Anak di China Kembali ke Pelukan Orang Tua Kandung setelah Diculik di Usia 4 Tahun

Kisah ini datang dari korban penculikan di China yang kembali ke keluarga kandungnya.

oleh Faqih Nur ImanDiterbitkan 31 Desember 2025, 20:30 WIB
Bermain dokter-dokteran, guru-murid, atau penjual-pembeli dapat melatih empati sekaligus membantu anak memahami perasaan orang lain. Dengan berpura-pura menjadi tokoh tertentu, anak belajar mengekspresikan dan mengenali emosi dalam situasi yang berbeda. (Foto: Alexandr Podvalny/Unsplash)

Liputan6.com, Beijing - Seorang pria di China yang menjadi korban penculikan saat balita, Peng Congcong (26), akhirnya bertemu kembali dengan orang tua kandungnya setelah berpisah selama 21 tahun. Pria asal provinsi Jiangxi tersebut memutuskan hubungan dengan keluarga yang membesarkannya dan menyerahkan kembali seluruh harta benda di tempat tinggal lamanya.

Peng membagikan kisahnya secara daring pada 12 Desember. Ia mengenang satu tahun perjalanannya setelah reuni dengan keluarga kandungnya dan menyebut tahun 2025 sebagai momen "kelahiran kembali" yang penuh kasih sayang.

Melansir laporan South China Morning Post (31/12/2025), peristiwa memilukan tersebut bermula saat Peng berusia empat tahun. Keluarganya baru saja pindah ke Beijing ketika ia dibujuk orang tak dikenal saat bermain sendirian di dekat sebuah pasar dan kemudian diculik.

Kedua orang tuanya segera melaporkan kehilangan tersebut, memasang poster, dan terus mencari keberadaan sang putra selama 21 tahun. Selama masa pencarian panjang itu, Peng dibesarkan oleh sebuah keluarga di provinsi Jiangsu, China timur, dengan nama baru "Zhang Kun".

Beberapa laporan media lokal menyebut keluarga pengasuh tersebut sebagai "pembeli", namun Peng belum memberikan tanggapan publik terkait klaim tersebut.

Kepastian identitas Peng terungkap pada Desember. Pihak kepolisian menginformasikan bahwa berdasarkan hasil tes DNA, ia bukan berasal dari Jiangsu, melainkan Jiangxi, dan mengatakan bahwa keluarga kandungnya telah menemukannya melalui tes DNA.

Ia kemudian melakukan perjalanan ke Beijing untuk bertemu kembali dengan orang tua dan dua kakak perempuannya. Keluarga tersebut kemudian membawa Peng kembali ke lokasi pasar tempat ia tinggal semasa kecil, sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke Jiangxi. 

Di kampung halamannya, warga menyambut kedatangannya dengan pesta kembang api dan jamuan makan. Para kerabat juga memberikan amplop merah untuk merayakan kepulangannya.

"Inilah rasanya rumah yang sesungguhnya. Dengan kasih sayang orang tua, saudara perempuan di sisi saya, dan restu kerabat, saya merasakan rasa memiliki yang mendalam," tulis Peng dalam unggahannya.

 

 

Melepas Harta Benda demi Memulai Hidup Baru

Sahabat Fimela, ternyata liburan bersama keluarga bukan cuma seru-seruan saja, lho, tapi juga penuh manfaat tersembunyi yang jarang disadari. Dari mempererat hubungan hingga membuat anak lebih mandiri, yuk, kita cari tahu kenapa momen ini begitu berharga! (Foto dok: Freepik/tirachardz ).

Sebelum reuni terjadi, Peng telah memiliki kehidupan mapan di Jiangsu, lengkap dengan pekerjaan, rumah, dan mobil. Namun, pertemuan dengan keluarga kandung mengubah jalan hidupnya. Ia memilih berhenti bekerja, memindahkan status kependudukan, serta menjual rumah dan mobilnya.

Dalam sebuah siaran langsung, Peng menjelaskan bahwa rumah tersebut dibeli oleh orang tua angkatnya, sedangkan biaya renovasi berasal dari kantong pribadinya. Ia memutuskan memutus seluruh kontak dengan pihak di Jiangsu dan pindah ke Jiangxi untuk memulai lembaran baru.

"Barang-barang tersebut bukan milik saya. Jadi saya mengembalikannya," tegas Peng.

"Selama 20 tahun terakhir, orang tua saya hidup dengan rasa bersalah dan sakit. Saya ingin menebus, sedikit demi sedikit, waktu yang dicuri tahun-tahun itu dari kami," ungkapnya.

Selain itu, Peng aktif menjadi sukarelawan membantu pencarian anak hilang dan mendonasikan seluruh hasil penjualan barang dari siaran langsung pertamanya ke badan amal Baby Come Home.

Kasus Peng menyoroti masalah perdagangan manusia yang masih menjadi tantangan di China. Data resmi mencatat penurunan kasus penculikan perempuan dan anak sebesar 86,2 persen pada 2021 dibanding 2013, meski banyak kasus lama belum terpecahkan. 

Kisah keberanian Peng menuai simpati publik di media sosial. "Uang tidak bisa membeli cinta sejati atau keluarga," tulis seorang warganet menanggapi kisah tersebut.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya