebut akan berdampak langsung pada luas panen November 2025 dan turut memengaruhi potensi luas panen hingga tiga bulan ke depan.

"Kondisi tersebut di atas berdampak pada luas panen November 2025 dan dapat mempengaruhi potensi luas panen 3 bulan ke depan," ujarnya.

Kendati demikian, BPS akan terus memantau kondisi lapangan untuk memberikan gambaran terbaru mengenai potensi produksi padi di wilayah terdampak.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya