Liputan6.com, Jakarta - Pasar kripto menunjukkan tanda-tanda memasuki fase perlambatan, salah satunya tercermin dari anjloknya jumlah dompet (wallet) Bitcoin yang aktif. Berdasarkan data blockchain terbaru, jumlah wallet aktif Bitcoin kini berada di level terendah dalam lebih dari satu tahun terakhir.
Dikutip dari coinmarketcap, Kamis (18/12/2025), penurunan ini mengindikasikan bahwa meskipun harga Bitcoin masih mengalami fluktuasi, aktivitas penggunaan jaringan justru melemah. Artinya, semakin sedikit pengguna yang melakukan transaksi, baik mengirim maupun menerima Bitcoin.
Advertisement
Kondisi tersebut kerap menjadi sinyal adanya sikap menunggu (wait and see) dari para pelaku pasar. Biasanya, ketika jumlah wallet aktif menurun, hal ini mencerminkan berkurangnya kepercayaan, menurunnya aktivitas spekulasi, atau munculnya kelelahan pasar setelah periode reli atau volatilitas tinggi.
Data dari CryptoQuant juga menegaskan bahwa penurunan partisipasi ini terjadi di tengah pergerakan harga yang relatif dinamis. Situasi tersebut menunjukkan bahwa pergerakan harga Bitcoin saat ini tidak sepenuhnya didukung oleh aktivitas pengguna yang kuat di jaringan.
Bagi investor, kondisi ini menjadi sinyal penting bahwa pasar kripto sedang berada dalam fase transisi, bukan euforia seperti pada periode reli sebelumnya.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.
Ritel Pendorong Reli
Pergerakan harga Bitcoin tidak selalu mencerminkan kesehatan pasar secara keseluruhan. Harga bisa naik atau turun, tetapi jika jumlah wallet aktif menurun, maka pergerakan tersebut kemungkinan besar hanya didorong oleh segelintir pelaku pasar.
Dalam kondisi saat ini, aktivitas ritel yang selama ini menjadi pendorong utama reli kripto terlihat mulai mereda. Lebih sedikit pengguna yang melakukan transaksi, trading, atau memindahkan aset Bitcoin mereka.
Situasi ini memunculkan dugaan bahwa pasar saat ini lebih banyak digerakkan oleh investor institusi atau pemegang jangka panjang, bukan oleh partisipasi luas dari investor ritel.
Pendinginan aktivitas ini bisa menjadi jeda sementara sebelum muncul tren besar berikutnya. Namun, bisa juga menjadi tanda bahwa pasar sedang memasuki fase konsolidasi, di mana harga bergerak terbatas sembari menunggu katalis baru.
CryptoQuant menyebut, penurunan wallet aktif menjadi indikator penting bahwa energi pasar kripto saat ini tidak sekuat periode sebelumnya.
Trading Jangka Pendek
Bagi investor, fase perlambatan ini menghadirkan dua sisi yang berbeda. Di satu sisi, rendahnya aktivitas bisa berarti volatilitas yang lebih kecil dan peluang trading jangka pendek yang berkurang. Namun di sisi lain, kondisi ini juga bisa menjadi momen strategis untuk melakukan akumulasi atau meninjau kembali posisi investasi.
Dalam jangka panjang, fase pendinginan seperti ini dinilai alami dan sehat bagi perkembangan pasar kripto. Pasar membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri, baik dari sisi teknologi, regulasi, maupun strategi para pelaku industri.
Periode ini juga memberi ruang bagi inovasi dan penguatan fundamental, tanpa tekanan euforia harga yang berlebihan. Bagi investor jangka panjang, perlambatan pasar justru sering dipandang sebagai kesempatan untuk bersiap menghadapi pergerakan besar berikutnya.
Dengan kata lain, meski aktivitas Bitcoin menurun, fase ini belum tentu menjadi sinyal negatif, melainkan bagian dari siklus alami pasar kripto yang terus berkembang.