Citi Prediksi Indeks S&P 500 Berpotensi ke 7.700 pada 2026

Citi optimistis dalam skenario bullish, indeks S&P 500 berpeluang ke 8.300.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 16 Desember 2025, 06:00 WIB
Suasana di wall street saat konferensi pers the Fed soal suku bunga pada Desember 2025. (Foto:AP/Seth Wenig)

Liputan6.com, Jakarta - Citigroup memprediksi indeks S&P 500 berpotensi sentuh 7.700 pada 2026. Citigroup menargetkan indeks S&P 500 itu mengacu pada laba perusahaan yang kuat dan dorongan berkelanjutan dari investasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Mengutip Yahoo Finance, ditulis Selasa (15/12/2025), Citigroup mengatakan, pembangunan infrastruktur AI akan menjadi tema utama pada 2026. Hal ini menggemakan pandangan di wall street. Namun, Citi juga memprediksi fokus akan bergeser dari perusahaan yang memungkinkan AI ke perusahaan yang mengadopsi teknologi yang masih baru ini.

"Meskipun penekanan pada AI diperkirakan akan terus berlanjut, evolusi kemungkinan akan mengikuti dinamika pemenang versus pecundang," kata analis di Citi.

Target Citi menyiratkan kenaikan 12,7% dari penutupan terakhir indeks acuan sebesar 6.827,41 poin. Perusahaan pialang memperkirakan laba per saham untuk indeks tersebut akan mencapai USD 320 pada akhir tahun depan, lebih tinggi dari perkiraan konsensus sekitar USD 310.

Indeks yang banyak dipantau ini telah naik sekitar 16% tahun ini, didorong secara luas oleh optimisme investor seputar AI, laba perusahaan yang kuat, dan ekspektasi penurunan suku bunga, meskipun ada kekhawatiran akan gelembung pasar dan valuasi teknologi yang tinggi.

"Untuk memperjelas, titik awal valuasi yang tinggi merupakan hambatan bagi pasar, tetapi bukan hambatan yang tidak dapat diatasi. Sebaliknya, hal itu memberikan tekanan yang semakin besar pada fundamental untuk mendukung pergerakan harga," kata Citi.

Saat pasar bullish saat ini memasuki tahun keempatnya, gejolak volatilitas harus diantisipasi dan mungkin lebih akut mengingat ekspektasi pertumbuhan implisit, tambah perusahaan pialang tersebut.

Citi memperkirakan indeks akan mencapai 8.300 dalam skenario bullish, dan turun menjadi 5.700 dalam skenario bearish.

Target indeks akhir tahun dari perusahaan pialang tersebut dibandingkan dengan perkiraan tertinggi dari Oppenheimer Asset Management di pasar saham sebesar 8.100 dan jajak pendapat Reuters pada November yang memperkirakan indeks akan naik sekitar 12% pada akhir tahun depan.

Pada November, UBS Global Wealth Management juga memperkirakan target akhir tahun sebesar 7.700 untuk indeks tersebut.

Penutupan Wall Street pada 12 Desember 2025

Ilustrasi wall street (Photo by Patrick Weissenberger on Unsplash)

Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street melemah pada perdagangan saham Jumat, 12 Desember 2025. Koreksi wall street terjadi seiring investor terus keluar dari saham teknologi dan beralih ke sektor-sektor bernilai di pasar.

Mengutip CNBC,  Sabtu (13/12/2025), indeks S&P 500 melemah 1,07% dan berakhir ke posisi 6.827,41. Indeks Nasdaq terpangkas 1,69% menjadi 23.195,17. Indeks Dow Jones merosot 245,96 poin atau 0,51% menjadi 48.458,05 setelah mencetak rekor tertinggi intraday baru pada awal sesi perdaganagn.

Indeks Russell 2000 susut 1,51% menjadi 2.551,46. Namun, indeks saham sempat mencapai rekor tertinggi baru selama perdagangan saham.

Selama sepekan, indeks S&P 500 dan Nasdaq membukukan koreksi terbesar. Indeks S&P 500 susut 0,6% dan indeks Nasdaq melemah 1,6%. Akan tetapi, indeks Dow Jones naik 1,1% dalam sepekan.

Sementara itu, perusahaan-perusahaan berkapitalisasi kecil mengungguli perusahaan-perusahaan berkapitalisasi besar, dengan indeks Russell 2000 naik 1,2% minggu ini setelah mencetak rekor tertinggi baru sepanjang masa dan penutupan perdagangan pada Kamis.

 

Indeks Nasdaq Melemah

Pedagang bekerja di New York Stock Exchange, New York, 10 Agustus 2022. (AP Photo/Seth Wenig, file)

Adapun indeks saham Nasdaq melemah seiring saham Broadcom yang terpangkas lebih dari 11%. Analis menilai koreksi saham Broadcom didorong kekhawatiran tekanan margin. Hal itu terjadi bahkan setelah perseroan melampaui harapan kuartal keempat dan memberikan perkiraan yang kuat untuk kuartal saat ini. Perseroan menyatakan, penjualan chip kecerdasan buatan akan berlipat ganda.

Saat perdagangan, saham terkait kecerdasan buatan atau artificial intelligence menghadapi lebih banyak tekanan. Saham AMD, Palantir Technologies dan Micron mengalami sejumlah koreksi bersama Broadcom. Sektor saham lain yakni sektor keuangan, perawatan kesehatan dan industri menerima sedikit dorong. Di sektor-sektor tersebut, saham Visa, Mastercard, UnitedHealth Group, dan GE Aerospace menjadi pemenang.

“Hari ini adalah hari di mana saham bernilai mengungguli saham pertumbuhan atau growth stock,” ujar Portfolio Manager Argent Capital Management, Jed Ellerbroek dikutip dari CNBC.

“Investor jelas waspada terkait AI, bukan pesimistis secara langsung, tetapi lebih berhati-hati, gugup dan ragu-ragu,” ia menambahkan.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya