Pramono Tetapkan Malam Perayaan Tahun Baru di Jakarta Tanpa Kembang Api, Ini Alasannya

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memastikan perayaan Tahun Baru di Jakarta tidak akan dilakukan secara berlebihan penuh kemeriahan.

oleh Winda NelfiraDiterbitkan 19 Desember 2025, 14:45 WIB
Pramono Anung berolahraga di kawasan car free day (CFD) Jakarta, Minggu pagi (8/12/2024). (Foto: Tim Pramono Anung)

Liputan6.com, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memastikan perayaan Tahun Baru di Jakarta tidak akan dilakukan secara berlebihan penuh kemeriahan. Hal tersebut menyusul bencana yang terjadi di tiga provinsi Indonesia, yakni Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara.

Pramono menyebut, Jakarta sebagai ibu kota negara akan menjadi sorotan nasional maupun internasional dalam perayaan Malam Tahun Baru, sehingga konsep acara harus mencerminkan kesederhanaan dan empati.

“Yang pertama yang paling utama adalah enggak ada kemeriahan yang berlebihan yang bersifat mewah-mewah, enggak, saya enggak mau,” kata Pramono di Jakarta, Jumat (19/12/2025).

Salah satu keputusan yang diambil oleh Pramono adalah dengan meniadakan pertunjukkan kembang api. Sebagai gantinya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan menggantinya dengan pertunjukan drone.

“Saya segera memutuskan kembang api menurut saya juga enggak perlu ada. Jadi pakai drone aja cukup,” ucap Pramono. 

 

Siapkan Tempat Merenung dan Berdoa

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan komitmennya terhadap pelestarian dan pemajuan budaya Betawi. (Liputan6.com/Winda Nelfira)

Selain itu, Pemprov DKI Jakarta juga akan menyiapkan tempat khusus yang akan diperuntukkan untuk merenung, berdoa, dan kontemplasi bagi masyarakat yang ingin memperingati pergantian tahun dengan cara yang lebih reflektif.

“Pasti nanti akan ada tempat secara khusus untuk kita merenung berdoa, kontemplasi, terutama berkaitan dengan peristiwa yang terjadi di Aceh, Sumatra Barat, Sumatra Utara,” ungkapnya.

Meski demikian, Pramono menegaskan dengan keputusan ini bukan berarti bahwa Pemprov DKI Jakarta melarang masyarakat mengekspresikan rasa syukur dengan cara lain yang lebih sederhana.

“Tetapi saya juga tidak ingin semua orang kemudian harus apa, enggak boleh bersyukur dengan cara yang lain,” katanya.

Infografis 100 Hari Kerja Pramono Anung-Rano Karno Pimpin Jakarta. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya