Liputan6.com, Beijing - Inisiatif Sabuk dan Jalan atau Belt and Road Initiative (BRI) yang diluncurkan China pada 2013 kembali mencatatkan peningkatan signifikan pada paruh pertama 2025.
Namun, seiring membesarnya skala proyek, dampak lingkungan dari program infrastruktur global tersebut kian menjadi sorotan, dikutip dari laman dailymirror, Kamis (18/12/2025).
Advertisement
Laporan terbaru menunjukkan keterlibatan BRI mencapai rekor tertinggi, dengan nilai kontrak konstruksi sebesar USD 66,2 miliar dan investasi USD 57,1 miliar dalam enam bulan pertama 2025. Dari total tersebut, sekitar USD 42 miliar dialokasikan untuk sektor energi, termasuk proyek minyak dan gas—dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Di sisi lain, China juga mengucurkan hampir USD 9,7 miliar untuk proyek energi hijau di bawah kerangka BRI. Namun, para pengamat menilai ekspansi besar-besaran di sektor bahan bakar fosil masih mendominasi, sehingga memunculkan pertanyaan tentang keseimbangan antara agenda pembangunan dan komitmen lingkungan yang digaungkan Beijing.
Sejumlah proyek BRI di negara-negara mitra dilaporkan berdampak pada lingkungan. Pembangunan bendungan, pipa energi, dan jaringan jalan berskala besar dikaitkan dengan deforestasi, erosi tanah, serta pencemaran air. Di beberapa kawasan Asia Tenggara dan Afrika, komunitas lokal dan organisasi lingkungan melaporkan kerusakan habitat yang dinilai penting bagi keanekaragaman hayati.
Isu keberlanjutan juga mencuat seiring peluncuran narasi BRI 2.0 yang dipromosikan sebagai inisiatif “hijau”. Pemerintah China menekankan pergeseran ke energi terbarukan dan praktik pembangunan berkelanjutan.
Namun, laporan lembaga pemantau internasional mencatat bahwa sementara pembangkit listrik tenaga batu bara mulai dikurangi di dalam negeri, proyek serupa masih dibangun di luar China melalui skema BRI. Industri padat emisi, seperti pabrik semen, juga tercatat dipindahkan ke negara mitra.
Ancaman pada Keanekaragaman Hayati
Ancaman terhadap keanekaragaman hayati turut menjadi perhatian. Sebuah studi pada 2020 memperingatkan bahwa proyek-proyek BRI berpotensi memperkenalkan lebih dari 800 spesies invasif ke negara-negara peserta, yang dapat mengganggu ekosistem lokal dan sektor pertanian. Risiko tersebut dinilai masih relevan seiring ekspansi proyek ke wilayah-wilayah yang sensitif secara ekologis.
Dimensi geopolitik turut mewarnai isu lingkungan BRI. Di Bhutan, misalnya, klaim China atas wilayah Suaka Margasatwa Sakteng sebagai area sengketa dilaporkan berdampak pada tertundanya akses pendanaan internasional untuk konservasi. Kasus ini menunjukkan bagaimana persoalan lingkungan dapat beririsan dengan dinamika politik dan sengketa teritorial.
Para analis menilai negara-negara penerima proyek BRI kerap menghadapi keterbatasan kapasitas regulasi untuk menegakkan standar lingkungan.
Beban Utang
Selain itu, beban utang dari proyek infrastruktur besar dinilai dapat mengurangi ruang fiskal untuk berinvestasi pada alternatif pembangunan yang lebih berkelanjutan.
Dalam beberapa bulan terakhir, pengawasan internasional terhadap dampak lingkungan BRI semakin meningkat. Sejumlah laporan menyimpulkan bahwa meski investasi energi terbarukan China bertambah, skala pendanaan untuk proyek berbasis bahan bakar fosil masih jauh lebih besar.
Kondisi tersebut menempatkan BRI di tengah perdebatan global mengenai pembangunan dan perubahan iklim. Ketika dunia menghadapi tenggat waktu krusial untuk menekan emisi, kesenjangan antara retorika hijau dan praktik di lapangan dinilai akan terus menjadi ujian bagi kredibilitas dan keberlanjutan Inisiatif Sabuk dan Jalan.