Liputan6.com, Washington, DC - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pada Senin (22/12/2025) bahwa akan menjadi langkah yang cerdas bagi Presiden Venezuela Nicolas Maduro untuk mundur dari jabatannya.
Ketika ditanya oleh para wartawan di kediamannya di Florida apakah ancaman dan tekanan Washington—termasuk operasi militer dan blokade minyak—bertujuan memaksa Maduro meninggalkan kekuasaan setelah 12 tahun berkuasa, Trump mengatakan, "Itu tergantung padanya, apa yang ingin dia lakukan. Saya pikir akan menjadi hal yang cerdas baginya untuk melakukan itu."
Advertisement
"Jika dia ingin melakukan sesuatu — jika dia bermain keras, itu akan menjadi kali terakhir dia pernah bisa bermain keras."
Menanggapi pernyataan itu hanya beberapa jam kemudian, Maduro mengatakan bahwa akan lebih baik jika Trump memusatkan perhatiannya pada masalah-masalah di negaranya sendiri daripada mengancam Caracas.
"Dia akan lebih baik jika memusatkan perhatian pada masalah ekonomi dan sosial di negaranya sendiri, dan dunia juga akan lebih baik jika dia mengurus urusan negaranya sendiri," kata Maduro dalam pidato yang disiarkan di televisi publik.
Pernyataan dukungan dari Rusia muncul menjelang pertemuan Dewan Keamanan PBB pada Selasa untuk membahas krisis yang kian meningkat.
Dalam sebuah percakapan telepon, para menteri luar negeri dari negara-negara tersebut mengecam tindakan AS, yang mencakup serangan terhadap kapal-kapal yang diduga terlibat perdagangan narkoba serta penyitaan dua kapal tanker minyak.
Sebuah kapal ketiga sedang dikejar, kata seorang pejabat AS kepada AFP pada Minggu (21/12).
"Para menteri menyatakan keprihatinan mendalam atas eskalasi tindakan Washington di Laut Karibia, yang dapat menimbulkan konsekuensi serius bagi kawasan tersebut dan mengancam pelayaran internasional,” kata Kementerian Luar Negeri Rusia mengenai percakapan antara Sergei Lavrov dan mitranya dari Venezuela, Yvan Gil.
"Pihak Rusia menegaskan kembali dukungan penuh dan solidaritasnya terhadap kepemimpinan dan rakyat Venezuela dalam konteks saat ini."
Venezuela Didukung Rusia dan China
Sejak September, pasukan AS telah melancarkan serangan terhadap kapal-kapal yang menurut Washington, tanpa memberikan bukti, terlibat dalam perdagangan narkoba di Karibia dan Samudra Pasifik bagian timur.
Lebih dari 100 orang telah tewas — sebagian di antaranya adalah nelayan, menurut keluarga dan pemerintah mereka.
Pada 16 Desember, Trump mengumumkan blokade terhadap kapal-kapal pengangkut minyak yang berlayar ke dan dari Venezuela.
Trump mengklaim bahwa Caracas di bawah pemerintahan Maduro menggunakan uang dari minyak untuk membiayai "terorisme narkoba, perdagangan manusia, pembunuhan, dan penculikan."
Ia menuduh Venezuela mengambil "seluruh minyak kami" — yang diyakini merujuk pada nasionalisasi sektor perminyakan negara tersebut — dan mengatakan, "Kami ingin itu kembali."
Venezuela, di sisi lain, khawatir AS sedang mengupayakan perubahan rezim.
Pernyataan Rusia mengatakan Lavrov dan Gil sepakat dalam percakapan mereka untuk mengoordinasikan tindakan mereka di panggung internasional, khususnya di PBB.
Rusia dan China, sekutu Venezuela lainnya, mendukung permintaan Caracas untuk mengadakan pertemuan Dewan Keamanan PBB guna membahas apa yang mereka sebut sebagai agresi AS yang sedang berlangsung.