PM Thailand Bantah Klaim Trump soal Gencatan Senjata dengan Kamboja

Thailand menyatakan tidak pernah menyetujui gencatan senjata, sementara Kamboja belum memberikan komentar atas klaim Trump.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 13 Desember 2025, 21:00 WIB
Pemimpin Partai Bhumjaithai, Anutin Charnvirakul, menunjukkan MoU yang telah ditandatangani antara partai-partai koalisinya dan Partai Rakyat di Parlemen, Bangkok, Thailand, Rabu (3/9/2025). (Dok. AP/Sakchai Lalit)   

Liputan6.com, Bangkok - Perdana Menteri sekaligus Menteri Dalam Negeri Thailand Anutin Charnvirakul pada hari Sabtu (13/12/2025) melakukan perjalanan untuk memimpin upacara kremasi kerajaan bagi para prajurit Thailand yang tewas dalam bentrokan antara Thailand dan Kamboja di Distrik Nong Phok, Roi Et.

Sebelum keberangkatannya, para wartawan menanyakan apakah dalam panggilan teleponnya pada Jumat (12/12/2025) dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terdapat kesepakatan mengenai kembali pada komitmen gencatan senjata.

Anutin seperti dilansir The Nation menjawab, "Kami tidak membahas hal tersebut dan tidak ada kesepakatan apa pun. Percakapan itu hanya berupa saling memberikan pembaruan situasi. Saya kembali menegaskan bahwa dalam konflik antara kedua negara, masing-masing pihak harus bertindak untuk membela diri. Thailand sendiri wajib sepenuhnya melindungi kedaulatannya serta rakyatnya."

Ketika ditanya apakah ini berarti Kamboja harus memahami bahwa Thailand tidak akan melakukan gencatan senjata, Anutin mengatakan, "Beliau tidak mengatakan apa pun tentang apakah kami harus berhenti atau tidak berhenti menembak."

Ketika ditekan lebih jauh apakah Thailand telah memberi tahu Trump bahwa Thailand tidak akan melakukan gencatan senjata, Anutin menjawab, "Kami tidak mengatakan itu. Kami hanya menjalankan tugas kami."

Para wartawan kemudian menanyakan apakah Thailand sebaiknya mengabaikan unggahan media sosial Presiden Trump mengenai hal tersebut. Anutin menjawab, "Kami tidak ingin berbicara dengan cara seperti itu. Dalam hubungan internasional, kita harus menunjukkan rasa hormat kepada semua sahabat kita. Tidak perlu berbalas argumen. Kami bertindak sesuai dengan apa yang kami anggap tepat untuk situasinya."

Menanggapi pertanyaan apakah unggahan Trump—yang menyatakan Thailand dan Kamboja akan melakukan gencatan senjata—membuat Thailand berada dalam posisi sulit, padahal tidak ada kesepakatan seperti itu, Anutin balik bertanya, "Jadi, apakah bisa dikatakan sudah ada gencatan senjata? Pagi ini Kamboja menembakkan senjata berat ke arah kami, ke wilayah yang bukan sasaran militer. Mereka menembakkan roket BM-21 ke area permukiman tempat rakyat kami tinggal, hingga menyebabkan luka parah dan hilangnya anggota tubuh."

Ia kemudian melanjutkan, "Jadi saat ini, haruskah Thailand mendengarkan siapa pun? Jika kita terus mengikuti pendapat sana-sini, apakah kita masih punya waktu untuk melindungi kedaulatan kita dan menjaga keselamatan rakyat?"

Ketika ditanya bagaimana Thailand menanggapi saran Trump bahwa Thailand telah bereaksi terlalu keras terhadap Kamboja, Anutin terdiam sejenak sebelum berkata, "Sudah berapa kaki yang hilang? Berapa banyak korban? Itu pertanyaan yang seharusnya kita ajukan—pertanyaan yang muncul dari perspektif orang Thailand, bukan dari orang yang melihat dari luar."

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya