Ekonomi Singapura Tumbuh 5,7% di Akhir 2025, Tertinggi Sejak 2021

Ekonomi Singapura tumbuh 5,7% pada akhir tahun 2025, tertinggi sejak 2021. Lonjakan sektor manufaktur menjadi penopang utama pertumbuhan PDB negara-kota tersebut.

oleh Muhammad IsmailDiterbitkan 02 Januari 2026, 15:00 WIB
Ilustrasi Singapura. Ekonomi Singapura tumbuh 5,7% pada akhir tahun 2025, tertinggi sejak 2021. Lonjakan sektor manufaktur menjadi penopang utama pertumbuhan PDB negara-kota tersebut. (AP/Wong Maye-E)

Liputan6.com, Jakarta - Perekonomian Singapura menutup tahun 2025 dengan kinerja yang sangat solid, mencerminkan daya tahan ekonomi negara-kota tersebut di tengah berbagai tekanan global yang masih berlangsung. Pada kuartal keempat 2025, produk domestik bruto (PDB) Singapura tercatat tumbuh 5,7 persen secara tahunan (year-on-year), menjadi laju pertumbuhan tertinggi sejak 2021.

Capaian ini menunjukkan penguatan ekonomi yang signifikan, terutama jika dilihat dari kondisi global yang masih dibayangi ketidakpastian, mulai dari tensi perdagangan internasional, perlambatan ekonomi di sejumlah negara mitra dagang utama, hingga risiko geopolitik yang memengaruhi arus perdagangan dan investasi dunia.

Pertumbuhan ekonomi pada kuartal keempat tersebut juga tercatat lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya, yang angkanya direvisi menjadi 4,3 persen. Dorongan pertumbuhan yang kuat di akhir tahun ini membawa ekonomi Singapura tumbuh 4,8 persen sepanjang 2025 secara keseluruhan.

Angka tersebut melampaui proyeksi terbaru pemerintah Singapura yang sebelumnya telah dinaikkan menjadi sekitar 4 persen, menandakan bahwa kinerja ekonomi bergerak di atas ekspektasi awal.

Dalam pesan Tahun Barunya, Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong menyebut capaian tersebut sebagai hasil yang lebih baik dari perkiraan semula, sekaligus menjadi sinyal positif atas ketahanan dan adaptabilitas ekonomi nasional.

Meski demikian, pemerintah tetap menekankan sikap waspada ke depan. Lawrence Wong mengingatkan bahwa tantangan global masih membayangi, dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi pada tahun-tahun mendatang bukanlah hal yang mudah.

Sejalan dengan itu, pemerintah Singapura memproyeksikan pertumbuhan ekonomi akan melambat pada 2026, dengan Kementerian Perdagangan dan Industri (MTI) memperkirakan PDB hanya tumbuh di kisaran 1 persen hingga 3 persen, seiring normalisasi kinerja sektor-sektor utama dan potensi perlambatan manufaktur setelah pertumbuhan tinggi pada 2025.

Sektor Manufaktur Jadi Mesin Utama Pertumbuhan

Ilustrasi Manufaktur ©Ilustrasi dibuat Stable Diffusion

Kementerian Perdagangan dan Industri (Ministry of Trade and Industry (MTI)) Singapura menyatakan bahwa lonjakan ekonomi kuartal IV terutama didorong oleh pertumbuhan sektor manufaktur yang mencapai 15 persen.

Angka ini melonjak tajam dibandingkan pertumbuhan 4,9 persen pada kuartal ketiga.MTI menjelaskan bahwa penguatan manufaktur tersebut terutama berasal dari klaster biomedis dan elektronik, yang mencatatkan peningkatan produksi signifikan selama tiga bulan hingga Desember. Sektor manufaktur sendiri memiliki peran strategis bagi perekonomian Singapura karena menyumbang sekitar 20 persen dari total PDB.

Sektor Lain Masih Mengalami TekananMeski manufaktur mencatatkan kinerja impresif, sebagian besar sektor lain justru mengalami kontraksi pada periode yang sama. Sektor konstruksi dan jasa tercatat melemah, mencerminkan masih adanya tekanan permintaan domestik maupun eksternal.

Namun, kuatnya sektor manufaktur mampu mengimbangi pelemahan tersebut dan mengangkat pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan pada kuartal keempat.

Risiko Perdagangan Global Masih Membayangi

Ilustrasi Pasar Global ©Ilustrasi dibuat AI

Singapura sebelumnya telah memperingatkan bahwa perekonomian akan menghadapi tantangan besar akibat meningkatnya risiko perdagangan global. Negara tersebut terdampak kebijakan tarif Amerika Serikat, meskipun telah memiliki perjanjian perdagangan bebas dengan AS sejak 2004.

Ketergantungan Singapura terhadap perdagangan juga sangat tinggi, dengan rasio perdagangan terhadap PDB mencapai lebih dari 320 persen, menjadikan ekonomi negara-kota tersebut sangat sensitif terhadap gejolak global.

Pemerintah bahkan sempat memperingatkan potensi pertumbuhan nol dan melonggarkan kebijakan moneter untuk mengantisipasi perlambatan.

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya