32 Warga Kuba Tewas dalam Serangan AS di Venezuela, Havana Tetapkan Hari Berkabung

Havana menetapkan dua hari berkabung nasional pada 5 dan 6 Januari untuk mengenang para korban.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 05 Januari 2026, 13:04 WIB
Pendukung mantan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, saat menggelar aksi unjuk rasa di Caracas pada Minggu 4 Januari 2026. Sehari setelah penangkapan oleh pasukan Amerika Serikat (AS), pendukung Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, menggelar aksi unjuk rasa di Caracas. (Juan BARRETO/AFP)

Liputan6.com, Caracas - Pemerintah Kuba pada Minggu (4/1/2025) mengumumkan sebanyak 32 warganya tewas dalam operasi militer Amerika Serikat di Venezuela yang bertujuan membawa Presiden Nicolas Maduro ke hadapan pengadilan di AS.

Havana menetapkan dua hari berkabung nasional pada 5 dan 6 Januari untuk mengenang para korban, dikutip dari laman Japan Today, Senin (5/1).

Dalam pernyataannya, pemerintah Kuba menyebut seluruh korban merupakan anggota angkatan bersenjata dan badan intelijen Kuba. Rincian insiden tidak diungkapkan secara detail. Pemerintah menyatakan pengaturan pemakaman akan diumumkan kemudian.

“Dalam menjalankan tanggung jawab terkait keamanan dan pertahanan, para rekan sebangsa kami menunaikan tugas mereka secara bermartabat dan heroik, dan gugur setelah perlawanan sengit—baik dalam pertempuran langsung melawan penyerang maupun akibat pemboman di fasilitas tersebut,” demikian bunyi pernyataan resmi Havana.

Kuba selama ini diketahui memberikan dukungan pengamanan kepada Maduro sejak ia berkuasa. Namun, pemerintah Kuba tidak merinci berapa banyak personelnya yang sedang bertugas melindungi presiden Venezuela saat insiden terjadi, maupun apakah sebagian korban tewas di lokasi lain.

Pada Sabtu, Maduro (63) dan istrinya, Cilia Flores, ditangkap pasukan AS di Caracas dan diterbangkan ke Amerika Serikat. Maduro kini ditahan di sebuah pusat penahanan di New York dan dijadwalkan menjalani sidang pada Senin terkait dakwaan narkotika.

Amerika Serikat pada 2020 mendakwa Maduro atas sejumlah tuduhan, termasuk konspirasi terorisme narkoba. Maduro berulang kali membantah seluruh tuduhan tersebut dan menegaskan tidak terlibat dalam aktivitas kriminal.

Sementara itu, ketegangan regional meningkat setelah Presiden AS Donald Trump pada Minggu mengisyaratkan kemungkinan tindakan militer terhadap Kolombia. Kepada wartawan di atas pesawat Air Force One, Trump menyebut operasi semacam itu “terdengar bagus.”

“Kolombia juga sangat sakit, dipimpin oleh orang sakit yang suka membuat kokain dan menjualnya ke Amerika Serikat, dan itu tidak akan berlangsung lama,” kata Trump, yang diduga merujuk pada Presiden Kolombia Gustavo Petro.

Saat ditanya secara langsung apakah AS akan melancarkan operasi militer terhadap Kolombia, Trump menjawab singkat, “Kedengarannya bagus bagi saya.”

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya