70.000 Ha Sawah Terdampak Bencana Sumatera, Produksi Beras Terganggu?

70.000 hektare sawah di Sumatera terdampak bencana, Bulog waspadai imbasnya terhadap produksi beras nasional.

oleh Maulandy Rizky Bayu KencanaDiterbitkan 02 Januari 2026, 13:14 WIB
Tampak foto pemandangan udara menunjukkan sawah yang terendam lumpur setelah banjir bandang di Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh, pada Senin 8 Desember 2025. Produksi beras nasional terancam bencana di Sumatera. (Chaideer MAHYUDDIN/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani tidak menampik bahwa bencana Sumatera bakal turut berimbas terhadap produksi beras nasional. Lantaran adanya 70.000 ha sawah yang terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara hingga Sumatera Barat.

Rizal mengatakan, hasil itu teridentifikasi setelah dirinya bersama Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman meninjau langsung kondisi persawahan di tiga wilayah tersebut.

"Memang dalam hal ini karena luasannya cukup banyak 70.000 ha, otomatis akan berdampak terhadap hasil (produksi beras) masing-masing provinsi maupun kabupaten/kota untuk diserap menjadi beras kami," ujarnya di Kantor Pusat Perum Bulog, Jakarta, Jumat (2/1/2025).

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) disebutnya segera berupaya memulihkan area persawahan tersebut. Rizal pun berharap agar sawah-sawah terdampak bencana di Aceh, Sumut dan Sumbar bisa ikut menyambut panen dalam waktu dekat.

"Kami berharap ini akan segera pulih dalam waktu dekat. Karena program dari pak Mentan segera akan ditindaklanjuti. Mudah-mudahan dalam waktu 2-3 bulan bisa operasional kembali," ungkap dia.

Sebagai tindaklanjut bencana Sumatera, Kementerian Pertanian berencana untuk memberikan bantuan benih hingga alat mesin pertanian (alsintan) kepada para petani di wilayah terdampak.

Rencana Pemulihan Sawah

Kabupaten Pidie Jaya, termasuk kecamatan Meureudu, dikenal karena produktivitas padinya yang tinggi dan bahkan telah menerima penghargaan dari Kementerian Pertanian. Pada tahun-tahun sebelumnya, hasil panen rata-rata dilaporkan mencapai sekitar 8,5 ton per hektare. Tampak foto udara menunjukkan para komuter yang berkendara melewati sawah yang terendam lumpur setelah banjir bandang di Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh, pada Senin 8 Desember 2025. (Chaideer MAHYUDDIN/AFP)

Sebelumnya, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengungkap rencana pemulihan kembali sawah yang rusak terdampak bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Sudaryono mencatat, ada lebih dari 70 ribu hektare sawah yang terdampak bencana Sumatera. 15-20 ribu hektare diantaranya lenyap dan gagal panen atau puso.

"Nah yang puso itu, yang 15-20 ribu hektare itulah kemudian nanti pemerintah datang, kan itu sudah tidak bentuk sawah lagi, nanti kita ada cetak sawah, kita bikinkan sawahnya, kita kasih benihnya, kita kasih alatnya, jadi dikembalikan," ungkap Sudaryono beberapa waktu lalu.

 

Mulai Didata Januari 2026

Data sementara posko tanggap darurat bencana Aceh per 7 Desember 2025, kerusakan lahan pertanian di provinsi itu akibat bencana hidrometeorologi sejak 25 November lalu telah mencapai lebih dari 65 ribu hektare. Tampak foto udara menunjukkan warga berkendara melewati sawah yang terendam lumpur setelah banjir bandang di Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh, pada Senin 8 Desember 2025. (Chaideer MAHYUDDIN/AFP)

Proses pendataan akan dilakukan mulai Januari 2026, bulan ini. Kemudian cetak sawah akan beriringan dengan pembersihan dan pemulihan akses jalan dan perkotaan.

Selain sektor pertanian, Sudaryono juga akan memulihkan peternakan yang terdampak. Misalnya, bisa melalui program peternakan ayam petelur Merah Putih.

"Kita identifikasi semua, ternak ayam, sapi, kambing, kita identifikasi, ya kita akan dari sisi pertanakan kan kita juga ada program yang nanti kita bantu setelah pemulihan, namanya pemulihan pascabencana," jelasnya.

 

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya