Strategi Beli Emas Saat Dolar AS Melemah, Ini Waktu yang Dinilai Tepat

Pergerakan indek dolar Amerika Serikat (AS) akan mempengaruhi harga emas.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 28 Desember 2025, 18:43 WIB
Seorang pelanggan (kiri) memeriksa gelang emas selama festival Hindu 'Akshaya Tritiya', hari keberuntungan dalam kalender Hindu untuk membeli barang-barang berharga, di ruang pamer perhiasan di Chennai, India. Membeli emas adalah kegiatan yang populer di Akshaya Tritiya, karena ini adalah simbol utama kekayaan dan kemakmuran. (Arun SANKAR / AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan Indeks Dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa hari ke depan diperkirakan berada dalam tekanan. Ia menilai pelemahan dolar AS dipicu oleh rilis data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan tren inflasi yang terus menurun. Lalu bagaimana dampaknya ke harga emas?

"Kita lihat pelemahan indeks dolar disebabkan oleh apa? Oleh data ekonomi yang cukup lemah terutama adalah data inflasi yang terus mengalami penurunan," kata Ibrahim kepada Liputan6.com, Minggu (28/12/2025).

Dalam jangka pendek, indeks dolar AS diperkirakan bergerak di kisaran support 97,579 dengan resistance di level 98,398. Rentang pergerakan ini mengindikasikan peluang pelemahan dolar hingga pertengahan pekan, terutama dari Senin hingga Rabu.

"Indeks Dolar sendiri dalam 3 hari ke depan kemungkinan besar rentangnya itu adalah di support 97,579 itu supportnya. Kemudian resistennya adalah di 98,398. Saya ulangi, untuk Indeks Dolar kemungkinan melemah di akhir tahun hari Senin sampai hari Rabu," ujarnya.

Kondisi tersebut membuat investor mulai mengurangi kepemilikan aset berbasis dolar dan beralih ke instrumen lindung nilai. Salah satu aset yang paling diuntungkan dari situasi ini adalah emas, baik di pasar global maupun di dalam negeri.

"Apa yang mempengaruhi fluktuasi harga emas dunia dan logam mulia yang kemungkinan besar masih akan mengalami kenaikan sampai akhir tahun 2026 pada Rabu. Ada 2 faktor yang mempengaruhi adalah faktor geopolitik, yang kedua adalah pelemahan Indeks Dolar," ujarnya.

Pelemahan Dolar AS Dorong Harga Emas Dunia dan Logam Mulia Naik

Ilustrasi harga emas dunia (Foto By AI)

Pelemahan Indeks Dolar AS memberikan ruang bagi harga emas dunia untuk terus bergerak menguat. Secara historis, emas memiliki hubungan berlawanan arah dengan dolar AS, sehingga ketika dolar AS melemah, harga emas cenderung naik.

Ibrahim menjelaskan, harga emas dunia berpeluang bergerak menuju area resistance di kisaran USD 4.550 per troy ons. Jika sentimen pasar mendukung, penguatan dapat berlanjut hingga mendekati level USD 4.600.

Seiring dengan itu, harga logam mulia di pasar domestik diproyeksikan ikut terdorong naik ke kisaran Rp 2.650.000 hingga Rp 2.700.000 per gram.

"Kalau seandainya harganya naik, ya resisten pertama itu di USD 4.550. Itu kalau di logam mulia menjadi Rp 2.650.000. Pada hari Rabu ya itu kemungkinan besar kalau menguat resisten kedua itu di USD 4.570 ya sampai di USD 4.600. Jadi kemungkinan besar ditutup mendekati USD4.600. Nah logam mulianya itu adalah di Rp 2.700.000," jelasnya.

Ekspektasi Penurunan Suku Bunga The Fed

Ilustrasi Federal Reserve, The Fed. (Photo by Joshua Hoehne on Unsplash)

Selain faktor inflasi, pasar juga menaruh perhatian besar pada arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat. Ibrahim menilai, terdapat peluang Federal Reserve (the Fed) akan kembali memangkas suku bunga pada awal tahun 2026, meskipun sebelumnya diproyeksikan hanya satu kali pemangkasan.

Ekspektasi tersebut muncul karena dinamika politik di Amerika Serikat yang diperkirakan memengaruhi kebijakan moneter ke depan. Pergantian kepemimpinan di bank sentral dinilai berpotensi membawa arah kebijakan yang lebih akomodatif. Harapan penurunan suku bunga ini semakin memperkuat daya tarik emas sebagai aset aman.

"Ini mengindikasikan bahwa di awal-awal tahun 2026 ada kemungkinan besar Bank Sentral Amerika akan kembali menurunkan suku bunga walaupun sebelumnya Powell sendiri mengatakan bahwa di tahun 2026 kemungkinan hanya menurunkan suku bunga satu kali," pungkasnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya